Siapa Sangka di Perbatasan RI-Malaysia Juga Ada Kafe Kekinian

Advertorial - detikNews
Selasa, 05 Nov 2019 00:00 WIB
Kafe Perbatasan di Long Midang (Foto: Johan Alamsyah/detikcom)
Jakarta - Sejak Agustus 2019, warga yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya Desa Long Midang, Krayan sudah bisa menikmati listrik. Penantian mereka selama puluhan tahun akhirnya terwujud.

Masuknya listrik di kawasan ini turut memberi dampak bagi kehidupan warga. Tak terkecuali Nosnaima (43). Jiwanya sebagai wirausaha langsung bergejolak.

Bermodalkan tanah warisan milik keluarga, Nosnaima langsung membuat kafe tepat di seberang Pos Batas Gabma Indonesia-Malaysia Long Midang, Krayan. Kepada tim detikcom, Nosnaima bercerita soal awal mula ia bisa membuat tempat 'nongkrong' bernama Cafe Perbatasan tersebut.

Sebelum membuka kafe di perbatasan, Nosnaima sudah memiliki warung di rumahnya. Namun, jaraknya yang membutuhkan akses masuk melewati gapura, para pembelinya pun hanya terbatas di warga desa saja.

"Dulu kan di rumah bawah ada usaha toko di Desa Ba'sikor. Memang warung usahanya. Sambilan juga jualan sembako. Dulu orang pos (TNI) suka ngambil kebutuhan sembako di rumah. Nah saat jalan ini jadi kita kepikiran buat bikin usaha di pinggir jalan ini," jelasnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Angan-angan Nosnaima untuk membangun kafe di pinggir jalan pelan-pelan menemukan titik terang. Pada 2018, pembangunan Jalan Trans Kalimantan digarap. Rutenya melewati Long Bawan hingga ke Long Midang. Kebetulan ia memiliki tanah keluarga di perlintasan Long Midang.

"Ini tanah warisan. Dulu gunung-gunung ini, pas ada proyek jalan ini. Ada saya bilang coba saya mau buat warung di sini," tuturnya.

Dalam proses membangun kafe di perbatasan ini, Nosnaima banyak mengalami rintangan. Sebelum ada listrik dari PLN, ia masih menggunakan solar sel serta genset untuk penerangan. Saat itu, ia harus berhemat bahan bakar untuk menyalakan genset di malam hari.

Barulah ketika listrik PLN masuk, Nosnaima mulai menata usahanya satu per satu. Dalam berbisnis, setiap pengeluaran adalah biaya modal. Begitupun untuk urusan listrik yang jadi pondasi usahanya selain barang-barang yang dijual itu sendiri.

Siapa Sangka di Perbatasan RI-Malaysia Juga Ada Kafe KekinianSensasi Nongkrong di Café Perbatasan (Foto: Johan Alamsyah/detikcom)

"Enggak ada pengeluaran kita beli solar. Dulu waktu belum ada listrik kalau pakai sampai jam 12 bisa pake solar 2-3 liter. Satu liternya sekarang sudah Rp 6.000 per liter. Sekarang pakai PLN bisa nonton televisi sampai jam 1 dan jam 2 malam," tuturnya.

Selain bisa digunakan untuk menonton televisi, ia juga menggunakan listrik untuk menyalakan sound system atau menyetel musik.

"Yang belum terlintas di kafe ini hanya musik-musik saja. Belum, ya karena musiknya masih sebatas musik biasa saja. Kami ingin ini bisa untuk karaoke juga. Tetapi kalau siang bagusnya setel musik itu dekat jalan adalah orang lewat jadi tahu," ujarnya.

Di samping itu, akses tetap menjadi isu utama dalam mengembangkan bisnis Nosnaima. Saat ini, ia masih memanfaatkan dua negara untuk berbelanja.

Barang-barang yang dijual di kafe dan warungnya pun campuran antara produk Indonesia dan Malaysia. Untuk itu, Nosnaima menggunakan dua mata uang dalam melakukan transaksi di cafe-nya.

Potensi Bisnis Menggiurkan

Adanya listrik dan pembangunan jalan di Long Midang Krayan memang membuka peradaban baru. Meski saat ini listrik baru masuk 2 ampere (450 watt) saja, namun Nosnaima berharap bisa ditambah. Dengan adanya penambahan daya, nantinya ia ingin bisa menjual makanan dan minuman yang lebih banyak lagi.

"Saya rencana kalau nanti ada penambahan ampere kita bisa stok daging dan buah-buahan. Jadi kan orang lihat, sudah bisa mampir. Bisa jualan lebih banyak lagi. Ini orang pos ada orang beli kasian dia harus ke Long Bawan dulu," tuturnya.

Ia juga sudah berencana akan membangun homestay atau penginapan. Hal ini seiring dengan rencana adanya pembangunan kawasan wisata ecotourism di Krayan yang sudah dirancang oleh pemerintah daerah.

Sebelumnya, ia juga sudah membangun homestay di dekat kediamannya. Harganya dipatok 20 ringgit untuk wisman dan Rp 60 ribu untuk turis lokal.

"Jadi kalau kayak gitu (dibangun ecotourism) bagus lah untuk penginapan. Coba kita punya modal banyak, jadi bisa kita bisa bikin penginapan yang lebih besar," tuturnya.

Camat Krayan Helmi Pudaaslikar menuturkan potensi-potensi ekonomi akan terus dikembangkan seiring dengan masuknya infrastruktur yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah.

"Kita sedang mendorong masyarakat untuk bisa mengidentifikasi termasuk untuk mengembangkan potensi-potensi lokal ke arah ekonomi," kata Helmi dalam kesempatan terpisah.

Harapannya, pada 2021 akan diselenggarakan event besar di Krayan yang disebut dengan Aco Lundayeh. Event itu merupakan hari besar yang diperingati oleh para orang Dayak Lundayeh di Krayan.

"Ini (event) yang kedua, sebelumnya di Malinau. Seluruh komunitas Dayak Lundayeh di seluruh dunia akan berkumpul. Komunitas besar kita di Krayan, Malinau, Malaysia dan Brunei. Ada beberapa kota lain di dunia," pungkasnya.

detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

(adv/adv)