Begini Cara Sido Muncul Kenalkan Obat Herbal & Jamu di Dunia Medis

Advertorial - detikNews
Senin, 26 Mar 2018 00:00 WIB
Penggunaan obat herbal pada dunia medis memang tak jarang menimbulkan kontroversial.
Jakarta - Penggunaan obat herbal pada dunia medis memang tak jarang menimbulkan kontroversial. Banyak pertanyaan yang datang dari masyarakat seputar penggunaan obat herbal dan jamu, seperti dosis serta efek sampingnya. Maka PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk secara konsisten menggelar seminar herbal di kalangan dokter, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Untuk ke-39 kalinya, Sido Muncul kembali menggelar seminar 'Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat'. Kali ini seminar diadakan di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Sabtu (24/3/2018). Melalui seminar ini, Sido Muncul membuka wawasan luas tentang pentingnya penggunaan obat herbal pada dunia medis.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengungkapkan seminar herbal digelar dengan tujuan agar para dokter punya wawasan yang luas mengenai perkembangan industri jamu. Diharapkan seminar ini bisa mengantarkan para dokter meneliti dan menggunakan obat herbal serta jamu untuk pelayanan kesehatan.

"Kami terus adakan seminar herbal untuk menghilangkan berbagai mitos tentang obat herbal dan jamu. Tanaman herbal di Indonesia itu banyak, tinggal diteliti apakah aman dikonsumsi," katanya.

Melalui seminar ini, Sido Muncul mengundang beberapa ahli untuk memberikan pemaparan mengenai penggunaan obat herbal. Adapun ahli yang diundang di antaranya Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes Ina Rosalina, Guru Besar Universitas Diponegoro Edi Dharmana, peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Ipang Djunarko, dan Unit Riset Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Erida Wydiamala.

Begini Cara Sido Muncul Kenalkan Obat Herbal & Jamu di Dunia Medis

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat memaparkan pentingnya penggunaan obat herbal di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (Foto: detikcom)

Seminar ini juga digelar dengan tujuan meluruskan mitos yang beredar seputar penggunaan obat herbal dan jamu. Salah satunya mitos tentang penggunaan Tolak Angin.

"Misalnya di beberapa masyarakat, Tolak Angin dikatakan bisa menyebabkan impoten, padahal tidak begitu. Kami telah meneliti Tolak Angin yg mengandung mint tidak menganggu produksi ovariom atau testis. Kami punya bukti lewat penelitian," jelasnya.

Soal penggunaan obat herbal, Ipang Djunarko memaparkan penelitiannya tentang Tolak Angin yang terbukti lolos uji toksisitas. Penelitian ini makin menguatkan bahwa mitos seputar bahaya obat herbal atau jamu tidak benar.

"Saya dan tim melakukan uji toksisitas Tolak Angin cair pada tikus sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kualitas produk dari Tolak Angin cair. Diteliti agar mendapatkan tingkatan kualitas yang lebih tinggi dari sekadar jamu. Tolak Angin juga telah dinyatakan sebagai obat herbal terstandar oleh BPOM. Artinya ada jaminan kualitas yang lebih tinggi karena sudah diuji praklinik," paparnya.

Produk Tolak Angin dari Sido Muncul telah melakukan berbagai penelitian, yaitu uji toksisitas dan uji khasiat dengan Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro. Hasilnya minum Tolak Angin dalam jangka panjang tidak menimbulkan efek samping jika diminum sesuai dosis anjuran (tidak menimbulkan efek toksit bagi organ tubuh).

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Zairin Noor juga mengatakan bahwa sudah seharusnya dokter, peneliti, dan perusahaan bekerja sama untuk memanfaatkan obat herbal yang ada di Indonesia.

"Sebenernya herbal seperti dari ikan dan tumbuh-tumbuhan banyak yang berpotensi menjadi obat. Tanaman herbal di Indonesia kan banyak cuma kenapa yang baru terdaftar di Depkes cuma enam? Jadi mari bersatu antara research center universitas dan perusahaan seperti Sido Muncul supaya apa yang diteliti bisa jadi produk dan dipatenkan. Jangan sampai seperti pasak bumi dipatenkan Malaysia, mengkudu oleh Amerika, padahal kita punya banyak tanaman itu. Jangan sampai malas meneliti herbal karena banyak potensinya," tegasnya. (adv/adv)