Sifat Kesetiakawanan Masih Ada di Balik Menjamurnya Medsos

Sifat Kesetiakawanan Masih Ada di Balik Menjamurnya Medsos

Kabar B2P3KS - detikNews
Jumat, 26 Okt 2018 00:00 WIB
Sifat Kesetiakawanan Masih Ada di Balik Menjamurnya Medsos
Foto: dok. B2P3KS
Jakarta - Di tengah perubahan sosial budaya yang cenderung menghilangkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan oleh penggunaan media sosial saat ini, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Yogyakarta malah menunjukkan sebaliknya.

Faktanya, masyarakat saat ini masih dipenuhi rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Tim Peneliti Indeks Kesetiakawanan Sosial B2P3KS Yogyakarta Andayani Listyawati yang menyatakan pihaknya sudah melakukan penelitian di empat wilayah di Tanah Air sejak Maret 2018 lalu.

Empat wilayah itu merupakan perwakilan daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Untuk pedesaan, dilakukan di Padang Pariaman, Sumbar dan Kabupaten Klungkung, Bali. Sedangkan daerah perkotaan berlokasi di Bogor, Jabar dan Manado, Sulut yang masing-masing wilayahnya diambil 70 responden.

"Responden tersebut berasal dari tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, dan sebagainya," ungkap Andayani.

Andayani mengatakan bahwa penentuan kelompok masyarakat pedesaan itu dilihat dari wilayahnya yang masih homogen karena memiliki nilai keeratan hubungan dan budaya yang cenderung baik. Sedangkan pemilihan kedua kotanya, dipilih karena dianggap cukup dinamis dan mewakili kelompok masyarakat yang memiliki tingkat heterogenitas tinggi.

Hasil penelitian B2P3KS Yogyakarta menyatakan secara keseluruhan, indeks kesetiakawanan sosial di Indonesia masih tinggi. Hasil ini ditunjukkan dengan nilai kategori tinggi pada setiap parameter.

Untuk hasil secara keseluruhan di empat wilayah penelitian, B2P3KS Yogyakarta menyatakan bahwa nilai tenggang rasa di angka 75,98%. Angka ini adalah angka terendah jika dibandingkan dengan nilai parameter lainnya seperti, nilai toleransi di angka 88,17%, gotong royong di angka 87,59%, tolong-menolong di angka 88,45% dan partisipasi sosial di angka 84,67%.

"Walaupun tenggang rasa bernilai terendah, masih dalam kategori nilai tinggi," tegas dia.

Untuk nilai kearifan lokal, Andayani menyatakan bahwa masyarakat pada umumnya masih memahami, memiliki sikap dan melaksanakan nilai luhur yang terkandung dalam kesetiakawanan sosial. Kesetiakawanan sosial masih menjadi pedoman dan pandangan hidup masyarakat dalam mengatur tata kehidupan serta mampu meminimalkan intoleransi di masyarakat.

"Kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini karena dipengaruhi oleh budaya dan kearifan lokal serta peran ketokohan masyarakat setempat," lanjutnya.

Menurutnya, agar nilai kesetiakawanan sosial di masyarakat tetap kuat dan lestari, pemerintah diharapkan dapat memberikan ruang gerak terhadap kelompok masyarakat melalui penumbuhan dan pembinaan.

"Tujuannya agar nilai kesetiakawanan sosial menjadi dasar atau landasan untuk bersikap dan bertingkah laku di kehidupan sehari-hari," harap dia.

Selain itu, diperlukan juga penanaman nilai kebangsaan berbasis keluarga. Ini dilakukan dengan memberi contoh atau keteladanan kepada generasi muda terutama anak-anak, agar bisa mencintai dan menghargai bangsanya sendiri. Melalui pendidikan di keluarga ini, diharapkan akan mampu membentuk karakter anak karena keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama.

"Poin lain yaitu perlu bimbingan dan sosialisasi bagi tenaga pengajar tentang nilai kesetiakawanan sosial di sekolah. Penanaman ini di sekolah perlu revitalisasi dalam model pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru agar mudah dicerna dan menyatu dalam sikap dan perilaku anak didiknya," tambah Andayani.

Lebih lanjut, dilakukan juga pemberdayaan pranata sosial yang ada di masyarakat terhadap nilai kesetiakawanan sosial melalui organisasi sosial kemasyarakatan, seperti kelompok kepemudaan, kelompok keagamaan, kelompok seni budaya ataupun kelompok sosial lain. (adv/adv)
Berita Terkait