Bos Sido Muncul Ajak Akademisi Gali Potensi Obat Herbal Nusantara

Bos Sido Muncul Ajak Akademisi Gali Potensi Obat Herbal Nusantara

Advertorial - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 00:00 WIB
adv sidomuncul
Foto: Dok. Sido Muncul
Jakarta - Obat herbal tradisional di Tanah Air memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat berkembang dengan lebih baik. Banyaknya peluang yang masih belum digali menjadi hal yang sangat disayangkan.

Bahan baku pembuatan obat herbal yaitu tanaman asli Indonesia, masih ada yang belum diteliti lebih dalam dari segi khasiatnya. Warisan leluhur itu pun mestinya bisa diolah, sehingga bermanfaat untuk bangsa.

Atas dasar itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Semarang menggelar webinar yang bertajuk 'Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Herbal Menuju Indonesia Sehat'. Seminar ke-47 kali ini bertujuan untuk mengajak para akademisi terutama para dokter dan farmasis agar berperan aktif dalam penelitian tanaman obat di Indonesia.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan untuk memajukan obat herbal tradisional tergantung kepada tiga hal penting. "Tergantung dari mana? Pertama dari regulasi pemerintah, terus yang kedua dari pengusaha, dan ketiga dari partisipan kalangan akademisi. Jika ingin berhasil memanfaatkan tanaman obat, maka kita harus berani melakukan hal-hal baru, tapi tidak melanggar peraturan, etika profesi, dan moral," ujar Irwan kepada detikcom setelah mengikuti acara Webinar di channel YouTube IDI Kota Semarang.

Menurut Irwan, dari sisi pemerintah sebenarnya memiliki peran bagaimana mencari peluang membuat regulasi sehingga tidak melanggar aturan dunia. Ia pun merasa pemerintah sudah cukup membuat banyak peluang tersebut.

"Kan sudah ada Permenkes RI 003 Tahun 2010 tentang saintifikasi jamu. Kalau pemerintah sebenarnya sudah memberikan peluang-peluang di undang-undang. Kalau ada yang kurang, kami sebagai industri akan memberikan masukan-masukan," ungkapnya.

adv sidomunculTangkapan Layar Webinar - Dok. Reyhan Diandri/detikcom

Kemudian dari sisi pengusaha, Irwan mengungkapkan Sido Muncul sebagai pembuat obat herbal terbesar di Tanah Air, melakukan inisiatif dengan cara kreatif untuk mendorong perkembangan obat herbal dalam hal pengujian keamanan.

"Sebagai pengusaha, saya ingin menjelaskan apa yang sudah dilakukan, yakni 'masuk di celah-celah peraturan, tapi tidak melanggar peraturan'. Itu 15 tahun yang lalu tidak ada jamu yang dilakukan uji toksisitas tapi saya ngelakuin itu. Ini kan namanya tidak melanggar peraturan toh," ujarnya.

"Jadi melakukan sesuatu yang baik, yang bisa membangun kepercayaan mengamankan dan membuat produk yang aman dengan uji toksisitas," imbuhnya.

Irwan mengatakan sebenarnya uji toksisitas tidak diperlukan untuk produk ramuan jamu karena tidak termasuk dalam aturan. Namun atas inisiatifnya, Irwan melakukan uji toksisitas di tahun 2002 oleh Apt. Ipang Djunarko, M.Sc dan dilanjutkan dengan terobosan lainnya di tahun 2007 yaitu uji khasiat oleh Prof. dr. Edi Dharmana, M.Sc., PhD., Sp.Park.

"Tolak angin itu adalah produk ramuan. Jadi aturannya ya tidak ada uji toksisitas tapi saya ngelakuin. Aturan itu harus dipatuhi tapi di celah-celah itu ada potensi. Kita harus masuk ke situ. Terus tahun 2007 kita uji khasiat, meningkatkan daya tahun tubuh untuk tidak masuk angin apa indikatornya? Sel T. Maka itu penelitian kita sel T," ungkap Irwan.

adv sidomunculTangkapan Layar Webinar - Dok. Reyhan Diandri/detikcom

Untuk segi produksi, Irwan mengatakan Sido Muncul adalah perusahaan jamu pertama yang memiliki pabrik berstandar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang kala itu dibangun tahun 1997.

Dari sisi partisipasi, Irwan terus mengimbau agar para akademisi dapat ikut lebih berperan aktif membantu memajukan obat herbal di Indonesia.

"Untuk mendorong partisipasi akademisi ya ini dengan webinar. Goal-nya untuk memberikan motivasi, untuk menjelaskan pabrik jamu itu seperti apa. Supaya kalangan dunia akademisi ikut berpartisipasi," ungkapnya.

Menurut Irwan, pandangan mengenai peneliti yang mengumumkan hasil penelitiannya itu perlu dikaji kembali. Masalahnya banyak perspektif yang mengatakan jika menceritakan hasil penelitian maka sama saja dengan endorse produk, misalnya seperti penelitian terhadap produk Tolak Angin yang meningkatkan sel T.

"Menurut hemat saya, jika seorang peneliti mengumumkan hasil penelitiannya itu sah dan harus dibedakan dengan yang bukan peneliti tetapi meng-endorse produk tertentu," ungkapnya.

Irwan mengungkapkan perlu adanya keterbukaan terhadap dunia kedokteran dan obat-obat alam yang saat ini masih dikungkung dengan aturan baku. Ia pun berharap agar pihak-pihak yang menjadi stakeholders dapat memiliki kreativitas, untuk bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia dengan maksimal.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang dr Elang Sumambar memberikan pernyataan mengenai pandangan peneliti yang menceritakan hasil penelitiannya. Ia pun tidak terlalu mempersalahkan hal tersebut, selama ada bukti evidence by based yang menunjukkan hasil dari apa yang diceritakan.

"Gak masalah. Kajian secara basic evidence by based sudah ada melalui penelitian seperti apa. Jadi Prof Edi Dharmana (peneliti Tolak Angin) sudah kelihatan ada hasilnya seperti itu meningkatkan limfosit T seperti itu kan," ujarnya.

"Ini kan benar-benar digarap secara profesional. Baik dari kajian ilmiahnya, kedua dari sertifikasi, bagaimana memproduksi, dan pengamanannya seperti apa," imbuhnya.

dr Elang pun mendukung kreativitas dari Sido Muncul yang terus mendorong kemajuan dari industri obat herbal di Tanah Air.

"Kalau ada seperti Sido Muncul seperti ini saya backup sekali dan saya senang sekali. Kita lihat tadi sarana labnya saja begitu modern dan terstandar. Inilah yang saya harapkan bagaimana kita bisa membuat produk-produk dengan bahan-bahan dari Indonesia sendiri yang bisa dimanfaatkan," pungkasnya. (adv/adv)