Ini Tantangan Generasi Milenial Hadapi Era Industri 4.0

Advertorial - detikNews
Minggu, 02 Des 2018 00:00 WIB
(Foto: dok. Kemenperin)
Jakarta - Pemerintah Indonesia telah serius berupaya dalam menghadapi era industri 4.0, salah satunya dengan menetapkan roadmap Making Indonesia 4.0. Meski demikian, Indonesia juga perlu generasi muda yang memiliki kemampuan andal dan mampu beradaptasi di Era Industri 4.0.

Hingga saat ini, Indonesia sudah mulai berhasil menunjukkan kemampuan kompetitifnya di pasar global dengan menempati peringkat keempat dunia dari 15 negara yang industri manufakturnya memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 10%. Indonesia mampu menyumbangkan hingga mencapai 22% setelah Korea Selatan (29%), China (27%), dan Jerman (23%).

Tak sampai di situ, Indonesia terus mengejar agar dapat mencapai target menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030. Pemerintah juga sedang bersiap mengimplementasikan industri 4.0. Salah satu langkah prioritas yang tengah dilakukan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Industri 4.0 mendorong pemerintah untuk melakukan empowering human talents. Kita terpacu untuk memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulis.

Di depan 600 perserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelaku industri kreatif di acara Creative Industries Movement di Denpasar, Sabtu (1/12/2018), Airlangga menekankan, teknologi digital akan menjadi kunci peningkatan produktivitas tenaga kerja.

"Nilai tambahnya terhadap PDB diperkirakan mencapai USD 150 miliar di tahun 2025 atau sebesar 9,5%," ujar Airlangga.

Ini Tantangan Generasi Milenial Hadapi Era Industri 4.0

(Foto: dok. Kemenperin)

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Airlangga, diperlukan 17 juta SDM di sektor industri yang memiliki pemahaman dan keterampilan teknologi atau technology literate. Apalagi, Indonesia akan menikmati bonus demografi hingga 2030.

"Kita menargetkan sudah ada 1.000 technopreneur pada tahun 2020, dengan valuasi bisnis mencapai USD 100 miliar, dan total nilai e-commerce sebesar USD130 miliar," ungkapnya.

Untuk mencapainya, Kemenperin sendiri juga menyiapkan beberapa program, seperti pabrik percontohan, program pelatihan bagi calon pemimpin perusahaan yang menggunakan basis 4.0 seperti analisis data besar dan internet of things. Selain itu menyediakan ruang inkubasi karya seperti Bandung Techno Park dan Bali Creative Industry Center (BCIC).

"Para mahasiswa dan pegiat industri kreatif kami ajak untuk memanfaatkan betul fasilitas di BCIC ini. Silakan manfaatkan pelatihan, co-working space ataupun inkubator bisnis, tanpa perlu membayar sama sekali," ujarnya.

Menurut Airlangga, BCIC atau TohpaTI center ditujukan untuk menjadi wadah yang produktif untuk menghasilkan generasi yang kompeten di bidang multimedia, animasi, kriya dan barang seni.

Airlangga juga mengimbau kepada generasi muda Indonesia agar tidak gentar dan mempersiapkan diri menghadapi era industri 4.0.

"Generasi milenial harus kreatif, open minded dan tahan banting. Kuasai Bahasa Inggris, statistik, dan koding, adik-adik pasti mampu bersaing di era Industri 4.0," ungkapnya.

Selain BCIC dan BTP, Kemenperin juga mengajak generasi milenial untuk mengoptimalkan ekosistem inovasi yang telah dibangun, misalnya Incubator Business Center di Semarang, Makassar Technopark, dan Nongsa Digital Park di Batam.

Di samping itu, peningkatan produktivitas pada era ekonomi digital juga difokuskan pada kemudahan access to market sektor Industri kecil dan menengah (IKM). Dalam acara yang juga dihadiri pelaku industri kecil menengah itu, Airlangga kembali menjelaskan tentang e-smart IKM. platform e-commerce untuk membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace, seperti bukalapak, Tokopedia, Shopee, Blibli, dan Go-Jek Indonesia.


(adv/adv)