Lewat Mural, Dua Seniman Perempuan Indonesia Ini Go International

Lewat Mural, Dua Seniman Perempuan Indonesia Ini Go International

Advertorial - detikNews
Kamis, 11 Jan 2018 00:00 WIB
Lewat Mural, Dua Seniman Perempuan Indonesia Ini Go International
Bunga Fatia dan Karina Deagusta berfoto di depan mural di kawasan Little India (Foto: Singapore Tourism Board)
Jakarta - Profesi seniman masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Masih banyak orang tua yang tidak mengizinkan anaknya menjadi seniman. Hal inilah yang awalnya dialami oleh Karina Deagusta. Perempuan yang menggeluti seni mural ini berjuang melawan stigma negatif yang selalu melekat pada seniman mural.

"Orang tua lebih suka aku beli baju daripada beli cat," ungkap Kare, panggilan akrab Karina.

Namun hal itu tidak meruntuhkan semangat muralnya. Kare justru makin rajin mengasah kreativitasnya hingga ke mancanegara. Hal ini juga dialami oleh Bunga Fatia. Mahasiswi lulusan Universitas Multimedia Nusantara jurusan Desain Grafis ini juga mengejar cita-citanya dalam bidang seni mural sampai mancanegara.

Ia mengaku meskipun keputusannya didukung oleh orang tua yang juga berprofesi sebagai seniman, ia masih mendengar stigma negatif dari orang di sekitarnya. Secara umum, dunia mural memang dikenal sebagai dunia laki-laki.

Bunga Fatia dan Karina Deagusta berfoto di depan mural di kawasan Kampong Glam (Foto: Singapore Tourism Board)Bunga Fatia dan Karina Deagusta berfoto di depan mural di kawasan Kampong Glam (Foto: Singapore Tourism Board)

"Ketika aku pertama ikutan exhibition, aku satu-satunya anak perempuan yang tertarik sama mural dan street art. Kayaknya laki-laki lebih suka mural karena ada adrenalin, ada faktor di pinggir jalan, dan nggak banyak orang tua yang mengijinkan anak perempuannya main di pinggir jalan," ujarnya.

Bunga terus mengejar cita-citanya hingga membentuk komunitas Ladies On Wall yang menaungi banyak street artist perempuan.

"Waktu itu, 2014, ada 9 orang sekarang 30 lebih dan sudah menjadi komunitas. Orang melihat komunitasnya unik, lalu dapat support dan membeli karya kita. Jadi melalui komunitas ini juga member-nya bisa mendapatkan penghasilan. Kita ada event tahunan juga," jelasnya.

Bunga dan Kare dipertemukan di komunitas Ladies On Wall. Akhirnya mereka memutuskan untuk terus semangat membuat mural. Melalui komunitas ini, mereka bisa menggambar lebih terarah karena ada pelatihannya.

Bunga Fatia berfoto di depan mural di kawasan Little India (Foto: Singapore Tourism Board)Bunga Fatia berfoto di depan mural di kawasan Little India (Foto: Singapore Tourism Board)

Setiap seniman memiliki ciri dan gaya khas masing-masing. Bunga misalnya, ia selalu menggunakan headset saat menggambar mural agar fokus menggambar. Untuk ciri khas muralnya, Bunga memiliki cirri gambar mata.

"Jadi harus ada unsur mata di gambar itu. Akhir-akhir ini aku lebih suka gambar mata dan muka. Aku gambar biasanya curhat. Jadi kalau aku sedih, gambarnya otomatis sedih, warnanya jadi sedih juga, aku ngga tau kenapa tapi feeling aku masuk di gambar aku," ujarnya.

Sementara Kare lebih terkenal dengan mural bergaya lettering. Gaya ini lebih jarang dipilih seniman mural perempuan sebagai ciri khasnya.

"Orang kan kenalin Bunga dari gambar, nah kalo aku orang bisa lihat oh ini font-nya si Kare," paparnya.

Bunga Fatia, Ceno2, dan Karina Deagusta (Foto: Singapore Tourism Board)Bunga Fatia, Ceno2, dan Karina Deagusta (Foto: Singapore Tourism Board)

Semangat Bunga dan Kare dalam mengejar passion membawa keduanya ke Singapura pada tahun 2017 lalu. Mereka berkesempatan mengerjakan proyek mural bersama seniman mural Singapura, Ceno2. Tidak hanya itu, mereka juga berkesempatan melihat ragam mural di jalanan Singapura yang sangat terkenal keren dan rapi.

"Ceno itu supel. Dia seperti guru yang selalu mengajarkan banyak hal. Jadi Ceno ingin kita belajar sesuatu dan bisa membawa ilmu pulang ke Indonesia," ujar Kare yang terkagum-kagum dengan mural di Singapura dan cerita-cerita yang tergambar di dalamnya.

Bunga dan Kare berharap kisah mereka di Singapura dapat menjadi batu lompatan untuk mencapai cita-cita sebagai international street artist.

Bagi kamu yang suka dengan street art, jangan lewatkan pameran Art from the Streetsdi ArtScience Museum Singapore, mulai 13 Januari sampai 3 Juni 2018. Bahkan karya milik seniman jalanan ternama Bansky dan Shepard Fairey juga akan memeriahkan pameran ini.

Singapura adalah destinasi di mana Anda dapat mewujudkan impian. Kini saatnya untuk tak sekadar hadir di acara seni budaya dan jadilah para pembentuk kebudayaan.

Lewat Mural, Dua Seniman Perempuan Indonesia Ini Go International

(adv/adv)

Berita Terkait