Melawan Ombak hingga Petir Demi PLTU Tetap Terangi Perbatasan

Advertorial - detikNews
Kamis, 21 Nov 2019 00:00 WIB
PLTU Tanjung Sebatak (Foto: 20detik/Wirsad Hafiz)
PLTU Tanjung Sebatak (Foto: 20detik/Wirsad Hafiz)
Jakarta - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Sebatak menjadi bukti penyediaan listrik untuk warga perbatasan tak mudah. Apalagi jika berada di daerah kepulauan yang mempunyai tantangan dari alam yang begitu tinggi.

Manager ULPLTU Tanjung Balai Karimun Delta Darlius menceritakan, pihaknya harus menghadapi petir hingga ombak untuk mempertahankan pembangkit yang ada di pesisir Pulau Karimunbesar ini agar tidak terjadi blackout alias mati listrik.

"Tantangan kita secara khusus, karena geografis, kemudian kandungan tanah lebih banyak bauksitnya. Pertama masalah alam, petir. Di sini berbeda dengan pulau-pulau lainnya, di sini petirnya sungguh luar biasa," ujar Delta saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

"Di awal-awal PLTU beroperasi di tahun 2013-2014 itu adalah menjadi momok bagi kita. Tapi kita tidak berdiam diri waktu itu. Alhamdulillah itu kita bisa atasi jika ada petir, kita bisa isolasi daerah yang terdampak saja, tidak sampai membawa pembangkit blackout. Itu tantangan pertama secara geografis karena itu hukum alam," jelasnya.

Tantangan kedua, kata Delta, ialah melawan ombak besar yang biasanya terjadi di akhir tahun. Ombak ini membawa lumpur dan tersedot sehingga mengganggu pipa inlet pendingin PLTU.

"Tetapi itu sudah bisa kita atasi juga. Kita monitoring rutin, pengawasan kita tingkatkan jadi sekali seminggu sekali, pembersihan filter-filternya," ujar Delta.

Melawan Ombak hingga Petir Demi PLTU Tetap Terangi Perbatasan

Para pekerja harus melawan petir dan ombak saat awal-awal operasi PLTU ini (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)

Tantangan selanjutnya, lanjut Delta, ialah keterlambatan material yang datang, terutama untuk pemeliharaan pembangkit. Pasalnya PLTU yang terletak di Tanjung Sebatak, TBK ini merupakan satu-satunya PLTU milik PLN yang berada di pulau terdepan Indonesia atau daerah perbatasan dengan negara lain.

Diketahui PLTU Tanjung Sebatak berada di sisi Selat Malaka yang berhadapan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Dari pelabuhan di Karimun dibutuhkan setidaknya 3 hingga 4 jam untuk sampai ke Singapura atau Malaysia.

"Tetapi sudah kita bisa atasi dengan perencanaan yang baik. Jadi sebelum pemeliharaan rutin, kita desain keberadaan material. Sehingga sebelum pemeliharaan, material sudah sampai di Tanjung Balai Karimun. Walaupun berada di tengah laut, bukan jadi problem bagi kita untuk melistriki Tanjung Balai Karimun," ujar Delta.

Lebih lanjut Delta menjelaskan PLTU yang dibangun tahun 2009 ini memiliki kapasitas 2 x 7 MW. Menariknya, pembangunan pembangkit ini dilakukan oleh putra-putri Indonesia, mulai dari basic dan detail design, hingga commissioning. Bahkan PLTU ini menjadi pembangkit pertama dengan bahan bakar batu bara low rank yang menerapkan TKDN sebesar 68%.

Melawan Ombak hingga Petir Demi PLTU Tetap Terangi Perbatasan

PLTU ini menjadi pembangkit pertama dengan bahan bakar batu bara low rank yang menerapkan TKDN sebesar 68% (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)

Selain itu, kata Delta, PLTU Tanjung Sebatak jadi pembangkit kedua milik PLN di Karimun setelah PLTD Bukit Carok. Kata Delta, produksi listrik PLN sudah mampu menutupi kebutuhan beban puncak penggunaan yang mencapai 26 MW, masih memiliki surplus listrik sekitar 10 MW.

Namun, di Karimun terdapat aturan zonasi wilayah usaha listrik yang diterbitkan Kementerian ESDM atas rekomendasi Pemda. Terdapat tiga zonasi wilayah industri di mana PLN berada di zonasi 3 dan sisanya diisi oleh pihak swasta yang saat ini pembangkitnya belum sama sekali nampak.

"Jika nanti zona satu dan dua itu tidak beroperasi, PLN siap untuk menerangi semua untuk Pulau Karimun," ujar Delta.

Delta berharap ada metode lain untuk mengantisipasi aturan zonasi ini agar PLN Tanjung Balai Karimun bisa menjual surplus listrik secara maksimal. Selain itu, untuk meningkatkan keandalan listrik, ia juga menyarankan inovasi lain dari PLN di daerah perbatasan ini.

"Supaya kelistrikan lebih andal, kita bisa punya pembangkit baru. Bisa juga pakai solusi lain supaya PLN bisa survive. Ada metode lain untuk meningkatkan keandalan misalnya. interkoneksi kabel laut," Pungkas Delta.

Sementara itu, menurut Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah, yang disebut wilayah usaha adalah batasan pemilik wilayah usaha itu bisa menyediakan pasokan listrik yang dikonsumsi atau dibutuhkan pada masyarakat.

Ia juga menjelaskan, pertumbuhan pelanggan PLN di Karimun mencapai sekitar dua ribu per tahun dengan peningkatan permintaan kapasitas 2 MW setiap tahunnya serta peningkatan konsumsi listrik dari 7 hingga 7,2%.

"Kita ketahui di Karimun sudah tumbuh, baik kawasan bisnis, perumahan maupun perhotelan. Geliat ekonomi cukup tumbuh meningkat meskipun ini merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia maupun Singapura," ujar Dwi.

"Rencana kita ke depan juga akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) melalui anak perusahaan kita di Batam untuk meningkatkan ekonomi di kawasan Karimun. Namun kita tidak bisa masuk ke industri wilayah usaha itu, karena aturan yang berlaku," imbuhnya.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com! (adv/adv)