Sebelumnya, dia bergelimang prestasi dengan meraih keping emas, perak, dan perunggu dari dua nomor spesialisasinya, yakni lari 100 meter dan lempar cakram, baik di pentas Peparnas Kaltim 2008 maupun ASEAN Paragames 2011.
Namun, dia kemudian mengambil langkah lain. Perpindahan cabang itu lebih karena faktor klasifikasi yang direkomendasikan tim dokter. Tak banyak membantah, dia pun mulai menekuni cabang membidik sasaran dengan tepat itu mulai Januari 2016. Karenanya, dia tak muluk-muluk saat menentukan target atas keikutsertaannya untuk kali pertama.
Kendati demikian, emas tetap dalam rentang bidikannya. Ditambah usaha keras di lapangan, dia kemudian sanggup menyumbangkan satu emas untuk Jawa Barat pada final compound mix team jarak 50 meter di Lapangan Pajajaran Bandung, Jumat (21/10/2016).
Raihan itu disambutnya dengan penuh keriangan. Atlet asal Kuningan itu kemudian merayakannya bersama keluarga yang menyaksikan perjuangannya di lapangan.
Sebelumnya, dia mengaku sempat kesusahan mengatur fokus hingga hari kedua pertandingan yang mulai digelar sejak Senin (17/10). Seni pun bertanya-tanya sampai kemudian ditemukan jawabannya.
"Saya masih menyimpan jiwa atletik saya, yakni ambisius. Padahal panahan sebaliknya, perlu kesabaran, ikhlas, dan tak boleh bersikeras. Kalau masih ambisi tak cocok di panahan," katanya.
Perasaan yang masih menghinggapinya itu pun mulai dibuangnya jauh-jauh. Dia mulai menyelami spirit cabang panahan di hari ketiga. Hasilnya, positif. Situasi nyaman itu pun berhasil dipertahankannya hingga babak puncak mix team.
"Alhamdulillah, hasilnya masuk final dan juara. Karena ke sini-sini, saya semakin paham kedua cabor yang saya tekuni ini bertolak belakang sifatnya. Tak boleh ambisi, semakin ambisius, bagi seorang pemanah hasilnya akan semakin ke bawah, dan jelas saya tak mau seperti itu," katanya. (adv/adv)











































