Sembako Mahal Jadi Perhatian Masyarakat Jabar

Sembako Mahal Jadi Perhatian Masyarakat Jabar

Advertorial - detikNews
Senin, 04 Jun 2018 00:00 WIB
Sembako Mahal Jadi Perhatian Masyarakat Jabar
Ridwan Kamil (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Pilkada Jawa Barat tinggal menghitung hari. Namun masih ada sejumlah permasalah yang belum ditemukan solusinya oleh Pemerintah Provinsi Jabar saat ini, salah satunya harga bahan pangan (sembako) yang melambung tinggi.

Menurut survei yang dilansir Indo Barometer, sembako mahal menempati peringkat kedua sebagai permasalahan tertinggi di Jabar. Persentasenya sebesar 17,9 persen setelah tingginya angka pengangguran sekitar 23,5 persen.

Faktor pemicu mahalnya harga sembako yaitu tingginya biaya produksi. Hal tersebut didapatkan dari laporan inflasi triwulanan Bank Indonesia Jabar.

"Jika distribusi lebih singkat maka harga pangan juga akan lebih murah. Konsumen bisa menikmati harga murah, tapi di sisi lain petani harga jualnya lebih baik karena tidak memakai tengkulak," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jabar Doni P Joewono dalam keterangannya, Senin (4/6/2018).

Doni melanjutkan, untuk menekan mahalnya harga distribusi, pihak pemprov Jabar dapat memanfaatkan teknologi atau membuat aplikasi khusus untuk petani.

"Bisa dikembangkan bersama-sama Kementerian Kominfo dan Kementerian Pertanian," tambahnya.

Ekonom asal Bandung yang kini menjadi dosen di Boston College dan Framingham State University Amerika Serikat, Fahlino Sjuib menambahkan, tingginya harga bahan pangan hanyalah puncak gunung es. Hal itu dipicu karena tidak meratanya pertumbuhan ekonomi di Jabar.

"Konsep ekonomi Jawa Barat ke depan harus mengarah kepada beberapa aspek, yaitu adil dan berlanjutan, mandiri, berdaya saing, serta berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengandalkan potensi daerah," ungkapnya.

Oleh karena itu, Gubernur Jawa Barat yang baru juga harus mampu menyelesaikan ketimpangan ekonomi di setiap daerah. Menurut Fahlino, pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) memiliki program inovasi teknologi untuk memotong jalur distribusi.

"Dengan begitu ketimpangan ekonomi di daerah Jawa Barat akan berkurang," katanya.

Lanjut dia, Jabar membutuhkan perubahan, mengingat besarnya potensi Jabar yang hingga saat ini masih belum tergali dengan baik.

"Kita menyadari bahwa kita dihadapkan pada dunia yang berubah dengan cepat dan perubahan ini mendatangkan tantangan dan peluang baru yang akan sangat berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah kita saksikan dan alami," tutupnya. (adv/adv)

Berita Terkait