Dalam rangka mendukung kemampuan berkoordinasi dengan negara tetangga, Badan SAR Nasional (Basarnas) melalui Kantor SAR Kota Medan menggelar latihan bersama dengan SAR Malaysia. Turut serta pada kegiatan ini di antaranya BMKG, TNI, Polri dan instansi terkait.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas, Didi Hamzar, mengungkapkan, latihan ini digelar sejak 30 Juli hingga 3 Agustus 2018. Kali ini kegiatan digelar di Medan, Sumatera Utara karena terdapat wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di Medan, kegiatan ini digelar di Kantor SAR Medan, Rabu (1/8/2018).
Didi menjelaskan digelarnya latihan bersama antar kedua negara ini bertujuan untuk menguji atau mengasah kemampuan personel SAR yang selama ini telah menggelar latihan. Maka sewaktu-waktu jika ada bencana, personel SAR tanggap dalam menanganinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Latihan ini bertujuan untuk menguji kemampuan tanggap bencana di wilayah perbatasan (Foto: dok. Basarnas) |
Melalui latihan ini, lanjut Didi, diharapkan akan memudahkan pengerahan unsur-unsur operasi SAR. Apabila terjadi kecelakaan pada batas kedua negara, maka masing-masing negara harus membuat security clearence yang nantinya diurus oleh duta besar atau kementerian.
"Jadi ketika terjadi kecelakaan di wilayah perbatasan yakni Selat Malaka, unsur SAR terdekat kita yaitu di Tanjung Balai-Asahan langsung terjun ke lapangan. Selain personel, peralatan seperti helikopter, kapal, dan lainnya dikerahkan juga setelah dilakukan perencanaan sebelumnya," jelasnya.
Kepala Kantor SAR Medan Toto mengatakan dengan adanya pelatihan bersama ini ke depannya sudah terbiasa untuk tanggap bencana pada wilayah perbatasan. Artinya, bisa lebih cepat memberikan informasi dan menggelar operasi SAR bersama dalam mengatasi bencana karena sudah saling mengerti apa yang harus dilakukan.
"Kami ingin sinergi kedua negara ini semakin membaik, meningkat dan efektif. Sebab, semakin cepat informasi yang kita sampaikan dalam layanan operasi SAR maka semakin besar peluang korban terselamatkan. Namun jika semakin lama waktu informasi yang disampaikan maka semakin kecil peluang korban diselamatkan," katanya.
SAR Kota Medan bersama SAR Malaysia (Foto: dok. Basarnas) |
Toto juga menjelaskan pada pelatihan ini disimulasikan telah terjadi loss contact terhadap pesawat ATR 72 dengan rute penerbangan Kualanamu Internasional Airport (KNIA) menuju Subang. Pesawat tersebut diperkirakan kehilangan kontak dengan pihak ATC Bandara Kualanamu di Selat Malaka, perbatasan wilayah Indonesia-Malaysia.
"Dari informasi yang diterima pihak bandara, kita menggali kembali dengan menanyakan di mana lokasi, kronologi, data penerbangan dan lainnya. Setelah itu, dilakukan ploting atau kroscek lokasi kejadian di peta. Ternyata, hasilnya diketahui terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia," paparnya.
Maka Toto mengatakan langkah selanjutnya adalah melakukan koordinasi dengan pihak SAR Malaysia. Sebab, sesuai kesepakatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perbatasan kedua negara akan dilakukan operasi bersama.
Sementara perwakilan SAR Malaysia M Ishaq mengungkapkan latihan bersama ini sangat bermanfaat bagi kedua negara dalam menghadapi bencana, terutama di wilayah perbatasan.
"Latihan bersama tanggap bencana ini bukan kali pertama dilakukan, melainkan sebelumnya sudah terjalin. Akan tetapi, dengan latihan ini dapat lebih memperkuat kemampuan dan koordinasi kedua negara," pungkasnya.












































Latihan ini bertujuan untuk menguji kemampuan tanggap bencana di wilayah perbatasan (Foto: dok. Basarnas)
SAR Kota Medan bersama SAR Malaysia (Foto: dok. Basarnas)