Lenggak-lenggok Penari Pedalaman di Bawah Sinaran Lampu PLN

Advertorial - detikNews
Senin, 04 Nov 2019 00:00 WIB
Para Penari di Sanggar Busak Malay, Binusan Sei Fatimah Nunukan (Foto:Pradita Utama)
Jakarta -

Malam hari itu, sekitar belasan pelajar sekolah menengah atas di Desa Binusan Sei Fatimah Nunukan berkumpul di sanggar milik Asmadi (36). Para penari wanita dan pria sedang bersolek saat tim ekspedisi detikcom tiba.

Rupanya mereka hendak latihan menari di Sanggar Busak Malay untuk menyambut perayaan ulang tahun ke-20 Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sanggar ini merupakan sanggar tari Suku Tidung, Kalimantan.

Berbeda dengan suku Dayak, Tidung lebih mengarah ke Melayu. Ini dapat dilihat dari corak musik dan gerak tari para penari sanggar. Tidung sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi.

Pelatih dan Pengelola Sanggar Busak Malay Asmadi menuturkan tarian tradisional suku tidung adalah tari zapin. Namun, seiring berjalannya waktu ia mengkreasikan tari menjadi bermacam-macam.

"Tarian suku Tidung yang aslinya itu tari zapin tapi dikreasikan sesuai zaman supaya bisa diterima oleh masyarakat luas," kata Asmadi saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Untuk menyambut acara besar seperti peringatan ulang tahun kabupaten, anak-anak dari Sanggar Busak Malay akan menampilkan dua jenis tarian, di antaranya Tari Ambi dan Tari Liaban.

Lenggak-lenggok Penari Pedalaman di Bawah Sinaran Lampu PLNTari Ambi atau Tikar yang merupakan tari kreasi Suku Tidung, Nunukan (Foto:Pradita Utama/detikcom)

Asmadi menuturkan Tari Ambi artinya adalah tikar yang terbuat dari nipah yang dikeringkan lalu dianyam. "Tikar itu adalah hasil kerajinan tangan suku tidung khususnya Nunukan," ungkapnya.

Sementara Tari Liaban menceritakan tentang masyarakat Suku Tidung di Nunukan pada umumnya merupakan petani.

Sanggar yang sudah berumur 20 tahun ini terus berkembang. Asmadi sebagai angkatan pertama dari sanggar yang dicetuskan oleh tokoh adat ini mengaku sudah banyak perubahan yang terjadi. Mulai dari proses regenerasi hingga proses pelatihan.

"Kami membangun dari nol dan hasilnya seperti yang kita lihat tadi. Kami mau lebih lanjut supaya generasi muda bisa melakukan kegiatan yang lebih positif," tuturnya.

Dalam melakukan regenerasi, sanggar Busak Malay masuk lewat kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler di SMA/SMK Nunukan.

Menurutnya, saat ini semangat untuk belajar dan melestarikan budaya lewat tari di Nunukan masih cukup tinggi.

"Ada peningkatan dari awal sampai sekarang, dan generasi yang ikut sudah banyak," ujarnya.

Listrik Bantu Proses Latihan Menari

Selain berlatih menari, Sanggar Busak Malay juga menggunakan beragam alat musik seperti gambus, kolintang, organ tunggal, gitar listrik dan juga gong. Beberapa di antaranya memerlukan listrik sebagai support untuk pengeras suara.

Apalagi, mereka harus berlatih di malam hari. Malam hari dipilih karena latar belakang penari dan pemain musik di Sanggar Busak Malay berbeda-beda. Ada yang masih sekolah, kuliah juga bekerja. Sehingga tidak dimungkinkan untuk berlatih siang hari.

Lenggak-lenggok Penari Pedalaman di Bawah Sinaran Lampu PLNPemain Musik Sanggar Busak Malay (Foto: Pradita Utama/detikcom)

"Kita latihan malam jam 8-10. Kadang kalau ada kegiatan atau acara bisa sampai jam 12 malam, kata Azliansyah pemain kulintang.

Azli mengatakan sebelum ada tambahan daya listrik di Binusan, hanya ada satu lampu saja yang menemani anak-anak latihan. Selain menjadi remang, alat musik juga beroperasi seadanya saja.

Namun, setelah daya listrik ditambah suasana latihan menjadi lebih baik. Sudah ada banyak lampu yang menerangi latihan. Suara musik juga bisa disetel lewat sound system yang besar.

"Alhamdulillah kalau listrik sudah bisa kita manfaatkan sekarang, kalau dulu cuma satu lampu saja. Karena ada dua lampu baru jadi semakin terang, makin gampang," tuturnya.

detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!


(adv/adv)