Mencermati Kenaikan Cost Recovery

Mencermati Kenaikan Cost Recovery

advetorial - detikNews
Selasa, 25 Okt 2016 00:00 WIB
Jakarta -
Mencermati Kenaikan Cost Recovery

Mengapa saat produksi minyak mentah turun, cost recovery malah naik? Pertanyaan tersebut sering diutarakan pemangku kepentingan industri hulu minyak dan gas bumi (migas). Bahkan bisa jadi, mereka belum juga mendapatkan jawaban memuaskan atas pertanyaan ini.

Lalu, apa penyebab cost recovery naik? Salah satu faktornya adalah kenaikan harga migas. Sebagai gambaran, dari 2001 hingga 2012, harga minyak mentah naik dari US$23,61 per barel menjadi US$112,33 per barel. Kenaikan ini mendorong perusahaan migas meningkatkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Bertambahnya kegiatan operasional meningkatkan kebutuhan barang dan jasa pada industri hulu migas. Sesuai hukum ekonomi, kenaikan permintaan mengakibatkan kenaikan harga. Selama 2001 hingga 2012, total biaya di sektor hulu migas naik dari US$3,78 miliar menjadi US$16,54 miliar dan cost recovery mengalami kenaikan dari US$4,35 miliar menjadi US$15,54 miliar.

Sejak 2014 hingga kuartal kedua 2016, harga minyak turun dari US$95,57 per barel menjadi US$35,8 per barel. Penurunan harga minyak berdampak pada pengurangan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi. Selama periode tersebut, total biaya turun dari US$19,24 miliar menjadi US$10,95 miliar dan cost recovery turun dari US$ 16,27 miliar menjadi US$11,65 miliar.

"Meski sampai sekarang penurunan cost recovery belum sebanding dengan penurunan harga minyak, faktor harga minyak memiliki pengaruh signifikan terhadap total biaya dan cost recovery," kata Kepala Bagian Humas SKK Migas, Taslim Z. Yunus.

Ditambahkannya, cost recovery tidak hanya meliputi biaya yang timbul pada tahun berjalan, tetapi juga biaya-biaya yang belum dikembalikan tahun-tahun sebelumnya, misalnya investasi untuk eksplorasi, biaya penyusutan, dan pengeboran sumur pengembangan. Sebelumnya, biaya-biaya ini menjadi beban kontraktor. Begitu produksi dimulai, biaya-biaya tersebut mulai dihitung dalam cost recovery. Hal ini merupakan salah satu faktor yang juga menyebabkan cost recovery tidak selalu berbanding lurus dengan produksi.

Faktor lain yang menyebabkan cost recovery meningkat di saat produksi turun adalah biaya operasi dan perawatan yang tinggi. Perlu diketahui, meskipun terdapat lebih dari 200 wilayah kerja migas, produksi nasional saat ini ditopang hanya oleh 15 blok migas. Lima belas wilayah kerja ini berkontribusi lebih dari 90 persen terhadap produksi nasional. Sebagian besar dari blok tersebut sudah beroperasi selama lebih dari 30 tahun, bahkan ada yang lebih dari 50 tahun. Lapangan-lapangan tua tersebut membutuhkan biaya operasi dan perawatan yang lebih tinggi supaya tetap aktif. Di sisi lain, produksi lapangan-lapangan tersebut secara alami terus menurun.

Mencermati Kenaikan Cost Recovery

Cost recovery yang tinggi juga merupakan konsekuensi dari aturan yang harus diikuti kontraktor migas. Contohnya, Kontraktor KKS tidak dapat serta merta memasok barang dan jasa dari luar negeri meskipun harganya lebih murah karena mereka harus mengutamakan produsen dalam negeri. Sesuai aturan pemerintah, kontraktor hulu migas harus mengutamakan penggunaan barang dan jasa dalam negeri, seperti penggunaan pipa, kapal, Floating Storage and Offloading (FSO), barge, dan lainnya.

Taslim mengatakan, seiring dengan turunnya harga minyak dunia, SKK Migas sudah meminta kontraktor untuk merenegosiasi semua kontrak pengadaan barang dan jasa industri hulu migas. Di sisi lain, dia mengatakan tingginya cost recovery karena penggunaan barang dan jasa dalam negeri sebenarnya menciptakan efek berganda bagi sektor lain. "Dalam hal ini industri hulu migas menggerakkan ekonomi nasional," ujarnya. (adv/adv)
Berita Terkait