Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, menyayangkan masyarakat di desa-desa yang mayoritas dalam usia produktif, yakni antara 45-50 tahun banyak yang mengalami kebutaan. Mirisnya hal tersebut dianggap biasa dan kebanyakan dari mereka menjalani kondisi tersebut dengan pasrah. Padahal dalam rentan usia tersebut, masih banyak yang bisa dilakukan. Apalagi jika mereka berperan sebagai tulang punggung keluarga.
"Teman-teman saya yang dalam keadaan ekonomi baik itu umur 65 tahun baru dioperasi (katarak). Saya ketika umur 68 tahun baru dioperasi, istri saya 69 tahun saja belum dioperasi. Memang tidak urgent, di usia 45 kan usia produktif, tapi sudah membebani keluarga," ujar Irwan di acara Operasi Katarak Gratis Tolak Angin di RS Universitas Tanjungpura pada Kamis (15/11/2018).
Pada kesempatan ini, Irwan tak lupa mengapresiasi kerja keras dokter mata. Khususnya Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan rumah sakit.
"Kalau dokter mengoperasi habis Rp 3 juta paling murah, bahkan ada yang Rp 5 juta sampai Rp 7 juta tergantung kelas rumah sakit. Ini terimanya cuma Rp 50 ribu. Jadi yang lebih hebat Perdami, kedua rumah sakit," katanya.
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat saat mengunjungi pasien operasi karatak gratis di RS Universitas Tanjungpura (Foto: detikcom) |
Jika pemerintah sampai mengurangi jatah BPJS Kesehatan, lanjut Irwan, ia memaklumi karena beban kerja pemerintah juga banyak.
"Saya sebagai pengusaha hanya berpartisipasi membantu pemerintah. Peran pengusaha menurut saya peran seluruh masyarakat, terutama pengusaha yang memiliki kemampuan," paparya.
Ia yakin tahun depan akan banyak pengusaha yang paham dan membantu pemerintah melalui bakti sosial masyarakat. Ia turut menyatakan rasa bahagianya karena bisa membantu masyarakat yang tidak bisa melakukan operasi akibat terkendala biaya.
Melihat semangat Sido Muncul, Kepala Departemen Mata FK UI RSCM Andi Arus Viktor mengungkapkan rasa terima kasihnya atas komitmen Sido Muncul dari awal hingga saat ini dalam menggelar operasi katarak gratis. Sebab, masyarakat mendambakan kegiatan seperti ini, apalagi adanya batasan dari BPJS Kesehatan.
"Sido muncul ini energinya Perdami, energinya penderita katarak, energinya masyarakat," ungkap Andi yang juga anggota dari Perdami.
Menurut Perwakilan SPBK PERDAMI Pusat, dr Sita Paramita Ayuningtyas, Sp. M, dari data Rapid Assasment of Avoidable Cataract (RAAB) 2013-2015 yang sudah dilakukan di 15 provinsi di Indonesia, prevalensi kebutaan mencapai sekitar 3%. Sementara 1,9% diakibatkan oleh katarak sehingga operasi katarak gratis seperti yang dilakukan Sido Muncul menjadi salah satu menjadi jalan cepat, efektif, dan baik di samping pembiayaan dari BPJS Kesehatan yang saat ini diketahui mulai dibatasi.
"Mudah-mudahan melalui bakti sosial ini, kita bisa memberantas buta katarak. Tentunya ini membutuhkan kerja sama yang baik antara pemerintahan pusat, daerah, organisasi provinsi dan perusahaan atau pihak swasta dalam hal ini sebagai donatur," ungkap dr Sita.
Rumah Sakit Universitas Tanjungpura sudah melakukan screening pasien operasi katarak sejak 13 hingga 27 Oktober 2018. Ketika itu yang mendaftar tercatat 170 orang dan yang dinyatakan siap untuk dioperasi adalah 100 orang.
"Yang menarik itu adalah mereka dibawa oleh kader. Jadi ketika ada informasi kita sampaikan dengan bantuan media, minatnya sangat banyak, bahkan hingga saat ini masih ada yang mendaftar. Padahal kuota kita sangat terbatas," ujar Direktur RS Universitas Tanjungpura, Muhammad Asroruddin.
Serah terima secara simbolis kepada pasien operasi katarak gratis (Foto: detikcom) |
Ia berharap apak pasien yang telah dioperasi bisa menikmati hasilnya dan bisa melihat lagi. Sebab, angka kebutaan yang diakibatkan katarak termasuk yang paling besar, yakni sekitar 70% dari semua penyakit mata.
"Jadi karena jumlahnya banyak sehingga sumber daya terbatas dan setiap tahun bertambah. Kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang bekerj asama. Mudah-mudahan kita bisa melaksanakan kegiatan seperti ini secara rutin, setiap tahun," ungkap Asroruddin.
Salah satu pasien operasi katarak gratis, Sanidi, mengungkapkan kegiatan ini sangat membantunya, terutama dalam ia menjalani pekerjaan setelah operasi ini.
"Syukur alhamdulillah kepada panitia penyelenggaraan, terima kasih," ujar pria berusia 48 tahun ini.
Sido Muncul telah membantu mengoperasi total 51.600 sejak 2011 hingga kini mata. Untuk tahun ini, Sido Muncul menargetkan 1.500 mata dan tahun depan ditargetkan sebanyak 6.000 mata.
(adv/adv)












































Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat saat mengunjungi pasien operasi karatak gratis di RS Universitas Tanjungpura (Foto: detikcom)
Serah terima secara simbolis kepada pasien operasi katarak gratis (Foto: detikcom)