Holding BUMN, Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional

Holding BUMN, Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional

Advertorial - detikNews
Kamis, 07 Des 2017 00:00 WIB
Holding BUMN, Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional
Jakarta - Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi semen. Sejak 1909 hingga 1974, pasar semen Indonesia 100 persen dikuasai ketiga produsen semen tersebut.

Namun kehadiran produsen semen swasta telah mengubah pasar di Indonesia. Sejak 1974, ketiga produsen semen tak lagi mendominasi pasar nasional. Bahkan, mulai 1984 hingga 1989 ketiga BUMN hanya mampu menguasai 31,4 persen pasar domestik.

Pemerintah pun tak tinggal diam dan menyelamatkan perusahaan pelat merah itu dengan penguatan BUMN. Caranya dengan menyatukan mereka dalam satu perusahaan induk (holding).

Holding ini ditandai dengan bergabungnya Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Bergabungnya BUMN produsen semen ini merupakan bentuk Penguatan BUMN pertama kali.

Holding BUMN pun tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan Terbatas.

Menurut Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto, awal terbentuknya perusahaan induk tersebut dimulai sejak 1995. Setelah itu, kekuatan organisasi perlahan meningkat.

"Dengan bergabung jadi satu, kami tak perlu membangun pabrik sendiri-sendiri. Selain itu, sumber daya manusia terbaik dapat kami hadirkan di perusahaan induk," ujar Agung saat diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema "Mengapa Perlu Holding BUMN?" di Kantor Kementerian Kominfo, Selasa (5/12/2017).

Beberapa tahun setelah terbentuk, perusahaan induk industri semen itu berhasil menorehkan catatan positif. Jika pada 2014 volume penjualan total domestik dan regional sebesar 28,5 juta ton, pada 2016 angkanya menyentuh 29,1 juta ton.

Ia melanjutkan, pascapenggabungan itu Semen Indonesia juga mampu memperluas jangkauan pemasaran hingga seluruh Indonesia. "Tantangan bisnis semen adalah distribusi dan logistik. Sekarang kami memiliki semua itu setelah menjadi satu," ucap Agung.

Geliat bisnis itu tercermin dari kinerja Semen Indonesia saat ini. Korporasi itu menjadi raja penjualan semen domestik dengan pangsa pasar mencapai 47,1 persen. Semen Indonesia berhasil membukukan pendapatan Rp 26,134 triliun pada 2016.

Holding BUMN, Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional

Dalam persaingan global, konsep penguatan BUMN seperti ini sudah lazim. Contohnya Singapura yang memiliki perusahaan induk Temasek.

Temasek yang berdiri sejak 1974, membawahi sejumlah BUMN dan mempunyai aset mencapai SGD Rp 275 miliar atau Rp 2.750 triliun. Lainnya adalah Malaysia yang memiliki perusahaan induk BUMN Khazanah Nasional.

Berkaca dari keberhasilan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, serta Temasek dan Khazanah Nasional, pemerintah kembali menerapkan kebijakan peleburan lainnya yaitu dengan membuat perusahaan induk BUMN bidang pertambangan.

Kali ini giliran PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk yang akan menjadi satu di bawah PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Wianda Pusponegoro mengatakan, hadirnya perusahaan induk pertambangan itu memberi dampak positif bagi Tanah Air. Sebagai contoh, proses hilirisasi tambang dapat terwujud di dalam negeri.

"Hakikat BUMN adalah menjadi agen pembangunan nasional. Demikian pula, dalam hal pengelolaan sumber daya alam harus menguntungkan segenap masyarakat," tuturnya.

Kehadiran perusahaan induk, lanjut Wianda, berdampak positif untuk mempercepat laju kinerja BUMN. Efisiensi dapat terwujud baik dari segi pengambilan keputusan strategis maupun anggaran.

Bersatunya sejumlah entitas bisnis sejenis membuat alat operasional dapat dipakai bersama-sama. Hal itu tentu menghemat pengeluaran dibandingkan jika setiap BUMN melakukan investasi sendiri-sendiri.

"Ke depan, perusahaan induk BUMN diharapkan terwujud pada sektor perbankan, pangan, perumahan, migas, serta konstruksi dan jalan tol," imbuh Wianda.

Kontribusi Besar

Efisiensi seperti ini amat penting bagi BUMN. Dengan total 118 BUMN pada 13 sektor, BUMN hadir untuk membawa kesejahteraan bagi segenap rakyat Indonesia.

Kuatnya BUMN Tanah Air tercermin dari besarnya total aset yang mencapai Rp 6.694 triliun per semester I tahun 2017. Pendapatan pun menyentuh Rp 936 triliun.

Adapun kontribusi pajak dan dividen BUMN terhadap anggaran pendapatan belanja negara (APBN) juga relatif stabil. Pada 2014 angkanya sebesarRp 211 triliun. Kemudian, pada 2016 kontribusinya sebesar Rp 203 triliun.

Holding BUMN, Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional

Menurut Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatawarta hadirnya perusahaan induk diharapkan mampumeningkatkan investasi BUMN. Dengan begitu, BUMN dapat meraih tambahan modal tanpa bergantung pada APBN.

"Kondisi itu membuat APBN bisa dialihkan untuk kebutuhan sosial lain, misalnya pemerataan pembangunan daerah pinggiran," ujar Isa.

Dia memastikan, proses pembentukan perusahaan induk tidak mengurangi kontribusi BUMN terhadap negara, yaitu setoran pajak dan dividen.

Ketangguhan BUMN itu selaras dengan semangat Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Utamanya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis domestik dan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing bangsa.

Berdasarkan laporan Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dikeluarkan World Economic Forum, peringkat daya saing Indonesia terus membaik. Saat ini Indonesia menempati posisi ke-36 dari 137 negara atau naik 5 peringkat dari tahun sebelumnya di posisi ke-41. (adv/adv)

Berita Terkait