detikNews
Jumat 23 Agustus 2019, 00:00 WIB

Jalan Hijau Menuju Transportasi Ramah Lingkungan

Advertorial - detikNews
Jalan Hijau Menuju Transportasi Ramah Lingkungan Foto: Dok. BPTJ
Jakarta -

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan angkutan umum massal, dan lebih memilih kendaraan pribadi dinilai menjadi penyebab kemacetan lalu lintas di wilayah Jabodetabek. Dampak negatif tersebut berakibat buruk pada lingkungan dan kualitas udara disekitar kota. Apalagi polusi akibat kemacetan tersebut menyumbang peranan yang besar yang tidak menguntungkan bagi kesehatan tubuh.

Berpijak pada permasalahan tersebut, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan menggelar Kampanye bertajuk Jalan Hijau sejak Senin (19/8/2019) hingga Kamis (22/8/2019). Kampanye tersebut digelar di Jakarta, Depok dan Bekasi yang bertujuan menggugah kesadaran masyarakat untuk berpindah dari kendaraan bermotor pribadi ke angkutan umum massal maupun berjalan kaki.

BPTJ menilai jika semakin banyak masyarakat berpindah menggunakan angkutan umum massal dan berjalan kaki maka jalan akan menjadi semakin ramah lingkungan (hijau), sehingga berdampak positif pada aspek kesehatan maupun lingkungan bagi masyarakat.

Kegiatan kampanye ini dilakukan dengan menerjunkan langsung personil di jalan-jalan tertentu guna menyampaikan pesan-pesan secara langsung kepada masyarakat tentang manfaat menggunakan angkutan umum massal dan berjalan kaki.

Jalan Hijau Menuju Transportasi Ramah LingkunganFoto: Dok. BPTJ

Aktifitas berjalan kaki sebagai bagian dari kegiatan bertransportasi massal lebih mendapatkan penekanan pada kegiatan kampanye kali ini. Hal ini muncul akibat kecenderungan jarak-jarak tertentu yang seharusnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, dan malah banyak masyarakat lebih memilih menggunakan sepeda motor.

Padahal berjalan kaki itu sendiri sebenarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktifitas transportasi berbasis angkutan umum massal, misalnya pada tahapan first mile (dari titik awal menuju angkutan umum terdekat) ataupun last mile (dari angkutan umum massal menuju titik tujuan akhir).

Salah satu contoh baik diutarakan oleh Agnes (30), pada awalnya ia lebih mengandalkan mobil pribadi sebagai sarana transportasi ke tempat kerja. Namun seiring dengan semakin intensifnya kebijakan ganjil genap dia mulai beralih menggunakan angkutan umum massal. Bus Trans Jabodetabek premium dari Bekasi menuju Kawasan SCBD Jakarta Pusat menjadi pilihannya.

"Naik Bus ternyata lebih efisien, Rp 15.000 sudah sampai kantor jauh lebih murah dibanding naik mobil pribadi yang harus keluar biaya bensin, toll dan parkir," ujar Agnes dalam keterangannya.

Apalagi kata Agnes, naik bus juga jauh lebih hemat tenaga karena tidak perlu capek dan stress menyetir sendiri di tengah kemacetan dan seringkali waktu tempuh lebih cepat.

Sementara itu, Yahya (39) juga selalu menggunakan bus ke tempat kerjanya di kawasan Mega Kuningan dari kediamannya di Bekasi. Berbeda dengan Agnes, kesadaran Yahya menggunakan angkutan umum massal sudah tertanam sejak dirinya tinggal di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia kebiasaan tersebut terus berlanjut karena menurutnya, naik angkutan umum massal merupakan pilihan rasional bertransportasi.

"Kadang orang Indonesia amazing banget, rumahnya satu mobilnya empat, kadang nggak punya parkiran tapi ada mobil. Nah kesadaran diri itu perlu apakah yang kita lakukan punya dampak baik atau tidak untuk lingkungan," ungkap Yahya.

Jalan Hijau Menuju Transportasi Ramah LingkunganFoto: Dok. BPTJ

Pada kampanye Jalan Hijau ini, BPTJ memilihi isu kesehatan sebagai pendekatan guna membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berjalan kaki. Pilihan ini merujuk kenyataan bahwa rata-rata manusia Indonesia masih sangat minim berjalan kaki yaitu hanya sekitar 3.000 langkah per hari, padahal seharusnya minimal 6.000 hingga idealnya 10.000 langkah per hari.

Data Kementerian Kesehatan RI juga menunjukkan bahwa faktor resiko terkena penyakit noninfeksi seperti stroke, hipertensi dan diabetes karena kurang gerak di kalangan masyarakat Indonesia cenderung naik dari 26,1% (2017) menjadi 33,5 % (2018).

Maka dari itu dengan meningkatkan kegiatan berjalan kaki dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor untuk jarak-jarak yang terjangkau dalam aktifitas bertransportasi, tidak hanya mengurangi polusi udara dan kemacetan.Namun, sekaligus dapat meningkatkan aktifitas gerak yang berdampak positif pada ketahanan tubuh untuk terhindar dari berbagai penyakit.

Diharapkan, penyampaian pesan dengan pendekatan benefit yang diperoleh dari aspek kesehatan juga semakin menggugah kesadaran masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi, serta beralih menggunakan angkutan massal dan berjalan kaki.

Jalan Hijau Menuju Transportasi Ramah LingkunganFoto: Dok. BPTJ

Pemerintah secara bertahap terus melakukan perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana transportasi berbasis angkutan umum massal. Peningkatan kapasitas angkutan umum massal, perbaikan dan pelebaran pedestrian di wilayah Jabodetabek terus dilakukan. Bahkan Pemerintah juga menyiapkan rencana pengoperasian bus listrik untuk menggantikan bus-bus yang selama ini berbahan bakar minyak.


Seiring dengan langkah-langkah tersebut Pemerintah juga berharap kesadaran masyarakat untuk beralih menggunakan angkutan umum massal dan berjalan kaki semakin tumbuh sehingga upaya untuk menekan penggunaan kendaran pribadi dapat tercapai.

Untuk itu Kampanye Jalan Hijau ke depan akan terus digalakkan dengan berbagai pendekatan sehingga semakin menggugah kesadaran masyarakat menuju transportasi yang ramah lingkungan. Ayo beralih menggunakan angkutan umum massal. Jika dekat jalan kaki saja!


(adv/adv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com