BUMN Bersinergi Realisasikan Proyek Renovasi Jembatan

BUMN Bersinergi Realisasikan Proyek Renovasi Jembatan

Advertorial - detikNews
Jumat, 08 Des 2017 00:00 WIB
BUMN Bersinergi Realisasikan Proyek Renovasi Jembatan
Lebak -

Jembatan merupakan salah satu infrastruktur penting untuk meningkatkan mobilitas penduduk. Dengan infrastruktur jembatan yang memadai, perekonomian di dua wilayah yang dihubungkannya turut menjadi perhatian badan-badan usaha milik negara (BUMN).

Dilatarbelakangi oleh hal tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, BRI, dan Bank Mandiri bersama BUMN-BUMN Karya bersinergi merealisasikan proyek renovasi jembatan-jembatan di berbagai daerah di pelosok Indonesia.

Salah satu jembatan yang telah rampung dibangun diresmikan oleh Menteri BUMN Republik Indonesia Rini Soemarno di Desa Sangiang Tanjung, Lebak, Banten, Jumat (8/12/2017).

Pada kesempatan tersebut, hadir Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, Direktur Utama BRI Suprajarto, Dirut Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra, Direksi Bank Mandiri, serta jajaran Direksi BUMN Karya lainnya yang turut membangun jembatan, yaitu Adhi Karya dan Waskita Karya. Tak ketinggalan hadir pula Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, jembatan merupakan infrastruktur penting karena memiliki beragam fungsi sekaligus, mulai dari fungsi ekonomi, sosial budaya, geografi, hingga fungsi kependudukan. Dengan demikian, nilai sebuah jembatan sangat tinggi, terutama bagi masyarakat yang menggunakannya setiap hari. Hal inilah yang mendorong BUMN bersinergi dan memilih jembatan sebagai objek bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR).

BUMN Bersinergi Realisasikan Proyek Renovasi Jembatan

Dari segi ekonomi, jembatan bermanfaat meningkatkanlaju perekonomian masyarakat setempat. Dengan infrastruktur jembatan yang memadai, akan muncul aktivitas ekonomi dalam bentuk pengiriman barang dan jasa di antara dua tempat yang dihubungkan oleh jembatan tersebut. Ongkos ekonomi pun akan semakin rendah karena adanya efisiensi bahan bakar berkat jarak tempuh yang semakin pendek.

Adapun dari sisi sosial budaya, sebuah jembatan dapat memberikan manfaat berupa kemudahan interaksi sosial antarmasyarakat dari tempat yang dihubungkan oleh jembatan karena arus komunikasi yang semakin mudah. Kondisi ini dapat meningkatkan ketahanan kawasan karena ikatan persaudaraan antardaerah menjadi semakin erat melalui hubungan silaturahmi yang terjalin dengan semakin mudah.

Dari sisi geografis dan kependudukan, jembatan dapat membuka peluang terjadinya pembauran atau perpindahan tempat tinggal masyarakat dari dua tempat yang dihubungkan. Peralihan ini berpotensi menumbuhkan kawasan strategis baru yang dapat menjadi sumber penghasilan penduduk. Dengan kondisi itu, maka timbul pemerataan kesejahteraan penduduk.

Dirut Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra mengatakan, ada tiga jembatan yang telah dibangun di Lebak sebagai hasil sinergi BNI, BRI, Bank Mandiri, dan Hutama Karya. Ketiga jembatan tersebut adalah Jembatan Balepunah yang dibangun BNI dan Hutama Karya, Jembatan Cisimeut dibangun BRI dan Hutama Karya, serta Jembatan Cikeuyeup dibangun bank Mandiri dan Hutama Karya.

"Kami membangun jembatan-jembatan itu sebagai bentuk bantuan CSR," ujarnya.

Sebagai gambaran, Jembatan Balepunah, Desa Sangiang Tanjung, Lebak, Banten dbangun sepanjang 67 meter dengan nilai proyek Rp 1,03 Miliar. Selain itu, Jembatan Cisimeut, Desa Sangkanwangi, Lebak, Banten sepanjang 75 meter dengan nilai proyek Rp 1,21 Miliar. Juga jembatan Cikeuyeup sepanjang 42 meter dengan nilai proyek Rp 747 juta. Total biaya proyek ketiga jembatan tersebut senilai Rp 3,289 miliar.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya menuturkan, membangun jembatan berarti membangun asa masyarakat di Lebak. Apalagi Lebak dilalui oleh 1.000 lebih jembatan gantung, dimana sekitar 500 lebih jembatan yang kondisinya rusak. Itulah makanya Lebak dikenal sebagai Kabupaten dengan banyak jembatan gantung. APBD Kabupaten Lebak hanya dapat mengalokasikan 3 jembatan permanen yang aman dilalui.

"Oleh karena itu, kami sangat berterimakasih dengan masuknya CSR dari BUMN. Karena mencari dana Rp 3 miliar lebih untuk membangun jembatan sangat sulit," ungkapnya.

Jembatan Balepunah

Sebagai gambaran, kondisi darurat Jembatan Balepunah di Desa Sangiang Tanjung, Lebak, Banten mendorong BNI dan BUMN Karya untuk membangun jembatan-jembatan yang kurang layak. Sebelum dibangun, warga di sekitar Jembatan Balepunah harus sangat hati-hati saat menyeberang karena dasar jembatan yang dibuat dari susunan papan kayu tidak stabil dan tidak permanen. Ditambah lagi, kondisi sungai dengan debit air yang cukup tinggi di bawah jembatan tersebut membuat jembatan sangat berbahaya untuk diseberangi.

Untuk membangun Jembatan Balepunah ini, BNI bekerja sama dengan Hutama Karya. Kerja sama ini terbukti mempercepat renovasi Jembatan Balepunah dari sebuah Jembatan Gantung Nonpermanen (rusak) menjadi Jembatan Gantung dengan struktur pylon baja, rangka lantai juga baja, serta kabel penggantung berupa wirerope berdiameter 40 milimeter. Setelah direnovasi, kini Jembatan Balepunah aman digunakan untuk pejalan kaki, kendaraan roda dua, hingga kendaraan roda tiga.

Selain jembatan Balepunah di desa Sangiang Tanjung, Lebak, Banten, BNI bersama BUMN Karya juga telah merampungkan Jembatan Desa Sitiris di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara; Jembatan Jorong Ambacang Kunyik di Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Utara; Jembatan Air Simpang di Kabupaten Bengkulu Utara; Jembatan Desa Meranti di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah; Jembatan Desa Kemalang di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah; Jembatan Desa Sukorejo di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur; Jembatan Desa Mekarsakti, Ciemas di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dan Jembatan Balepunah di Desa Sangiang Tanjung, Lebak, Banten.

Ada juga dua jembatan lainnya yang tengah dibangun, yaituJembatanJungcangcangdiPamekasan,Madura, Jawa Timur dan Jembatan diKabupatenKonawe, Sulawesi Selatan. Hingga Kamis (7/12/2017),BNI dan BUMN Karya berhasil merampungkan 8 jembatan dengan total panjang sekitar 500 meter di berbagai lokasi.

(adv/adv)
Berita Terkait