Forum Parlemen Dunia Cari Solusi Akhiri Kekerasan Rohingya

Forum Parlemen Dunia Cari Solusi Akhiri Kekerasan Rohingya

Advertorial - detikNews
Kamis, 07 Sep 2017 00:00 WIB
Forum Parlemen Dunia Cari Solusi Akhiri Kekerasan Rohingya
Bali - Isu kekerasan terhadap etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar, menjadi sorotan dunia internasional. Forum Parlemen Dunia akan mencari solusi mengakhiri kekerasan Rohingya.

"Dalam sesi ini saya mendorong Anda semua untuk lebih jauh mengeksplorasi segala cara yang diperlukan untuk mengakhiri kekerasan dan segala bentuknya dan mencari tindakan lebih lanjut dalam peran parlementer kita untuk mencapai perdamaian dengan biaya apapun," ujar Ketua BKSAP DPR Nurhayati Ali Assegaf, Rabu (6/9/2017).

Nurhayati mengatakan itu dalam World Parliamentary Forum yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center. Perhelatan yang berlangsung 6-7 September ini dihadiri oleh 285 delegasi dari 47 parlemen dari berbagai negara.

Forum Parlemen Dunia Cari Solusi Akhiri Kekerasan Rohingya

Negara yang hadir di antaranya Bhutan, Chile, Fiji, Ghana, India, Zimbabwe, Canada, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, Portugal, Qatar, Korea Selatan, dan Turki. Hadir juga 19 observer, di antaranya ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Dengan mengangkat tema 'Achieving the 2030 Agenda through Inclusive Development', forum ini membahas perencanaan peran parlemen di berbagai negara dalam menyukseskan Agenda Pembangunan 2030.

Salah satu topik pleno yang dibahas adalah tentang mengakhiri kekerasan dan mempertahankan perdamaian. Perdamaian merupakan aspek prasyarat bagi pembangunan untuk tumbuh. Dalam upaya untuk mempertahankan perdamaian, seharusnya tidak ada ruang untuk kekerasan.

"Berkenaan dengan hal ini, saya sangat prihatin dengan kenyataan bahwa kekerasan masih terjadi di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, membunuh Rohingya yang tidak bersalah termasuk yang paling rentan, wanita dan anak-anak. Saya akan meminta semua hadir untuk bangkit sejenak untuk keheningan saat mengenang korban serangan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar baru-baru ini," tuturnya.

Nurhayati mengatakan serangan terang-terangan kekuatan militer kepada Rohingya dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. "Kita seharusnya tidak membiarkan hal itu terjadi lagi," ungkapnya. (adv/adv)
Berita Terkait