Listrik 24 Jam Jadi Asa Baru Pendidikan di Perbatasan

Advertorial - detikNews
Kamis, 21 Nov 2019 00:00 WIB
Siswa SDN 009 Buru (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)
Siswa SDN 009 Buru (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)
Jakarta -

Masyarakat Pulau Buru, Karimun baru merasakan nyala listrik 24 jam sejak bulan April tahun 2019 ini. Sejatinya, perubahan listrik dari 14 jam ke 24 jam ini memberikan asa baru bagi nyala pendidikan di daerah perbatasan Indonesia.

Yu Hermansyah tinggal di Pulau Buru sejak tahun 1984 dan menjadi kepala sekolah SDN 009 Buru sejak tahun 2006. Saat ditemui tim detikcom beberapa waktu lalu, ia baru seminggu melepas jabatan yang diembannya tersebut dan berpindah ke bagian tata usaha sekolah sambil terus mengajar di tempat yang sama.

Ia mengatakan SDN 09 Buru berdiri sejak tahun 1993 yang awalnya bernama SDN 050. Lalu sekolah ini berubah nama dan merupakan gabungan dari pecahan dari SDN 001 Buru karena menyesuaikan nomenklatur sekolah yang berlaku berdasarkan kecamatan.

Pulau Buru bersama Pulau Papan masuk dalam Kecamatan Buru, Karimun, Kepulauan Riau. Kecamatan yang berada di dekat perbatasan Singapura dan Malaysia ini hanya memiliki 4 SD, 2 SMP, dan 1 SMA.

"Saat ini, jumlah siswa 100 orang, betul-betul seimbang. 50 laki dan 50 perempuan. Jumlah guru dan tenaga kependidikan beserta stafnya 12 orang. Juga seimbang, 6 laki-laki dan 6 perempuan," ujar Hermansyah.

Listrik 24 Jam Jadi Asa Baru Pendidikan di Perbatasan

Nyala listrik mendukung prestasi siswa sekolah di perbatasan (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)

Ia mengingat-ingat masuknya listrik ke Pulau Buru sebenarnya sejak tahun 90-an. Namun, listrik tersebut hanya nyala selama 14 jam. Skema nyala dan matinya pun berubah-ubah. Pertama, nyala dari jam 5 sore sampai jam 6 pagi.

Setelah berjalan sekian tahun, kata Hermansyah, skemanya berubah dari jam 5 sore hingga jam 7 pagi. Sekitar 4 hingga 5 tahun ke belakang, skemanya berubah lagi karena ada penambahan daya, yaitu dari jam 5 sore hingga jam 2 siang.

"Sejak April 2019 ini, Alhamdulillah PLN sudah beroperasi 24 jam sampai sekarang ini. Dengan adanya listrik 24 jam sangat besar pengaruhnya, terutama di bidang administrasi. Apalagi zaman sekarang, misalnya kita dituntut diminta data sekolah dari pusat itu secara online," ujar Hermansyah.

"Sebelumnya sangat sulit (untuk kerja siang), kami harus mencari yang ada sumber listriknya misalnya yang pakai genset. Kadang-kadang pas asik kerja, tahu-tahu bahan bakar habis sehingga file tidak tersimpan," imbuhnya.

Tak terkecuali buat proses belajar mengajar. Hermansyah mengatakan, kini, ia dan guru-guru lainnya bisa menggunakan alat-alat elektronik yang menunjang proses mengajar siswa di siang hari.

"Kalau hanya dengan bicara, siswa tidak melihat sendiri, kita macam mana kan. Mendengar cerita dari guru tapi tidak melihat proses cara kerjanya gimana? Adanya penjelasan visual dan video dengan infocus, anak-anak cepat mengerti," ujar Hermansyah.

"Jadi anak melihat langsung cara kerja, daya tangkapnya lebih cepat dibanding mendengar yang bikin mengambang," imbuhnya.

Sejak diberlakukan nyala 24 jam ini, Hermansyah berharap dapat meningkatkan proses belajar mengajar di SDN Buru 003, terutama untuk meraih prestasi. Meskipun begitu, ia juga berharap bantuan dari pemerintah untuk penambahan mobiler dan fasilitas penunjang lainnya.

"Semoga pemerintah semakin memperhatikan kebutuhan sekolah. Sekolah kami, kalau dilihat fisik memang bagus, tapi mobiler sangat kurang. Kami berkali-kali meminta tambahan mobiler, namun sampai saat ini realisasinya nol," ujarnya.

"Memang kelengkapan sekolah ini minim, misalnya peralatan olahraga yang dibutuhkan. Rekan guru kadang buat sendiri, dimodifikasi, bantuan pemerintah sulit, lambat. Jadi mau tak mau modifikasi, kadang-kadang beli sendiri," pungkas Hermansyah.

Menurut Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah, perubahan pola jam operasi listrik ini merupakan hasil peran aktif koordinasi pihaknya dan pemerintah setempat. Sebelumnya, pihaknya juga telah melakukan survei, baik dari potensi daerah maupun kemampuan mesin yang ada.

"Dengan kemampuan mesin yang ada, maka pada bulan April (pola operasi listrik di Pulau Buru) jadi 24 jam. Semoga jadi motivasi (masyarakat) di Buru. Adanya sekolah-sekolah yang mengharapkan banyak bantuan jam operasional, kita juga supporting di proses belajar mengajar," ucap Dwi.

Ia juga mengatakan lewat program 35 MW yang dicanangkan pemerintah, PLN terus menambah daerah jangkauan ke daerah terluar maupun meningkatkan kapasitas listrik.

"Sejak adanya program 35 MW dari Presiden Jokowi, di Pulau Buru ini mendapat tambahan mesin diesel dengan kapasitas 500 KWatt, ada 2 unit, di situ kita bisa menaikkan jam nyalanya," ujar Dwi.

"Dampaknya apa? Kebutuhan untuk belajar di sekolah-sekolah itu tadinya harus menghidupkan gensetnya untuk aktivitas di malam hari, kita tinggal nambah dayanya," imbuhnya.

Lewat listrik ini, Dwi mengatakan berharap sarana pendidikan yang ada di Pulau Buru tidak kalah dengan yang ada di pulau-pulau besar.

"Harapannya, listrik yang disediakan pemerintah ini dapat menunjang pendidikan, sehingga ke depan, tidak hanya taraf ekonominya saja yang meningkat, tetapi pendidikan untuk sekolah," ujar Dwi.

"Begitu juga kita lihat di budaya Melayu ini banyak yang setelah sekolah belajar itu langsung mengaji, biasanya mereka mengaji kapan saja. Sekarang itu kebutuhan bisa dipenuhi dengan sinar listrik yang disiapkan PLN," imbuhnya.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

(adv/adv)