Tren Asuransi Digital, Begini Cara Cegah Pencurian Data Pribadi

Advertorial - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 00:00 WIB
adv allianz3
Foto: Shutterstock
Jakarta - Pandemi COVID-19 telah mendorong transformasi digital di Indonesia. Hal ini dilihat dari perubahan perilaku masyarakat yang sudah beralih dari offline ke online, mulai dari pertemuan secara daring serta pembayaran non-tunai.

Masyarakat pun semakin terbiasa dengan berbagai kemudahan serta langkah-langkah yang praktis. Namun ternyata transformasi digital telah dirasakan bahkan sebelum pandemi Corona melanda. Hal ini terlihat dari masifnya penggunaan online travel agent, online shopping, online transaction, sarana remote working, hiburan, dan sebagainya.

Transformasi digital tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga wilayah Asia Tenggara. Seperti diketahui, Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar dan tercepat di dunia, dengan total transaksi daring yang diprediksi mencapai USD 10 miliar sepanjang 2020.

"Masyarakat Indonesia memang sudah mengarah ke transformasi digital dan dengan adanya pandemi COVID-19 justru semakin mengakselerasi pertumbuhannya. Namun, meskipun pertumbuhan digital di Indonesia semakin melesat, berdasarkan yang saya analisa masih banyak orang yang terjun ke bisnis digital tanpa betul-betul memahami konsep digital itu sendiri, sehingga tidak sedikit pula yang terjerat perang harga lewat digital," ungkap Founder dan CEO Tribelio, Denny Santoso dalam keterangan tertulis.

Menurut Denny, bisnis digital sudah mengalami evolusi yang cukup besar.

"Saat ini, dunia digital sudah memasuki era purposeful brand, di mana untuk dapat bersaing sehat secara digital, setiap merek atau bisnis harus membangun komunitas yang memiliki tujuan atau misi yang bermanfaat, atau yang dikenal dengan tribe," ujarnya.

"Tribe adalah istilah bagi kumpulan orang yang memiliki loyalitas tinggi terhadap tujuan yang sama. Maka dari itu, saya membangun Tribelio, sebuah platform digital yang dapat memudahkan para leaders, brand atau bisnis untuk mengumpulkan orang-orang tersebut dan menjalin hubungan lebih dalam dengan mereka sehingga tujuan dan misi nya dapat terlaksana dengan baik," tambah Denny.

Selain itu, bisnis digital juga menawarkan beragam kemudahan yang dapat dimanfaatkan baik oleh penjual maupun pembeli. Kemudahan digital ini dimanfaatkan oleh beragam jenis bisnis dan industri, seperti asuransi. Adanya digitalisasi dalam layanan asuransi dinilai dapat memangkas proses-proses rumit sehingga mempercepat layanan.

Allianz Indonesia telah mengedepankan digitalisasi, mulai tahap awal sejak nasabah bergabung hingga melakukan klaim untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang memberikan kemudahan serta pelayanan yang berkesan.

Hal ini salah satunya diwujudkan melalui layanan Allianz eAZy Connect yang memudahkan nasabah untuk terkoneksi dengan layanan digital Allianz. Dengan begitu diharapkan dapat membantu penetrasi asuransi di Indonesia, yang masih menjadi salah satu negara dengan tingkat penetrasi asuransi terendah di dunia.

Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal (JKPM), Arif Baharudin mengungkapkan terdapat beberapa hal yang diindikasikan sebagai faktor penghambat perkembangan sektor asuransi di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah masih rendahnya literasi keuangan serta ketimpangan akses pada jasa keuangan. Oleh karena itu, digitalisasi asuransi disebut berperan penting dalam meningkatkan akses masyarakat pada sektor ini guna mendorong pertumbuhannya.

Berdasarkan survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada kuartal kedua tahun 2020 jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai 196,7 juta atau 73,7 persen dari total populasi. Fakta tersebut semakin memperkuat opini yang menyatakan digitalisasi asuransi dapat menjadi inovasi menarik pada sektor ini.

Kini, beberapa jenis produk asuransi yang sudah marak ditawarkan secara digital, antara lain asuransi mobil, asuransi rumah, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan asuransi perjalanan. Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan berbagai produk asuransi berbasis digital ini lewat bermacam platform, seperti marketplace C2C (customer-to-customer), B2C (business-to-customer), platform milik perusahaan asuransi serta platform digital lainnya yang dapat diakses menggunakan aplikasi mobile ataupun website.

Sementara itu, Riset Swiss Re Institute mencatat sebanyak 76 persen masyarakat Indonesia tertarik membeli produk asuransi digital. Adapun platform yang paling banyak dipilih untuk mendapatkan produk asuransi ini adalah e-commerce dan fintech.

Namun, kemudahan digital juga mengundang kekhawatiran akan keamanan, terutama dalam hal privasi data. Pada pertengahan 2020 dilaporkan ada sekitar 91 juta data pengguna yang diperjualbelikan melalui Dark Web seharga Rp 73,5 juta.

