Cyberknife dapat mencapai keberadaan tumor yang sebelumnya sulit untuk diakses, tidak tertangani atau tidak dapat dioperasi karena tumor tersebut berada di organ yang sensitive. Seperti di batang otak, jalur saraf, atau sumsum tulang belakang.
Saat teknologi ini bekerja, sinar radiasi akan fokus pada pusat tumor di tubuh dan tidak membahayakan organ di sekitarnya. Oleh karena itu, Cyberknife amat cocok untuk mengobati kanker prostat, otak, paru-paru, hati, nasofaring, tulang belakang.
Hebatnya, teknologi ini tidak membuat luka, memotong jaringan dan organ tertentu, bahkan tidak meninggalkan kesakitan sehabis operasi sehingga menjadi pilihan terbaik untuk bedah konvesional untuk pasien dengan risiko usia dan kesehatan.
Dulu Cyberknife hanya tersedia di Stanford University, Amerika. Sejak tahun 2001, sistem Cyberknife telah mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA). Sistem ini telah diaplikasikan di lebih dari 150 lokasi, termasuk 100 rumah sakit di Amerika. Stanford University ini juga telah menyembuhkan sekitar 2500 pasien menggunakan sistem Cyberknife. Bahkan Cyberknife telah menyembuhkan lebih dari 100.000 pasien di dunia.
Namun bagi Anda para pasien kanker tak perlu khawatir lagi, sebab teknologi termuktahir ini telah ada di Beacon Hospital. Dokter onkologi di sana telah dilatih khusus di Amerika hingga akhirnya menjadi pioner di rumah sakit asal Malaysia ini, Beacon Hospital. Mereka telah berpengalaman lebih dari 10 tahun dengan lebih dari 1400 kasus kanker.
Paket biaya seluruh pengobatan Cyberknife di Beacon Hospital merupakan biaya yang paling efektif, yakni berkisar antara Rp90 juta hingga Rp150 juta. Dibandingkan dengan melakukan operasi, biaya penyembuhan dengan Cyberknife tentunya lebih murah.
Tentunya ini menjadi kabar baik bagi pasien kurang mampu karena mereka bisa mendapatkan bantuan dengan mengajukan permohonan ke Beacon Radiotherapy Welfare Fund.
(adv/adv)











































