Kisah Sharon, Anak Petani yang Punya Mimpi Jadi Dokter di Perbatasan

Advertorial - detikNews
Sabtu, 02 Nov 2019 00:00 WIB
Sharon Abigail, Siswa SDN 006 Long Midang Krayan (Foto: Syanti Mustika)
Jakarta - Tidak semua orang lahir dalam keadaan serba ada. Namun, semua orang punya kesempatan yang sama untuk merasakan bahagia. Seperti anak-anak di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Long Midang, Krayan.

Meski menjalani kehidupan dalam kondisi yang serba terbatas, namun mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan semua anak-anak Indonesia lainnya. Sharon Abigail (11) siswi kelas 5 SDN 006 Krayan adalah salah satu murid berprestasi di sekolahnya.

Gadis kecil berambut panjang ini adalah juara umum di SDN 006 Krayan. Dia adalah anak yang santun dan juga percaya diri. Kesan ini nampak saat pertama kali tim detikcom menjumpainya. Meski seorang juara umum, namun Sharon bukanlah tipe anak yang kutu buku.

Saat pelajaran di sekolah sedang berlangsung, Sharon menyimaknya dengan seksama. Ia paling suka belajar matematika. "Aku suka matematika karena senang hitung-hitungan kak," ungkapnya.

Anak yang bercita-cita sebagai dokter ini memang terkenal paling cepat menangkap pelajaran matematika. Sharon mungkin salah satu anak yang beruntung. Sebab, jarak antara sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya 500 meter saja. Namun, di desa Long Midang ini baru teraliri listrik pada dua bulan terakhir termasuk di sekolahnya.

Sepulang dari sekolah, tim detikcom pun mengikuti kegiatan Sharon. Di rumah kayu seluas tiga petak di Long Midang itu, Sharon tinggal bersama kedua orang tuanya, satu adik kecil berumur enam bulan serta seorang Nenek yang tengah mengidap sakit gula.

Di tengah prestasinya yang cemerlang di sekolah, Sharon harus membantu kegiatan orang tuanya di rumah mulai dari merapikan rumah, menjaga adik serta mengurus neneknya yang sakit. Ayahnya adalah seorang petani beras adan.

PLN Terangi Mimpi Anak Petani Jadi Dokter di Perbatasan

Ilustrasi Kondisi Belajar Sharon Sebelum Listrik Masuk di Long Midang (Foto: Pradita Utama)

Kondisi hidup keluarganya yang sederhana tak menghilangkan semangat apalagi keceriaan anak suku asli Dayak Lundayeh ini. Senja yang menghilang perlahan di Krayan menjadi penanda waktu Sharon untuk membuka lembar demi lembar buku dari balik tas sekolahnya.

"Sebelum ada lampu, aku belajar pakai lilin kak (petromaks)," ungkapnya.

"Selain mengerjakan PR, biasanya aku suka baca buku-buku agama, matematika dan Bahasa Indonesia," imbuhnya.

Saat listrik belum masuk di Long Midang, malam-malam di hidup Sharon nampak gelap gulita. Ia kerap tak berani untuk bermimpi. Ketika listrik masuk selama dua bulan terakhir, harapan akan cerahnya masa depan mulai terlihat sedikit demi sedikit. Sharon tak lagi harus menyalakan lampu petromaks setiap malam.

Malamnya yang gelap gulita kini berubah menjadi terang benderang. Begitu pun dengan masa depannya. Sharon tak lagi mengubur impiannya untuk menjadi seorang dokter. Adapun, cita-cita tulus Sharon menjadi dokter berangkat dari kondisi neneknya yang sedang sakit.

"Di sini (Krayan) kalau nenek mau berobat harus naik pesawat dulu ke Nunukan karena tidak ada rumah sakit yang bisa mengobati nenek," kata Sharon. Sharon pun berjanji akan lebih rajin belajar setelah listrik hadir di rumahnya.

Selain listrik, jauhnya jarak dari rumah ke sekolah adalah masalah klasik yang kerap terjadi di wilayah pelosok negara. Apalagi, Krayan memang salah satu dari banyaknya kawasan tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Indonesia. Selain jarak yang jauh, akses transportasi pun tidak ada. Beberapa anak-anak harus berjalan kaki hingga lebih dari 10 kilometer untuk sampai di sekolah.

Kepala Sekolah SDN 006 Krayan Yosep Liang mengatakan meski terkendala jarak dan akses, namun semangat sekolah anak-anak Krayan tidak pernah luntur.

"Semangat belajar mereka tinggi sekali, bayangkan mereka jauh rumahnya dari sini. Tidak ada transportasi. Tapi mereka giat untuk belajar," tuturnya saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Sebagai kepala sekolah dia tentunya berharap ada dukungan penuh dari pemerintah baik dari segi infrastruktur hingga dukungan peralatan belajar yang mumpuni. Apalagi setelah listrik masuk ke sekolah pada Agustus 2019 lalu.

"Pelaksanaan belajar dalam waktu tahun berlalu mengalami kesulitan. Pada 2019 baru Agustus kemarin PLN sudah masuk ke sekolah kami. Dan kami sangat terbantu, baik dari sisi administrasi, komputer sangat mudah jadinya," ungkap Yosep.

PLN Terangi Mimpi Anak Petani Jadi Dokter di Perbatasan

Anak-anak sekolah dasar di Krayan berjalan kaki saat pulang dan menuju sekolah (Foto:Pradita Utama)

Dengan masuknya listrik, Yosep mengharapkan anak-anak didiknya juga bisa merasakan fasilitas yang sama dengan para pelajar yang ada di kota. Salah satu keinginannya adalah dengan menghadirkan layar proyektor untuk membantu proses belajar. Terutama untuk mata pelajaran seperti IPA.

Pernah suatu hari ia melakukan studi banding ke negara tetangga, Malaysia. Dikatakan Yosep kondisi belajar mengajar maupun infrastruktur di sana sudah sangat maju dibandingkan di Krayan. Padahal jarak dari Long Midang ke Malaysia hanya terpaut jarak sekitar 10 kilometer saja.

"Kami sudah studi banding, kami sudah kunjungi sekolah mereka. Memang jauh bedanya, ke depannya kami harapkan supaya sekolah ini meningkat lebih maju lagi. Kami ingin pemerintah perhatikan sekolah 3T bisa setara dengan di kota," terangnya.

Ia pun berterima kasih kepada pemerintah khususnya PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang sudah masuk ke sekolah. Menurutnya, ini awal babak baru perubahan pendidikan anak-anak di Krayan. "Kami dari pihak sekolah sangat berterima kasih pada PLN. Selama kurang lebih dua bulan kami sangat terbantu. Ini satu hal awal berarti yang kami terima," terangnya.

detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

(adv/adv)