Sebagian orang pasti pernah mengalami rasa nyeri atau ngilu di area persendian, terutama pada lutut. Namun banyak orang yang masih menyepelekan dan mengabaikan rasa nyeri ini. Padahal bila menyepelekannya dalam waktu lama, kondisi bisa bertambah parah yang nantinya menyebabkan pengobatan atau penatalaksanaan gangguan menjadi lebih sulit. Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Siloam Hospitals Balikpapan dr Hedy Wahyu Ramadhani SpOT, menjelaskan, ada beragam penyebab nyeri lutut. Antara lain trauma, cedera, terjadinya infeksi, dan penyakit peradangan.
''Selain itu, kegemukan atau obesitas juga dapat memicu nyeri area lutut. Namun yang paling sering terjadi adalah karena adanya pengapuran sendi atau osteoatritis," ujarnya dalam keterangan rilis.
Perlu diketahui, penyakit osteoartritis merupakan salah satu jenis arthritis yang paling umum terjadi. Tandanya adalah ketika sendi-sendi terasa sakit, kaku dan terjadi pembengkakan. Penyakit yang juga dikenal sebagai penyakit degeneratif kronis ini banyak ditemui pada pasien usia lanjut. Sebab seiring bertambahnya usia, tulang pada persendian bisa rusak.
Selain itu, masih banyak orang yang menyalahartikan ketika rasa nyeri menyerang lutut. Sebaiknya Anda mencari tahu lebih lanjut penyebab dan gejalanya. Sebab rasa nyeri pada lutut bisa menganggu aktivitas karena lutut berfungsi sebagai penyangga dan penahan bobot tubuh.
"Gangguan nyeri lutut ini sering disalahartikan dengan asam urat atau rematik, padahal yang paling sering itu karena pengapuran sendi, terutama di usia lanjut. Kita harus waspada pengapurannya, bukan pada asam urat atau penyakit lain," jalasnya.
dr Hedy menjelaskan, asam urat yang merupakan penyakit peradangan memang menimbulkan rasa nyeri atau ngilu. Namun keluhan ini jarang sekali terjadi di lutut. Nyeri karena asam urat biasanya terjadi di bagian sendi kecil, misalnya ibu jari kaki.
Gejala awal osteoatritis berupa nyeri dan linu di lutut, terutama saat kita mengubah posisi tubuh. Rasa nyeri biasanya menyerang saat berdiri setelah duduk lama, naik-turun tangga, atau saat meluruskan lutut. Rasa nyeri akan berkurang saat istirahat atau ketika diberi obat anti nyeri.
Namun waspada bila rasa nyeri menetap dan tidak berkurang sekalipun ketika sudah diberi obat. Tandanya kondisi pengapuran sudah masuk stadium berat. Dalam tahap ini, sendi bisa terasa kaku, terjadi pembengkakan, dan mengalami keterbatasan gerak sendi lutut. Parahnya lagi, bisa menyebabkan kelainan bentuk tulang dan pergeseran sendi di tahap selanjutnya. Contohnya adalah bentuk kaki seperti huruf O yang sering dialami pada orang tua.
Segera lakukan pemeriksaan ketika sudah mengalami nyeri pada persendian atau mencurigai munculnya gejala osteoatritis. Segera ke rumah sakit atau dokter spesialis ortopedi dan traumatologi untuk tindakan penanganan. Kesempatan untuk sembuh jadi lebih besar tanpa pembedahan. Namun kemungkinan sembuh juga tergantung pada stadium atau tingkat kondisi pengapuran.
Pemeriksaan di rumah sakit meliputi rontgen lutut untuk mencari tahu stadiumnya lalu dilanjutkan dengan penentuan jenis terapi. Jika masih dalam stadium awal, maka dokter biasanya akan memberikan tindakan non-operatif. Namun jika diperlukan, bisa juga dilakukan artroskopi lutut.

Artroskopi lutut merupakan suatu prosedur bedah invasif minimal. Dalam dunia kedokteran biasa disebut lubang kunci yang biasanya dilakukan hanya 30 menit sampai 1 jam, tergantung kondisi lutut pasien. Operasi ini dilakukan dengan menempatkan sebuah kamera beresolusi tinggi dan instrumen ke dalam lutut melalui insisi kecil pada kulit.
