Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo M Kes menjelaskan stunting adalah kondisi seseorang lebih pendek dibanding rata-rata orang seusianya. Stunting disebabkan kurangnya asupan gizi yang diterima janin atau bayi.
"Biasanya stunting baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Itu karena gangguan gizi kronis, bukan sesaat. Kalau sesaat kan paling-paling kurus," bebernya pada workshop pelaksanaan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Provinsi Jawa Tengah baru-baru ini.
Dia menambahkan, prevalensi stunting di Indonesia masih terhitung tinggi, yakni 37,2 persen. Artinya satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting. Di Jawa Tengah stunting sebanyak 28 persen.
Yulianto mengatakan stunting tidak hanya membuat tinggi tubuh terhambat, stunting dapat mengakibatkan mudah sakit, berkurangnya kemampuan kognitif, fungsi tubuh tidak seimbang,mengakibatkan kerugian ekonomi, postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Saat tua pun seorang stunting bisa berisiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan.
Kendati begitu, stunting dapat dicegah. Hal yang paling penting adalah pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan dengan memperhatikan kecukupan gizi selama kehamilan, memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan, serta memberikan makanan pendamping ASI sesuai kecukupan gizi anak.
Sementara bagi anak yang sudah terlanjur stunting dapat mengonsumsi pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan, stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan.
![]() |
Mengingat pentingnya pencegahan stunting, pemerintah berupaya melakukan pencegahan melalui berbagai kegiatan, antara lain pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri, calon pengantin, serta ibu hamil. Kemudian melakukan promosi ASI eksklusif dan promosi makanan pendamping ASI.
Ada pula pemberian suplemen gizi mikro (Taburia), suplemen gizi makro (PMT), tata laksana gizi kurang/buruk, suplementasi vitamin A , promosi garam iodium, air bersih, sanitasi, dan cuci tangan pakai sabun, pemberian obat cacing, serta bantuan pangan non-tunai.
Pada 2018 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Kesehatan fokus mencegah stunting dengan pemberian tablet penambah darah, fortifikasi zat besi pada makanan, pencegahan cacingan, serta terus mendorong pemberian ASI ekslusif, dan konsumsi garam beriodium secara benar.
"Tapi pencegahan tidak akan efektif tanpa peran serta masyarakat. Apa yang dilakukan sektor kesehatan hanya bisa berkontribusi 20-30 persen. Tapi, masyarakat bisa melakukan intervensi melalui berbagai kegiatan di luar sektor pembangunan, yang justru memegang peranan 70-80 persen," tegas Yulianto.
Beberapa pembangunan yang bisa dilakukan masyarakat di antaranya, penyediaan air bersih dan sanitasi, menjaga ketahanan pangan dan gizi keluarga melalui pemanfaatan pekarangan dengan tanaman pangan maupun ternak. Mereka juga diharapkan ikut program Keluarga Berencana. (adv/adv)












































