Menanggapi data tersebut, Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan ini adalah pertama kalinya Indonesia mendapatkan tingkat angka kemiskinan satu digit. Meskipun penurunan jumlah penduduk tidak yang paling tinggi.
BPS juga mencatatjumlah penduduk miskin di Indonesia berkurang sekitar 630 ribu orang menjadi 25,95 juta orang pada Maret 2018 dibandingkan September 2017 sebanyak 26,58 juta orang. Namun penurunan periode Maret 2017 ke September 2017 pernah lebih tinggi daripada Maret 2018, yaitu 1,2 juta orang.
Penurunan penduduk miskin, lanjut Suhariyanto, terjadi karena penyaluran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah meningkat 87,6 persen pada kuartal I 2018 dibandingkan kuartal I 2017 yang hanya tumbuh 3,39 persen.
(Foto: dok. Kementerian Sosial) |
"Selain itu, karena ada peningkatan penyaluran program beras sejahtera (rastra) dan Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) pada kuartal I 2018," jelas Suhariyanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/7/2018).
Pada triwulan pertama, bantuan rastra dan BPNT telah tersalurkan sesuai jadwal. Data Bulog menunjukkan realisasi distribusi bansos rastra pada Januari 2018 sebesar 99,65 persen, bulan berikutnya 99,66 persen, dan Maret 2018 sebanyak 99,62 persen.
Maka progam yang dijalankan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) ini berhasil menekan angka kemiskinan di tengah laju inflasi pada periode September 2017-Maret 2018 sebesar 1,92 persen.
Selain itu, BPS juga merilis profil kemiskinan di Indonesia pada Maret 2018 berdasarkan pulau. Di Pulau Jawa terdapat 6,82 juta pada perkotaan dan 12,81 pada pedesaan. Lalu di Sumatera 8,65 juta pada perkotaan dan 11,6 6 juta pada pedesaan.
Di Pulau Kalimantan terdapat 4,33 juta dan 7,60 juta pada pedesaan. Kemudian Bali-Nusa Tenggara tercatat 9,18 juta untuk perkotaan dan 17,77 juta pada pedesaan. Untuk Sulawesi terdapat 5,83 juta di perkotaan dan 13,68 di pedesaan. Terakhir, Maluku-Papua tercatat 5,03 juta di perkotaan dan 29,15 di pedesaan.
(adv/adv)












































(Foto: dok. Kementerian Sosial)