Dengan penanganan ini, dokter mendapat gambaran lebih detail kondisi di dalam lutut pasien melalui monitor. Pemulihan pasca tindakan juga tergolong cepat karena operasi ini bersifat invasif minimal atau hanya sedikit melukai kulit.
"Pada prinsipnya, dengan artroskopi, dokter bisa membersihkan cairan kotor pada lutut," jelasnya.
Pada stadium menengah, selain atroskopi, ada juga tindakan yang merangsang perbaikan tulang rawan yang rusak. Lalu pada stadium akhir, pasien hanya mempunyai kesempatan sembuh dengan melakukan pergantian sendi. Hal ini disebabkan kondisi tulang rawan sudah rusak total sehingga tulang langsung bergesekan dan menimbulkan nyeri yang menetap.
"Pergantian sendi lutut total atau yang biasa disebut Total Knee Replacement adalah prosedur operasi dengan mengganti tulang rawan dan bantalan sendi lutut dengan implan buatan. Elemen bantalan menggunakan polyethylene atau karet tebal dan bagian ujung tulang yang rusak diganti dengan logam yang memiliki rentang waktu 30 tahun. Jadi, ini bisa bertahan 30 tahun. Tindakan ini lebih baik dilakukan pada usia tua, misalnya 60 tahun karena pada usia tersebut orang sudah jarang aktivitas sehingga implannya lebih tahan lama," tambahnya.
Setelah ganti sendi, pasien akan direhabilitasi dengan berlatih berjalan menggunakan tongkat selama kurang lebih 5–7 hari. Hal ini dilakukan demi memulihkan luka pascaoperasi dan observasi hasil operasi.
Selain itu, pasien juga akan dibimbing spesialis rehabilitasi medis dan fisioterapi agar dicapai fungsi lutut yang optimal. Pasien osteoatritis akan ditangani oleh tim dokter ortopedi, dokter rehabilitasi medis, dan fisioterapi di Siloam Hospitals Balikpapan.
"Usai pengobatan, pasien amat disarankan untuk menurunkan berat badan dan melakukan olahraga yang sifatnya low impact agar tidak membebani lutut, seperti renang dan sepeda. Tujuannya untuk memperkuat lutut," ujarnya.
Rumah sakit tipe B
Siloam Hospitals Balikpapan menyediakan layanan unggulan bagi pasien ortopedi, termasuk osteoatritis. Rumah sakit ini memiliki enam tenaga dokter spesialis ortopedi dan traumatologi.
"Balikpapan dan sekitarnya ini merupakan daerah pertambangan. Selain itu, wilayahnya juga berkontur sebab banyak bukit. Jalanan di sini pun berkelok-kelok. Kondisi itu menyebabkan risiko penyakit tulang karena trauma menjadi lebih tinggi. Misalnya karena kecelakaan kerja di pertambangan atau kecelakaan lalu lintas. Itulah sebabnya kami concern dalam pelayanan ortopedi," ujar CEO Siloam Hospitals Balikpapan dr Danie Poluan MKes.
Siloam Hospitals Balikpapan menyediakan layanan yang bersifat terpadu atau paripurna seperti fasilitas ambulans dan UGD 24 jam yang didukung alat penunjang medis seperti X-ray, CT Scan 128 Slices, atau MRI 1,5 Tesla, dan tenaga medis yang kompeten di bidangnya.
Tidak hanya itu, ada juga peralatan bedah untuk kebutuhan ortopedi juga cukup canggih dan ditunjang dengan kamar bedah yang siap 24 jam. Juga dilengakpi dengan fasilitas rumah sakit yang memadai dan kefarmasian yang lengkap.
Layanan pemeriksaan osteoatritis dibuka dari Senin hingga Sabtu dengan dokter spesialis yang standby pukul 08.00–21.00 WITA. Pasien juga bisa menghubungi dokter kapan saja bila ada kondisi darurat.
"Kami menjadi rumah sakit swasta rujukan untuk Kota Balikpapan dan wilayah Kalimantan Timur. Siloam Hospitals Balikpapan juga merupakan rumah sakit tipe B dan sudah melayani pasien BPJS sejak bulan Oktober 2014," paparnya. (adv/adv)











































