Indonesia Kini Berjaya di Selat Malaka

Indonesia Kini Berjaya di Selat Malaka

adv - detikNews
Rabu, 12 Apr 2017 00:00 WIB
Indonesia Kini Berjaya di Selat Malaka
Batam -

Pemanduan di Perairan Selat Malaka dan Selat Singapura sudah lama diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia. Namun, ternyata perlu upaya keras melakukan rangkaian diplomasi intensif dan simultan untuk mewujudkannya.

Padahal pemanduan kapal ini sangat penting untuk memberikan jaminan keselamatan bagi pelayaran kapal-kapal yang berlayar dalam wilayah kedaulatan Indonesia.

"Hari ini, Senin 10 April 2017 merupakan hari yang bersejarah bagi kita bangsa Indonesia. Hari kita bersama-sama menyaksikan peristiwa penting yaitu resmi beroperasinya pemanduan di Perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Saya terharu sekaligus bangga karena ini hasil kerja keras, buah dari kegigihan diplomasi kita," terang Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat me-launching Pemanduan di Perairan Pandu Luar Biasa Selat Malaka & Selat Singapura di Perairan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/4/2017).

Menhub mengisahkan, proses beroperasinya pemanduan di Selat Malaka dan Selat Singapura merupakan hasil dari perjuangan panjang Pemerintah Indonesia. Diawali dengan pembahasan antar-Negara Pantai (The Littoral States) yang terdiri dari negara Indonesia, Malaysia dan Singapura dalam Forum Tripartite Technical Expert Group (TTEG).

Perjuangan berlanjut pada pertemuan Forum TTEG ke-1 di Yogyakarta dan ditindaklanjuti dengan pertemuan Intersessional Meeting of The Working Group on Voluntary Pilotage Services in Straits of Malacca and Singapore di Bandung pada Januari 2017.

Indonesia Kini Berjaya di Selat Malaka

Pemerintah Indonesia, kata Menhub, dalam forum-forum tersebut all out berdiplomasi menyampaikan komitmen dan kesanggupannya untuk melaksanakan pemanduan Selat Malaka dan Selat Singapura dengan target pelaksanaan pada tahun 2017.


"Negara tetangga kita masih belum siap dan minta 2018 tapi saya tegaskan kita mau 2017 karena kita sudah siap. Alhamdulillah kita berhasil," kata Menhub.

Pemerintah melalui Kemenhub memandang sudah saatnya wilayah kedaulatan Indonesia di Selat Malaka dijaga dan digunakan untuk kepentingan bangsa. Muaranya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun tidak melupakan tujuan utamanya, yakni meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim.

"Saya melihat ini adalah salah satu milestone kita. Komitmen Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan pemanduan ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang siap melaksanakan pemanduan di Selat Malaka dan Selat Singapura," terang Menhub Budi.

Beroperasinya Pemanduan di Selat Malaka dan Selat Singapura ini sudah diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Nomor HK.103/2//DJPL-17 tentang Sistem dan Prosedur Pelayanan Jasa Pemanduan dan Penundaan Kapal pada Perairan Pandu Luar Biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Selain itu, Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor PU.63/1/8/DJPL.07 tentang Penetapan Perairan Pandu Luar Biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura. Untuk operator pemanduan, Kemenhub menunjuk PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) melalui Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor BX.428/PP 304 tentang Pemberian Izin kepada PT Pelindo I.

"Penunjukkan ini merupakan pelimpahan fungsi pemerintahan di bidang pemanduan kapal, meliputi kapal-kapal yang melintas maupun yang melaksanakan kegiatan di perairan pandu luar biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura," pungkas Menhub Budi.

Pelindo 1 sebagai pihak yang akan melaksanakan pemanduan juga siap mengemban amanat Pemerintah Indonesia untuk melakukan pemanduan di Selat Malaka - Selat Singapura.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah memberi kepercaayan kepada Pelindo 1 untuk melaksanakan pemanduan Selat Malaka ini," ucap Bambang Eka Cahyana, Direktur Utama Pelindo 1.

"Pelindo 1 sudah menyiapkan seluruh sumber daya sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Guidelines to Implement The VPS in SOMS, seperti tenaga pandu, kapal pandu dan stasiun pandu, stasiun VTS, serta peralatan bantu pelayanan pemanduan di Selat Malaka - Selat Singapura. Kami optimistis bisa melakukan tugas dengan baik," tambahnya lagi.

Lebih lanjut Bambang menambahkan, saat ini Pelindo I telah memiliki 40 (empat puluh) orang tenaga pandu dan tahun 2017 ini Pelindo 1 merencanakan akan merekrut beberapa orang Pandu Asing (expatriate pilot) untuk meningkat nilai tambah pelayanan.

Pelindo 1 akan terus menjaga dan meningkatkan kompetensi dan skill para Pandu sesuai dengan ketentuan yang berlaku, begitu juga dengan sarana dan prasarana pemanduan. Kesiapan personel dan infrastruktur didukung sistem IT dan beroperasi 24 jam.

Usai launching, Menhub beserta rombongan langsung ikut naik ke Kapal Pandu dan ikut berlayar menuju selat Malaka. Di atas kapal pemanduan Menhub Budi Karya bersama Dirut Pelindo I, Bambang Eka Cahyaa melepas tiga tenaga kapten kapal Pandu yang akan langsung bertugas.

"Sekali lagi ini kebanggaan, kita melihat anak bangsa bisa berperan di perairan strategis dunia," tandas Menhub Budi Karya penuh haru.

(adv/adv)
Berita Terkait