Kebijakan baru BPJS Kesehatan terkait katarak membuat beberapa orang tidak dapat mengikuti operasi katarak gratis. Sebab, BPJS Kesehatan telah menetapkan jarak pandang baru terkait penderita katarak. Hal ini membuat banyak penderita katarak mengabaikan penyakitnya lantaran biaya yang mahal.
Misalnya Sanidi asal Pontianak yang telah bertahun-tahun menderita katarak dan belum berkesempatan dioperasi. Akibat mahalnya biaya operasi katarak, selama ini ia hanya berobat untuk mengurangi efek yang ditimbulkan dari katarak yang dideritanya.
"Saya rasa kira-kira empat tahun ada (mengalami katarak). Saya cuma berobat kalau sakit," ungkap Sanidi ketika ditemui detikcom di acara Operasi Katarak Gratis Tolak Angin di RS Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat pada Kamis (15/11/2018).
Walaupun istrinya juga ikut membantu berdagang kue di pasar, ia tetap semangat mencari nafkah bagi keluarga.
"Ya terganggu penglihatan, apalagi terkena sinar. Kalau malam susah kena sinar lampu motor dan mobil. Jadi kalau kena cahaya lampu tidak kelihatan," jelasnya.
Namun suatu hari kabar gembira menghampiri Sanidi. Ia mendapatkan informasi melalui rekannya bahwa ada operasi katarak gratis yang bisa diikuti, yakni Operasi Katarak Gratis Tolak Angin yang digelar Sido Muncul.
Ia akhirnya melakukan tahap screening pada 13 Oktober 2018 di RS Universitas Tanjungpura, Pontianak. Lalu pada Sanidi Kamis (14/11/2018) kemarin, ia dinyatakan siap untuk menjalankan operasi katarak.
Para pasien Operasi Katarak Gratis Tolak Angin di Pontianak (Foto: Sido Muncul) |
"Tau dari teman ya orang sana, ikut di cek-cek itu tanggal 13 bulan lalu. Sudah operasi tanggal 14 kemarin hari pertama, hari ini dicek lagi sama dokter," ujar Sanidi.
Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada penyelenggara kegiatan acara Operasi Katarak Gratis Tolak Angin dari Sido Muncul. Acara seperti ini, lanjutnya, sangat membantunya dan orang lain yang kurang mampu dalam hal biaya. Sanidi berharap setelah sembuh, ia bisa bekerja tanpa kendala.
Tidak jauh berbeda dengan Sanidi, Yanto yang kini menginjak usia 68 tahun juga mengikuti Operasi Katarak Gratis Tolak Angin. Walaupun dirinya kini sudah tidak lagi bekerja, tapi dalam menjalani kehidupan sehari-hari ia tidak mau menyusahkan keluarganya.
"Dahulu kerja sawit, sekarang sudah tidak sanggup," ungkap Yanto.
Ia mengaku senang saat mengikuti Operasi Katarak Gratis ini dan berharap bisa menyembuhkan katarak yang dideritanya. Yanto berharap ingin pandangannya sehat lagi tanpa ada kendala karena untuk bergerak saja ia mengaku sudah tidak berdaya. Apalagi turun ke sungai untuk mandi, terkadang hingga akan jatuh karena penglihatan tidak jelas.
"Tidak sakit (saat operasi) perasaannya semangat biar lihat lebih jelas. Kalau nanti ya mudah-mudahan sehat lah ya, semua ada jalannya dari Allah," katanya.
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat bersama pasien operasi katarak gratis (Foto: Sido Muncul) |
Operasi Katarak Gratis Tolak Angin Sido Muncul telah memasuki tahun kedelapan dan telah dilaksanakan di 27 provinsi, 211 kota/kabupaten, di 237 rumah sakit/klinik mata di seluruh Indonesia. Total yang telah dioperasi hingga tahun ini berjumlah 51.648 mata.
"Operasi Katarak Gratis ini sudah dilakukan Sido Muncul sejak 2011. Namun penyelenggaraan di RS Universitas Tanjungpura Pontianak ini adalah pertama kalinya. Saya senang membantu masyarakat, khususnya mereka yang menderita kebutaan karena katarak. Apalagi rata-rata penderita katarak berumur 40-50 tahun, masih dalam umur produktif. Sehingga melalui pengobatan ini saya harap mereka bisa kembali beraktivitas. Kegiatan ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam rangka mengurangi jumlah penderita katarak di Indonesia," jelas Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat.












































Para pasien Operasi Katarak Gratis Tolak Angin di Pontianak (Foto: Sido Muncul)
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat bersama pasien operasi katarak gratis (Foto: Sido Muncul)