Acara akan digelar di Kampus II Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Parung, Bogor, Sabtu (26/8/2017).
Seminar nasional ini akan dihadiri oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Yudi Latief (Ketua UKP-PIP), Mustain Mashud (sosiolog Unair), Daniel Dhakidae (pengamat politik), dan Rachma Ida (pengamat media Unair).
Menurut Sekretaris LPTNU Lukmanul Khakim, acara seminar nasional ini merupakan bagian dari upaya untuk mengajak kembali memaknai kebhinekaan dalam arti yang sesungguhnya.
Sebab, dewasa ini bangsa Indonesia telah mengalami banyak serangan dari berbagai pihak yang berupaya memecah belah antar masyarakat, antar golongan. Bahkan persatuan bangsa Indonesia itu sendiri.
"Banyak oknum yang mengatasnamakan salah satu agama, suku atau ras menyebarkan paham primordialis yang sempit. Seolah-olah golongan mereka paling baik dan paling benar," kata Lukmanul dalam keterangan tertulis, Jumat (25/8/2017).
Dijelaskannya, kebhinnekaan seharusnya dipahami sebagai sebuah kekuatan pemersatu bangsa yang keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Kebhinnekaan juga harus dimaknai masyarakat melalui pemahaman bahwa multikulturalisme itu merupakan sunnatullah, yang justru akan memperkuat bangsa Indonesia.
"Masyarakat harus diberi pemahaman hendaknya melihat perbedaan itu sebagai sebuah keragaman yang mempersatukan, menerima perbedaan sebagai sebuah kekuatan bukan sebagai ancaman atau gangguan," katanya.
Lukmanul menambahkan, konsep Bhinneka Tunggal Ika merupakan suatu semboyan yang dijadikan dasar negara Indonesia. Oleh karena itu, Bhinneka Tunggal Ika patut dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa Indonesia.
Dijelaskannya, serangan terhadap kebhinnekaan di Indonesia tidak hanya dilakukan secara verbal dan kasat mata, namun juga dari dunia maya.
"Jasa penyedia kebencian di dunia maya yang sudah tertangkap sebagai salah satu bukti nyata. Bila pemerintah tak cepat mengantisipasi hal seperti ini, sungguh kebhinnekaan bangsa Indonesia sudah dalam ancaman serius," tegasnya.
Lukmanul berharap, seminar nasional ini mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran cerdas sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam upaya menjaga kebhinnekaan di Indonesia. (adv/adv)










































