Para guru penerima SK Inpassing 2017 dan kiai-nyai muda yang tergabung dalam korps Penyuluh Agama Honorer dari beberapa kabupaten seputar Surakarta mendengarkan paparan toleransi, negara Pancasila, dan radikalisme dari anggota Komisi Keuangan DPR itu.
"Pancasila adalah hadiah terbesar umat Islam untuk bangsa Indonesia," ujar Romi di Hotel Diamond, Surakarta, Sabtu (28/10/2017).
Romi mengatakan, jika mau sungguh-sungguh berjuang untuk Islam, perkuat saja politik Islam di parlemen dalam pemilu (Dok. PPP) Foto: ppp |
Menurut Romi, sila pertama yang dalam Piagam Jakarta berujung 'dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' diubah menjadi 'Yang Maha Esa' oleh kesepakatan para ulama, yaitu Kiai Wahid Hasyim dari NU dan Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah bersama dengan bung Hatta, pada 18 Agustus 1945. Semuanya itu demi tetap bersatunya Sabang sampai Merauke.
Dikatakannya, siapapun yang berkeinginan menggangu NKRI, apakah atas nama liberalisme, komunisme, maupun radikalisme, sesungguhnya sedang membelakangi para ulama pendiri bangsa.
"Kalau cinta Islam dan cinta ulama, pasti cinta NKRI. Karena sebagaimana Piagam Madinah, Pancasila adalah kalimatun sawa'. Semua agama di Indonesia bisa bertemu," lanjutnya.
Romi memaparkan tentang toleransi, negara Pancasila, dan radikalisme (Dok. PPP) Foto: ppp |
Tidak pada tempatnya jika masih ada warga negara Indonesia yang berkeinginan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme dan menganggap Pancasila dan UUD 1945 sebagai tagut sehingga tidak wajib ditaati.
"Untuk mewujudkan Indonesia yang Islami, tidak perlu menjadikan Indonesia sebagai negara Islam atau khilafah, karena hukum Islam telah diadopsi menjadi undang-undang secara bertahap oleh perjuangan partai-partai berbasis Islam seperti PPP," urai mantan Ketua Komisi Kehutanan DPR itu.
Romi menegaskan, jika mau sungguh-sungguh berjuang untuk Islam, perkuat saja politik Islam di parlemen dalam pemilu.
Bertepatan peringatan Sumpah Pemuda, ia menutup paparannya tentang perlunya sumpah setia untuk satu bangsa, satu Tanah Air, dan satu bahasa, serta satu kepentingan, yaitu Indonesia.
(adv/adv)












































Romi mengatakan, jika mau sungguh-sungguh berjuang untuk Islam, perkuat saja politik Islam di parlemen dalam pemilu (Dok. PPP) Foto: ppp
Romi memaparkan tentang toleransi, negara Pancasila, dan radikalisme (Dok. PPP) Foto: ppp