Kemlu Ungkap Capaian Diplomasi RI 2020, Apa Saja?

Advertorial - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 00:00 WIB
adv kemenlu
Pernyataan Pers Tahunan Menteri (PPTM) Luar Negeri 2021(Foto: Dok. Erika Dyah)
Jakarta - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan berbagai capaian yang telah dilakukan oleh Kemlu selama periode 2020 pada webinar Pernyataan Pers Tahunan Menteri (PPTM) Luar Negeri 2021.

Dalam acara yang diikuti 35 Perguruan Tinggi ini, Retno mengatakan Indonesia mengalami tahun yang berat akibat adanya pandemi namun Kemlu berupaya melakukan langkah prioritas serta terus menuntut berjalannya diplomasi dengan menerapkan 3A, yaitu Antisipatif, Adaptif, dan Agile.

Di sepanjang 2020, Kemlu mengklaim telah berhasil melakukan sejumlah upaya mendukung pelindungan WNI yang menjadi fokus utama diplomasi Indonesia. Kemlu membuktikan upaya tersebut salah satunya melalui pelindungan ABK dalam pembentukan roadmap ratifikasi ILO C-188 Work in Fishing Convention.

"Sistem pelindungan untuk ABK dari hulu hingga hilir akan ditingkatkan," tegas Retno dalam acara tersebut, Rabu (6/1/2021).

Selain itu dia menjelaskan, upaya diplomasi yang telah dilakukan di masa pandemi ini mencakup kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional dengan mengupayakan ketersediaan alat kesehatan hingga vaksin, pemulihan ekonomi di masa pandemi, serta pembangunan hijau/berkelanjutan.

Tak ketinggalan, Kemlu juga merinci kontribusi yang telah dilakukan di tahun 2020 untuk memajukan berbagai isu kawasan dan dunia serta kedaulatan dan integritas wilayah. Dalam rangka kemanusiaan, pihaknya menjabarkan di tahun 2020 Indonesia telah berkontribusi dalam melakukan diplomasi pada berbagai negara terdampak konflik.

"Indonesia terus memperkokoh karakter dan kepemimpinannya dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan untuk menghindari korban sipil di wilayah konflik, mengedepankan peran sebagai bridge builder, dan memegang teguh inklusivitas dan transparansi," tambah Retno.

Berdasar prinsip tersebut, Kemlu mengungkap Indonesia telah menunjukkan konsistensi untuk menjalankan prinsip-prinsip hukum internasional. Di antaranya dalam isu Palestina, Afganistan, juga Myanmar khususnya pada kasus Rohingya.

Adapun Retno menginformasikan, upaya Indonesia dalam menjaga kesatuan dan perdamaian dunia telah meraih pencapaian yang membanggakan. Indonesia menempati urutan delapan teratas sebagai penyumbang peacekeepers terbesar di dunia dengan total jumlah mencapai 2828.

Lebih lanjut, 163 di antara 2828 peacekeepers tersebut adalah perempuan yang bertugas di delapan misi PBB. Kemlu mendukung fokus peran perempuan dalam menjaga perdamaian dunia dengan turut memprakarsai Resolusi 2538 mengenai Women In Peacekeeping yang juga didukung oleh 97 negara.

"Ini menjadi resolusi pertama dewan keamanan PBB yang secara khusus membahas peran perempuan dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia," jelas Retno.

Dia menyatakan isu perempuan terus diarusutamakan dalam upaya diplomasi Indonesia di sepanjang 2020. Upaya tersebut termasuk pada langkah yang dilakukan Indonesia bersama Australia di pada sesi Dewan HAM PBB September 2020, untuk menginisiasi Joint Statement on Family Violence.

Dalam langkah ini, dia merinci diplomasi yang dilakukannya turut bergerak melalui penguatan peran perempuan dalam mitigasi pandemi dan pemulihan ekonomi. Salah satunya dengan pembentukan Afganistan-Indonesia Women Solidarity Network, serta pembentukan Southeast Asian Network on Women Peace Negotiator and Mediators.

Selain mengungkap pencapaian, Retno menilai di 2021 nanti akan ada beberapa isu yang menjadi perhatian dunia di antaranya isu demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Tak hanya itu, Kemlu melihat adanya pengaruh digitalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi kedepannya.

"Di saat yang sama, digitalisasi juga memberikan tantangan kejahatan siber yang semakin meningkat dan peluang information infrastructure breakdown," pungkas Retno.

Gelaran PPTM 2021 dirangkai pula dengan pemberian penghargaan Adam Malik Awards (AMA) dan Social Media Awards (SMA).

Adam Malik Awards menjadi ajang penghargaan yang dilakukan Kemlu sejak 2002 silam. Melalui ajang penghargaan ini, Kemlu memberikan apresiasi kepada insan media yang dinilai turut aktif berkontribusi pada masyarakat Indonesia, baik melalui artikel, liputan, serta berbagai tayangan informatif mengenai pelaksanaan diplomasi dan pengembangan kerja sama luar negeri antara Indonesia dengan berbagai negara maupun organisasi internasional lain.

Kemlu membagi penghargaan ini ke dalam enam kategori, di antaranya Media Cetak Terbaik, Media Online Terbaik, Media TV Terbaik, Media Radio Terbaik, Jurnalis Media Cetak Terbaik, serta Jurnalis Media Online Terbaik. (adv/adv)