Ada tiga sasaran utama program permakanan di Surabaya, yakni lansia terlantar, anak yatim dan penyandang disabilitas. Oleh karenanya, perangkat kecamatan maupun kelurahan punya kewajiban mendata calon penerima permakanan di wilayah masing-masing dan kemudian data itu akan diverifikasi oleh dinas sosial.
Berdasar data Dinas Sosial Kota Surabaya, penerima program permakanan tahun 2019 mencapai 35.414 orang. Dengan rincian lansia dan pra-lansia sebanyak 20.000 orang, anak yatim, piatu dan yatim piatu sebanyak 6.000 anak, serta penyandang disabilitas sebanyak 9.414 orang.
"Mereka semua yang mendapat permakanan merupakan warga miskin. Untuk pra-lansia mulai umur 45-60 tahun dan lansia 60 tahun ke atas. Sementara untuk anak yatim, mulai umur 0 sampai 18 tahun, dan bagi penyandang disabilitas semua umur," kata Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo.
Petugas mengantar permakanan kepada salah seorang lansia (Foto: dok. Pemkot Surabaya) |
Penerima program tersebut mendapatkan makanan gratis yang dikirim ke rumah setiap harinya. Dan untuk memastikan penyaluran program permakanan di lapangan berjalan lancar, Supomo menjelaskan, Dinas Sosial mempunyai Satgas Permakanan yang bertugas mengawasi pendistribusian di 31 kecamatan. Di samping mengawasi, Satgas Permakanan juga bertugas melakukan verifikasi penerima program yang total anggarannya mencapai Rp 156,4 miliar tersebut.
Salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program permakanan, Rumzana (47) yang memiliki anak penyandang disabilitas di daerah Tenggilis Mejoyo. Melalui program itu, ia sangat mengapresiasi program yang digagas Pemkot Surabaya tersebut.
"Menurut saya program ini sangat bagus dan membantu keluarga kami, khususnya dalam pemenuhan gizi kami. Semoga program ini terus berlanjut," katanya.
Selain program permakanan, Pemkot juga memiliki program pemberian makanan tambahan yang lebih fokus pada peningkatan gizi kelompok masyarakat tertentu dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Tujuannya, untuk menyasar kelompok masyarakat yang belum ter-cover permakanan dari dinas sosial. Misalnya, balita, siswa PAUD, ibu hamil/menyusui, penderita HIV/AIDS, TBC, kusta, hingga pasien paliatif.
Senang Melihat Mereka Tersenyum
Bimantara, salah seorang petugas pengirim permakanan (Foto: dok. Pemkot Surabaya) |
"Saya senang bisa melayani dan berbagi kepada mereka yang kurang beruntung keadaan ekonominya," ungkapnya.
Sofia yang sudah menjadi petugas pembuat permakanan sejak 2015 ini dibantu petugas pengirim makanan kepada penerima program. Salah satu petugas pengirim yakni Bimantara, lelaki paruh baya ini mengaku senang kendati dalam praktiknya kerap mengalami suka dan duka sebagai petugas pengirim.
Dia menuturkan, saat awal-awal melaksanakan tugasnya, dia kerap kesulitan mencari alamat penerima.
"Setiap mengantar harus selalu tanya-tanya ke warga sekitar, karena alamat susah dicari," terangnya.
Pernah suatu saat, ban motor Bima bocor, namun ia bertekad tetap harus mengantar makanan tersebut karena ada orang yang membutuhkan. Terlepas dari itu, Bima mengaku bahagia menjadi bagian dari upaya Pemkot dalam mensejahterakan warganya.
"Senang sekali bisa melihat orang-orang tersenyum bahagia, apalagi waktungirim makanan itu mereka tersenyum,"pungkasnya.
(adv/adv)











































Petugas mengantar permakanan kepada salah seorang lansia (Foto: dok. Pemkot Surabaya)
Bimantara, salah seorang petugas pengirim permakanan (Foto: dok. Pemkot Surabaya)