Berdasarkan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat. Aspirasi besar yang akan diwujudkan adalah menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi nasional masuk dalam jajaran lima besar dunia pada 2030.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meyakini industri TPT dalam negeri mampu kompetitif di kancah global. Hal tersebut dikarenakan industri TPT dalam negeri telah memiliki daya saing tinggi.
"Khusus untuk industri shoes and sport apparels, produksi kita sudah melewati China. Bahkan di Brasil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80%," kata Airlangga dalam keterangan tertulis (9/10/2018).
"Oleh karena itu, pemerintah terus memacu kinerja industri TPT. Apalagi sektor ini tergolong padat karya dan berorientasi ekspor sehingga memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian kita," ujarnya.
Beberapa langkah strategis telah disiapkan agar industri TPT nasional bisa memasuki era digital. Misalnya, selama 3-5 tahun ke depan, Kementerian Perindustrian fokus mendongkrak kemampuan di sektor hulu untuk meningkatkan produksi serat sintetis. Sehingga upaya yang dilakukan, antara lain menjalin kerja sama atau menarik investasi perusahaan penghasil serat berkualitas.
"Ini juga bertujuan guna mengurangi impor," ucap Airlangga.
Selain itu Kemenperin juga mendorong pemanfaatan teknologi digital seperti 3D printing, automation, dan internet of things. Transformasi ini diyakini dapat mengoptimalkan efisiensi dan produktivitas.
"Jadi, kami akan membangun klaster industri tekstil terintegrasi dengan terkoneksi teknologi industri 4.0," tambah Airlangga.
Lebih lanjut, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran permintaan dari pakaian dasar (basic clothing) menjadi pakaian fungsional seperti baju olahraga. Oleh sebab itu industri TPT nasional pun perlu membangun kemampuan produksi dan meningkatkan skala ekonomi. Hal tersebut agar dapat memenuhi permintaan pakaian fungsional di pasar domestik maupun ekspor.
Sebelumnya, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kemenperin Muhdori mengaku optimistis industri TPT nasional dapat tumbuh hingga 4-6% pada tahun 2018. Bahkan tahun lalu, sektor ini mampu tumbuh sebesar 3,45%, melonjak tajam dibanding tahun 2016 yang mencapai 1,76%.
"Sebesar 30% pakaian jadi dari hasil industri tekstil kita adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, sedangkan 70 persennya untuk ekspor," ungkap Muhdori.
Kemenperin mencatat, nilai ekspor industri TPT nasional mencapai US$ 12,58 miliar pada tahun 2017 atau naik 6% dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, sektor ini menyumbang ke PDB sebesar Rp 150,43 triliun di tahun 2017.
Saat ini, pemerintah tengah berupaya membuat perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk memperluas pasar ekspor TPT lokal.
"Salah satu sasaran ekspor industri TPT kita sekarang, yakni Amerika dan Eropa," tutur Muhdori.
Pasalnya, produk TPT negara tetangga seperti Vietnam bisa masuk ke pasar Amerika dan Eropa dengan tarif bea masuk 0%, sedangkan bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5-20%.
"Untuk itu, perlu adanya bilateral agreement tersebut," ucapnya.
Pada tahun 2018, Kemenperin mematok ekspor industri TPT sebesar US$ 13,5 miliar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,95 juta orang. Tahun 2019, ekspornya diharapkan bisa mencapai US$ 15 miliar dan menyerap sebanyak 3,11 juta tenaga kerja.
"Sektor ini mampu memberikan share ekspor dunia sebesar 1,6%," imbuhnya.
Human Resources Management General Manager PT Pan Brothers Tbk. Nurdin Setiawan meyakini, penerapan revolusi industri 4.0 tidak akan mengurangi jumlah tenaga kerja di perusahaannya. Era digital tersebut akan difokuskan pada peningkatan produksi dengan pemanfaatan teknologi terkini.
"Jadi, implementasi industri 4.0 tidak berpengaruh terhadap pengurangan tenaga kerja," tegasnya.
Hal ini dibuktikan, ketika pabrik melakukan otomatisasi, sejumlah tenaga kerja dialihkan ke bagian perakitan produk (assembly) sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Nurdin juga menyatakan, otomatisasi yang dilakukan perusahaan dalam proses produksi malah dapat menambah output hingga dua kali lipat. Ini merupakan bentuk efisiensi mengingat pihaknya tidak perlu menambah pabrik baru.
"Artinya, pekerja tidak kita kurangi, tetapi output bisa naik berkali lipat sehingga dengan kapasitas sekarang 90 juta pieces per tahun, itu tanpa harus menambah factory baru," ujarnya. (adv/adv)











































