Pascagempa Lombok, Basarnas Fokuskan Penanganan Longsor

Pascagempa Lombok, Basarnas Fokuskan Penanganan Longsor

Kabar Basarnas - detikNews
Jumat, 10 Agu 2018 00:00 WIB
Pascagempa Lombok, Basarnas Fokuskan Penanganan Longsor
Foto: dok. Basarnas
Jakarta -

Pascagempa Lombok, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) atau SAR Nasional saat ini sedang memprioritaskan operasi di area terjadinya longsor. Adapun daerah prioritasnya yakni Dusun Dompu Indah, Kecamatan Kayangan dan Masjid Jabbal Nur di Dusun Lading-lading, Kecamatan Tanjung yang terdampak gempa.

Pada pengoperasian daerah prioritas tersebut, total tim gabungan yang terlibat dalam operasi hari sebanyak 181 anggota yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan masyarakat dari berbagai organisasi. Di samping alat konvensional seperti cangkul, yang sangat diperlukan mengingat lokasi longsong masih rawan, beberapa peralatan turut dikerahkan. Misalnya peralatan ekstrikasi dan alat proteksi diri (ADP) untuk masih-masing anggota serta penyemprot air (alkon) turut digunakan.

Menurut Basarnas, longsor di dusun ini menggerus tanah dan menyebabkan terbentuknya tebing vertikal setinggi kurang lebih 30 meter. Hal ini juga yang membuat lokasi kejadian menjadi cukup ekstrem dan berisiko terhadap keselamatan para rescuer.

Pascagempa Lombok, Basarnas Fokuskan Penanganan LongsorFoto: dok. Basarnas

Longsor tersebut mengakibatkan jarak antara rumah warga dengan bibir tebing jurang yang sebelumnya 25 meter menjadi berada persis di atas bibir tebing. Tim SAR yang sudah dikerahkan sejak H+1 longsor tersebut sampai saat ini masih berlanjut menggunakan teknik penyemprotan air menggunakan mesin alkon untuk membuka akses menuju tempat diduga adanya korban jiwa.

Suplai air yang digunakan berasal dari sungai yang mengalir di jurang tebing tersebut. Selain itu, tim juga mengurai tanah longsor menggunakan cangkul.

"Upaya itu menjadi satu-satunya cara yang bisa kami lakukan. Kami tidak dapat mengerahkan alat berat eskavator karena akses atau jalan menuju lokasi tersebut terputus. Selain itu, kondisi tanah yang gembur dan tebing vertikal setinggi 30-an meter itu sangat membahayakan tim yang bekerja di bawahnya jika terjadi gempa atau longsor susulan," ujar SAR Mission Coordinator (SMC) didampingi Agus Haryono, Kasubdit Pengerahan Potensi dan Pengendalian.

Informasi yang diperoleh Basarnas dari keluarga korban dan kepala dusun serta masyarakat, ada empat korban yang diduga terbawa dan tertimbun longsor. Korban tersebut bernama Hendra (33) pegawai honorer di Kabupaten Lombok Utara beserta dua anaknya masing-masing berumur 9 dan 1,7 tahun.

Korban lainnya adalah tetangga dekat korban. Keempat korban tersebut dinyatakan hilang sejak gempa Lombok 7,0 SR Minggu (5/8/2018) malam lalu.

Di tempat berbeda, tim SAR yang bergerak di Masjid Jabbar Nur mengorientasikan pergerakan dengan menggeser kubah masjid yang selama ini menjadi polemik terkait ada atau tidaknya korban jiwa yang tertimbun. Namun warga sekitar masjid tidak ada yang melaporkan keluarganya yang hilang.

Pascagempa Lombok, Basarnas Fokuskan Penanganan LongsorFoto: dok. Basarnas

Terkait adanya jemaah pendatang yang ikut salat berjamaah di masjid juga tak ada bukti pasti. Di posko utama maupun posko Basarnas tak ada yang melaporkan bila ada keluarga mereka yang hilang.

"Kami berupaya membongkar reruntuhan tersebut untuk memastikan ada atau tidaknya korban sekaligus menjawab simpang siur informasi yang berkembang di masyarakat," pungkasnya.

Selain itu, helikopter Doulphin HR-3603 SRU udara hari ini melaksanakan dropping logistik di kawasan Kecamatan Bayan, Lombok Utara.

(adv/adv)
Berita Terkait