Hal ini membuat informasi seperti nama, alamat dan kontak dapat dibaca dengan sangat mudah. Kondisi ini tentu menjadi ancaman bagi pengguna, terutama bagi yang kerap melakukan transaksi vital secara online, termasuk membeli asuransi apabila tidak didukung oleh peraturan dan sistem yang menunjang.

Di sisi lain, sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber, Kaspersky, pada pertengahan 2020 mengungkapkan 40 persen konsumen dari Asia Pasifik menghadapi insiden kebocoran data pribadi yang diakses oleh orang lain tanpa persetujuan.

Data ini semakin diperkuat oleh keterangan dari Badan Siber dan Sandi Negara yang juga mengungkapkan sepanjang Januari hingga Agustus 2020 terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia. Angka ini meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perlindungan data pribadi pengguna tentunya menjadi salah satu perhatian utama bagi Allianz Indonesia. PT Asuransi Allianz Life Indonesia dan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia telah meraih Sertifikat ISO 27001:2013 yang menjadi penilaian standar internasional terhadap sistem tata kelola keamanan informasi dan perlindungan data.

"Kami memahami bahwa keamanan siber masih menjadi sebuah tantangan besar. Terlebih sejak terjadinya pandemi COVID-19, di mana masyarakat dipaksa melek digital dan bergantung pada teknologi digital hingga berujung pada meningkatnya kejahatan siber. Dengan memiliki sertifikasi ISO 27001 menunjukkan bahwa kami telah melakukan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi informasi nasabah, mengelola risiko keamanan informasi dari ancaman siber serta mencapai kepatuhan perlindungan informasi nasabah," ungkap Chief Digital Officer Allianz Life Indonesia, Mike Sutton.

Nasabah merupakan fokus utama bagi Allianz sehingga upaya membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan di era digitalisasi asuransi akan terus dilakukan. Berikut beberapa tips agar aman dari pencurian data pribadi secara online oleh Mike:

1. Jangan Sembarang Menerima Permintaan Pertemanan di Media Sosial

Alangkah baiknya Anda menggunakan fitur private pada akun media sosial Anda. Dengan begitu, Anda dapat mengecek terlebih dahulu setiap orang yang ingin terkoneksi dengan Anda. Terlalu banyak memberikan informasi pribadi di laman profil juga sangat tidak disarankan guna mencegah penipu mengakses informasi personal.

2. Jangan Sembarang Klik Tautan Mencurigakan

Jika menerima pesan yang tampak mencurigakan, sebisa mungkin jangan klik tautan apapun atau membuka lampiran dalam pesan tersebut. Peretas mungkin mencuri data Anda melalui tautan tersebut.

3. Jangan Gunakan Password yang Mudah Ditebak

Biasanya platform online menganjurkan pengguna untuk menggunakan password yang terdiri dari kombinasi huruf, angka, huruf kapital serta simbol untuk meminimalisir password dapat ditebak dengan mudah. Selain memilih password yang tidak terlalu mudah, jangan lupa untuk mengganti password secara berkala.

4. Pastikan Keamanan Jaringan yang Digunakan

Terkadang masyarakat terlena dengan tersedianya jaringan Wi-Fi publik. Padahal, memakai jaringan Wi-Fi publik tidak selalu aman karena sangat rentan disusupi hacker jahat yang mencuri data pribadi. Sangat disarankan untuk tidak menggunakan Wi-Fi publik terutama saat melakukan transaksi pembayaran atau membuka akun bank. Dan pastikan log out setelah pemakaian

5. Selalu Perhatikan Keamanan Situs

Pastikan situs yang Anda kunjungi dimulai dengan alamat https:// untuk menjamin keamanan situs. Pertukaran data dalam situs HTTPS terjaga dari pengubahan dan pencurian.

6. Manfaatkan Penggunaan Notifikasi Login

Notifikasi login berguna untuk menginformasikan jika ada pihak tak dikenal yang berusaha masuk ke akun Anda. Notifikasi ini biasanya akan dikirimkan melalui e-mail/sms dengan menerangkan jenis gadget, lokasi dan waktu terjadinya login.

7. Aktifkan Otentikasi Dua Langkah

Otentikasi dua langkah merupakan langkah verifikasi tambahan untuk masuk ke dalam akun. Salah satu otentikasi dua langkah yang paling sering digunakan adalah kode OTP yang dikirim melalui SMS atau telepon. Jangan memberikan PIN ataupun kode OTP ini kepada siapapun.

8. Jangan Simpan Data Kartu Kredit di Website/ E-commerce yang Tidak Kredibel

Jangan asal mendaftarkan kartu kredit untuk pembayaran di e-commerce atau online shop , sebaiknya pastikan terlebih dahulu kredibilitasnya. Hal ini agar terhindar dari pembobolan kartu kredit. Jangan lupa untuk segera menghapus data kartu kredit seperti seperti nomor kartu kredit, nama lengkap, nomor CVV usai melakukan transaksi.

(adv/adv)