Risiko Fire Fighter Hutan, Dikejar Kobra Sampai Tak Pulang 6 Bulan

advertorial - detikNews
Senin, 05 Jun 2017 00:00 WIB
Pelalawan - Indonesia kini memasuki musim kemarau. Musim kemarau berarti musim kerja keras untuk pemadam kebakaran hutan seperti Boy Sastra Permana (27). Profesi pemadam kebakaran sudah dia jalani sejak 2010. Tidak main-main, pria beranak satu ini, juga diserahi tanggung jawab sebagai operator/driver air boat.

"Orangtua saya orang kampung. Mereka enggak tahu kerja saya bagaimana. Saya bilang, saya kerja pakai perahu yang dipakai Jackie Chan di film, mereka langsung bangga. Saya difoto. Fotonya dicuci, dibesarkan, dipajang di rumah,"ucap Boy saat berbincang di markasnya di Pelalawan, Riau, Rabu (17/5/2017).

Faktanya pekerjaan Boy memerlukan keberanian yang luar biasa. Selain berhadapan dengan api yang membubung tinggi, tak jarang Boy juga sering bertemu dengan binatang buas.

"Kami waktu itu ketemu ular kobra tinggi dan besar. Ular itu mengejar kami. Dia lagi kepanasan karena dilingkupi api. Lalu kami siram dia dan tenang. Kami ambil kayu dan lempar ke area tak terbakar," ceritanya seru.

Bukan hanya ular, harimau pun ikut gerah dengan kebakaran hutan. "Untuk menyelamatkan diri, kami masuk ke area hitam yang terbakar. Harimaunya besar sampai pohon besar yang tersenggol pun ikut goyang," tambah dia.

Hasilnya mereka pun lolos dari pantauan si raja rimba. "Kami memikirkan kami di sini baik-baik, kami cuma lakukan pemadaman," lanjut dia.

Cerita menerjang mara bahaya tidak sampai di situ. Pernah juga satu kali Boy dan kawan-kawannya terpelanting ke sungai. Saat itu, Boy nyaris menabrak DAM karena DAM tidak terlihat dan situasi malam hari serta gelap karena asap.

"Kalau saat itu saya enggak tenang air boat bisa kebalik dan baling-baling masuk ranting bisa patah, pasti ada bahaya meledak. Kan BBM-nya bensin murni jadi pantang ada percikan air sedikit," imbuh dia.

Bekerja sebagai pemadam kebakaran juga harus siap ditugaskan kapan pun, di mana pun serta berapa lama pun. Terkadang dengan berat hati, Boy pernah meninggalkan anaknya yang sakit keras demi memadamkan api.

"Kalau mau jadi istri pemadam enggak boleh cengeng. Itu prinsip saya dan dia juga ngerti. Karena dengan ini kita bisa hidup," tukas dia.

Pernah suatu kali, saking rindunya Boy sampai harus memanjat pohon akasia demi mendapatkan sinyal seluler untuk menghubungi keluarga.

"Tidur pun kami beralas gambut beratapkan langit. Itu pun kalau ingat tidur, kalau api sudah besar memang harus dipadamkan dulu sampai enggak tidur," tutur pria asli Bukittinggi ini.

Dia mengaku di tahun 2014 pernah menghabiskan 6 bulan untuk memadamkan api tanpa pulang. Namun berkat dukungan dari masyarakat, semangatnya selalu terpompa meski menahan rindu akan keluarga.

"Awalnya saya mikir enggak enak kerjanya cuma setelah saya pikir lagi dengan membantu orang, saya merasa ini kerja paling mulia. Makanya saya punya tekad saya harus bertahan di sini dan saya cocok kerja di sini," tutup dia.

Boy berharap ke depan masyarakat makin sadar akan bahaya kebakaran hutan. Dia meminta agar tidak ada lagi masyarakat membuka lahan dengan membakar hutan.

Boy adalah satu dari 700 pemadam kebakaran (fire fighter) yang dimiliki PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP). Fire fighter berseragam merah ini dilengkapi dengan peralatan canggih dan helikopter.

Mereka juga berkolaborasi dengan pihak swasta lain dan pemerintah bersama-sama memadamkan api. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab dalam mencegah kebakaran hutan dengan memberikan edukasi ke warga desa. (adv/adv)