Cerita Rindu hingga Sendu Para Prajurit di Garis Terdepan NKRI

Advertorial - detikNews
Kamis, 31 Okt 2019 06:00 WIB
Kesedihan Ferry Hardiansyah mengingat ayah (Foto: Mustiana Lestari)
Jakarta - Air wajah prajurit satu Ferry Hardiansyah bersemu saat menceritakan rasa rindunya kepada sang kekasih nun jauh di Teluk Buton, Kepri. Dia sendiri harus menerima lapang dada penugasan di perbatasan RI-Vietnam di Pulau Sekatung, Pulau Laut, Natuna.

"LDR mulai tahun lalu yang namanya orang pacaran ditanya kapan pulang kapan jumpa. Kalau cemburu namanya manusia pasti cemburu tapi saling percaya saja intinya," kata Ferry kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Rindunya harus dia tahan, apalagi sinyal masih susah di daerah perbatasan tersebut. Dia bertekad selepas tugas menjaga perbatasan, Ferry akan menuntaskan janji menikahi pujaan hati.

"Yang berat bukan rindu tetapi jumpa lalu berpisah. Pulang dari sini kita proses ke pernikahan. Sama orang tua juga rindu jadi kita cuma lewat telepon bertemu juga susah," tandasnya.

Para tentara yang melepas rindu (Foto: Mustiana Lestari)

Bicara mengenai orang tua, mendadak Ferry menjadi sendu dan murung. Dia tetiba diam, menunduk, hingga air mata jatuh lalu ia hapus buru-buru.

Di balik badannya yang tegap, ternyata ada duka yang mendalam. Ferry telah ditinggal ayahanda meninggal dunia saat dirinya bertugas bergabung dalam satgas keamanan perbatasan.

Hal yang membuatnya sedih karena kabar kematian ayahnya datang terlambat. Saat itu dia yang baru bertugas selama sebulan mengaku sulit dihubungi karena susah sinyal.

"Pas masuk rumah sakit saya nggak tahu. Dikasih kabar sudah meninggal. Katanya sakit tahu-tahu pingsan dibawa puskesmas nggak bisa langsung dibawa ke ICU dan di sana selama 2 jam. Waktu itu dikasih kabar sudah sore jam setengah 2 pas saya dapat sinyal. Katanya bapak sudah meninggal. Seorang anak pasti nangis, waktu itu saya langsung bilang ke Danru ke Danton lalu ke batalyon saya dikasih libur 5 hari sampai 7 hari," ucap anggota Komposit 1 Army Teluk Buton yang sudah bertugas 8 bulan ini.

Hingga akhirnya di Ferry baru sampai di hari ke-3 setelah pemakaman ayahanda. Kendati demikian, meski ayah telah tiada , dia masih mengingat baik-baik kenangan bersama sang ayah yang tanpa henti mendukungnya sebagai tentara.

"Saya berdoa terus agar ayah saya tenang di sana diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di sisi Allah. Saya pengen bahagiakan ibu saya, jaga adek saya. Insyaallah pulang dari sini berangkatin umrah ibu saya. Kita sebagai abdi negara nggak boleh cengeng, nggak boleh nyerah dengan keadaan. Harus tetap semangat karena jalan masih panjang dan butuh perjuangan yang lebih lagi buat masa depan. Tetap semangat NKRI harga mati!" tegasnya.

Lain Ferry lain juga cerita dari Prajurit Kepala Sujega yang juga tergabung dalam satgas pengaman perbatasan di Pulau Sekatung. Dirinya mengaku terpaksa meninggalkan istri yang sedang hamil 4 bulan untuk bertugas di perbatasan Indonesia-Vietnam ini.

"Di sini sinyal terbatas, saya tidak tahu istri saya hendak melahirkan. Saya tahunya waktu istri saya melahirkan pukul 8 sedangkan saya melihat (ada) sinyal jam setengah 10. Pada waktu itu saya kaget, saya sedih, saya gembira, karena anak kedua saya lahir berjenis kelamin perempuan," tukas prajurit yang sudah 8 bulan bertugas di Sekatung.

Saat Sujega menelepon istri (Foto: Mustiana Lestari)

Ini bukan pertama kalinya yang membuat hatinya sendu. Baginya, setiap kali sang anak bertanya kapan dirinya pulang, dia bisa tiba-tiba menjadi sedih.

"Anak saya pertama lengketnya sama saya, tidur makan sama saya, makanya suka tanya kenapa abi Jega nggak pernah pulang kan kaka kangen, Di situ hati saya terpukul kata-kata itu. Ya harus tabah mau gimana lagi ayah di sini bertugas," terang dia.

Namun dia dan sang istri selalu memberi pengertian bahwa dirinya bekerja. Makanya dia berjanji sewaktu pulang nanti mau membawa anak-anaknya mudik ke kampung halaman. Dirinya pun makin tegar karena sang istri selalu menguatkan selama dia di tempat bertugas.

"Istri menerima dengan tabah dan ikhlas dia pun mengerti keadaan saya sebagai TNI karena di sini tugas kami tidak bisa meninggalkan daerah tugas. Saya harap istri saya bisa menjaga anak kedua dan semoga istri saya tabah menjalaninya. Saya berdoa diberi keselamatan dan kesehatan sehinggga pulang ke homebase dengan keadaan selamat," tuturnya dengan mata berkaca-kaca karena belum sekalipun melihat langsung anak keduanya.

Jega, Ferry dan prajurit lainnya bersyukur kini HP-nya bisa terus menyala meski kadang tersendat karena sinyal. Itu semua berkat tersambungnya listrik PLN sampai Pulau Sekatung. Ada dua pembangkit di Pulau Sekatung yaitu 90 KW dan 10 KW dengan operasi hingga 7700 VA.

Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan mendukung penuh pertahanan dan keamanan perbatasan melalui listrik. Diharapkan dengan fasilitas ini TNI makin nyaman dalam bertugas.

"Dengan semangat dan kerja bersama, PLN hadir di pulau Sekatung untuk menyiapkan pasokan listrik untuk keperluan mendukung teman-teman yang bertugas sebagai satgas, agar TNI yang bertugas lebih fokus untuk melakukan patroli sementara listriknya PLN urus. Jadi PLN berperan hadir di Pulau Sekatung untuk memberikan pasokan listrik," jelas dia.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

(adv/adv)