Badan SAR Nasional (Basarnas) berkomitmen untuk terus aktif dan cepat tanggap dalam menanggulangi berbagai bencana atau musibah, seperti halnya dalam proses pencarian badan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh Senin (29/10/2018) pagi. Dalam proses pencarian Lion Air JT 610, Basarnas turut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, terutama TNI dan Polri.
Panglima TNI Marsekal, Hadi Tjahjanto, menegaskan TNI mendukung tugas dan fungsi Basarnas di bidang pencarian dan pertolongan (SAR).
"Sudah menjadi kewajiban TNI untuk mendukung pelaksanaan tugas di bidang SAR," tegas Hadi dalam keterangan tertulis, Rabu (31/10/2018).
Terutama unsur-unsur TNI yang berada di sekitar lokasi kejadian langsung mengerahkan personil, sarana dan prasarana yang ada, termasuk mengerahkan KRI Rigel yang dilengkapi dengan peralatan deteksi bawah air.
Sementara itu, Kabasarnas Marsdya TNI M Syaugi menegaskan sinergitas antara Basarnas dengan seluruh Potensi SAR, khususnya TNI - Polri sudah terjalin sangat erat pada setiap operasi SAR, baik kecelakaan, bencana, dan kondisi membahayakan jiwa manusia.
"Sinergitas dengan mengutamakan komunikasi dan koordinasi ini sangat menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan operasi," tegas Syaugi.
Syaugi menjelaskan Basarnas, TNI-Polri, serta stakeholder lainnya merupakan representasi dari pemerintah dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, khususnya yang tengah mengalami musibah.
Ia turut menyampaikan ada tiga kata kunci pada setiap pelaksanaan operasi SAR. Pertama, selaku pemerintah, serius dan hadir saat terjadi musibah. Kedua, all out dengan mengerahkan segala daya dan upaya, baik personel maupun peralatan yang ada untuk segera menemukan dan mengevakuasi seluruh korban.
"Dan yang ketiga, kami bekerja dengan hati. Operasi SAR adalah misi kemanusiaan yang mulia. Kami bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat, khususnya para keluarga korban. Untuk itu, kami minta doa dari seluruh masyarakat agar seluruh korban dapat kami temukan, dan dapat kami evakuasi apapun kondisinya," tutur Syaugi.
Untuk hasil operasi hingga Rabu (31/10/2018) pagi, tim SAR telah berhasil mengevakuasi 48 kantong jenazah, serpihan puing pesawat, dan identitas korban. Tim SAR juga masih melaksanakan penyisiran di sektor 1 maupun sektor 2.
Di sektor 1, pencarian dilakukan dengan mengerahkan 4 kapal yang dilengkapi dengan peralatan deteksi bawah air. Kapal pertama adalah KRI Rigel dengan dilengkapi dengan peralatan Multibeam Echosounder (MBES), Side Scan Sonar, dan Remotly Operated Underwater Vehicle (ROV).
Kedua, KN SAR 206 Bandung yang dilengkapi dengan Side Scan Sonar. Ketiga, Kapal Baruna Jaya milik BPPT yang dilengkapi dengan MBES, Ping Locator untuk memdeteksi sinyal blackbox, dan ROV. Sedangkan yang keempat, Kapal Dominos milik Pertamina yang dilengkapi dengan Side Scan Sonar, MBES, Ping Locator, dan Digital Global Positioning System (DGPS).
Pada sektor ini juga dikerahkan para penyelam dari Basarnas Special Group (BSG), Kopaska, Taifib, dan Potensi SAR lain yang memiliki kompetensi di bidang underwater atau penyelaman. Covered area sektor 1 ini di sekitar last contact pesawat pada koordinat 05 derajat 46 menit 15 detik South dan 107 derajat 07 menit 16 detik East.
Sementara pada sektor 2, dikerahkan 30 kapal lebih dari Basarnas, Kementerian Perhubungan, Polair, KPLP, Bea Cukai dan lainnya untuk pencarian di permukaan air. Basarnas juga mengerahkan helikopter untuk melakukan pencarian dari udara. (adv/adv)











































