Total Fertility Rate (TFR) atau jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya di Jawa Tengah, pada 2017 mengalami penurunan. Apabila pada 2016 TFR tercatat 2,5, pada tahun ini menjadi 2,3.
Angka tersebut lebih rendah dari TFR nasional yang masih berada pada angka 2,4, sesuai hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017.
Kepala Biro Kepegawaian BKKBN, Djusni Meirida yang mewakili Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo, memberikan apresiasi terhadap kerja keras seluruh pengelola dan petugas Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) atas capaian TFR tersebut. TFR secara nasional juga menurun dari 2,6 pada SDKI 2016 menjadi 2,4 pada SDKI 2017.
Rakorda Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Jateng (Dok. Pemprov Jateng). |
Sementara, peserta KB baru hanya 53,16% dari perkiraan permintaan masyarakat sebanyak 1.544.366 jiwa. Menurutnya, pengetahuan pasangan usia subur mengenai alat kontrasepsi modern perlu menjadi perhatian serius.
"Dari jumlah peserta KB baru, 95,77% perempuan, dan laki-laki 4,23%. KB yang terbanyak digunakan KB suntik sebesar 53,06%. Sebanyak 57,37% pelayanan KB dilakukan di pelayanan pemerintah," ungkap dia.
Plt Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko di Rakorda (Dok. Pemrov Jateng). |
Sudah banyak bukti, bangsa yang punya kualitas SDM yang bagus menjadi bangsa yang unggul. Dia menunjuk contoh Vietnam yang sudah lebih maju. Untuk menciptakan kualitas SDM yang bagus, ditentukan sejak anak berada di dalam kandungan.
Jika saat di kandungan gizinya sudah tidak terpenuhi, besar kemungkinan anak menderita stunting atau kekurangan gizi kronis. Akibatnya antara lain, tubuh anak pendek, terjadi penurunan fungsi (adv/adv)












































Rakorda Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Jateng (Dok. Pemprov Jateng).
Plt Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko di Rakorda (Dok. Pemrov Jateng).