Sampoerna University Ciptakan Calon Pebisnis dan Banker Kelas Dunia

Sampoerna University Ciptakan Calon Pebisnis dan Banker Kelas Dunia

Advertorial - detikNews
Rabu, 31 Agu 2016 00:00 WIB
Sampoerna University Ciptakan Calon Pebisnis dan Banker Kelas Dunia
Foto: adv
Jakarta - Dunia wirausaha Indonesia tengah menggeliat. Hal itu terbukti dengan banyaknya anak muda yang memberanikan diri berkecimpung di dunia wirausaha. Berdasarkan data dari Bank Dunia, sejak tahun 2002, tercatat sebanyak 15.000 perusahaan baru dibangun di Indonesia. Hingga tahun 2014, Indonesia sudah mempunyai 40.000 perusahaan baru. Dengan pertumbuhan tersebut, dunia wirausaha di Indonesia bisa dikatakan cukup baik di antara negara ASEAN lainnya.

Berkembangnya dunia wirausaha Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang mendorong lahirnya para entrepreneur muda. Pemerintah menyadari small medium enterprise memberikan kontribusi dalam perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah menciptakan lapangan pekerjaan yang besar.

Meskipun sudah berjalan di jalur yang benar, dunia wirausaha Indonesia diharapkan mengalami perkembangan yang lebih signifikan. Bambang Setiono, Vice Dean of Administrative & Students Affairs Sampoerna University berpendapat Indonesia harus mengubah konsep ekonomi dari Ekonomi Efisiensi menjadi Ekonomi Kreatif.

Presiden Jokowi sendiri sejak tahun lalu menyatakan bahwa industri ekonomi kreatif merupakan pilar perekonomian masa depan. Hal ini menyusul catatan pertumbuhan di sektor industri ini yang mencapai 5,76 persen. Dengan angka ini, pertumbuhan sektor industri ekonomi kreatif berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan. Menurut presiden, kontribusi ekonomi kreatif pada perekonomian nasional semakin nyata. Nilai tambah yang dihasilkan juga mengalami peningkatan setiap tahun.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dimana ekonomi kreatif telah menyumbang Rp.642 triliun atau 7,05 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dimana saat ini baru tiga subsektor yang memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi kreatif yakni kuliner sebanyak 32,4 persen; fesyen 27,9 persen; dan kerajinan 14,88 persen. Sehingga pada 2019, pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif bisa mencapai 12 persen dengan cara mengaktifkan sektor-sektor di bidang lainnya.

Bambang menambahkan "Kalau mau maju seperti Korea Selatan yang pendapatan per kapitanya 30 ribu (data tahun 2014), dunia wirausaha harus berdasarkan inovasi. Pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) merupakan upaya untuk mengubah ekonomi efisiensi menjadi Inovasi. Ini tantangan untuk melahirkan pengusaha yang inovatif," ungkapnya beberapa waktu lalu di Kampus Sampoerna University di L'Avenue Building, Jl Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan.



Bambang memberikan contoh salah satu anak bangsa yang sukses membuka bisnis, bahkan dapat menjangkau dunia mode internasional adalah Razka Perdana Ibrahim, alumni Sampoerna University yang berhasil membangun bisnis pakaian berbahan jins dengan label Esre Denim. Bisnis yang dirintis Razka bersama kawannya, Akbar Sinungan di tahun 2009 tersebut kini berhasil menembus pasar global.

Keberhasilan Razka menapaki dunia wirausaha tentunya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikannya. Pendidikan berkualitas internasional di bidang bisnis merupakan fondasi kuat dalam membangun usaha bagi Razka yang dulunya menimba ilmu bisnis di Faculty of Business Sampoerna University.

Ilmu bisnis yang diberikan di Faculty of Business Sampoerna University mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi berbagai tantangan nyata yang akan dihadapi para pengusaha. Meski tak mempunyai jurusan khusus entrepreneurship, namun jurusan di Facuty of Business Sampoerna University, yaitu Business Management,Accounting, Marketing, dan Banking & Finance merupakan ilmu dasar yang penting diketahui dalam membangun sebuah usaha. Terlebih, lanjutnya, wirausaha di Indonesia memiliki persoalan dalam hal akuntabilitas.

"Persoalan di akuntabilitas adalah dimana seseorang memiliki banyak ide, dan langsung melakukan eksekusi penjualan. Yang salah adalah orang tersebut tidak melakukan pendataan, menganalisa penjualan dan membuat laporan manajemennya. Sehingga saat bisnis tersebut sudah berkembang dan butuh dukungan finansial lebih besar dari investor, orang tersebut tidak dapat menunjukkan data dari bisnis yang selama ini dijalani. Tidak adanya catatan atau system yang valid dimana Ia dapat meyakinkan investor untuk melakukan investasi dalam bisnisnya tersebut merupakan hal terfatal yang dapat terjadi dari tidak adanya akuntabilitas yang jelas dari sebuah usaha," ujar Bambang.

Dengan adanya literasi bisnis dan keuangan dari kampus, maka permasalahan akuntabilitas bisa dihindarkan. Dampaknya, bisnis para wirausahawan akan menjadi bisnis yang bertanggung jawab, mudah berkembang dan mudah mendapatkan kepercayaan dari para investor.

Bambang menerangkan Faculty of Business Sampoerna University menawarkan sistem pembelajaran yang berbeda dengan fakultas sejenis di universitas lainnya. Fakultas tersebut tidak sekedar membagikan ilmu bisnis kepada mahasiwanya. Lebih dari itu, mereka juga mengajak para mahasiswanya untuk terjun langsung ke lapangan melihat persoalan di bidang bisnis dan ekonomi, menganalisa masalah tersebut dan kemudian mencari solusi dengan cara praktek langsung dalam sebuah studi kasus kewirausahaan.

Faculty of Business Sampoerna University juga mempunyai Exchange Corner atau Pojok Bursa yang merupakan tempat bagi para mahasiwa untuk mempraktekkan secara langsung cara berinvestasi saham. Ruangan itu dilengkapi dengan lab komputer. Di mana, mahasiswa bisa secara leluasa mengakses database dari Reuters, dunia perbankan bahkan jurnal-jurnal dari Harvard University.

Fakultas ini juga menjalin kerjasama dengan salah satu bank terkemuka dunia yakni HSBC Indonesia terkait Banking and Finance Program. Kerjasama ini bertujuan untuk mencetak Banker kelas dunia. Dalam merealisasikan hal itu, Faculty of Business memimpin proyek penciptaan jurusan Banking yang baik di 200 universitas di Indonesia. Program ini juga membentuk Asosiasi Dosen Untuk Literasi Keuangan yang bertugas, salah satunya dalam mengembangkan kurikulum perbankan Indonesia. Program ini sendiri telah mendapat pengakuan dan dukungan penuh dari Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ikatan Bankir Indonesia, Indonesian Finance Association (IFA) serta Indonesian Public Accountability (IPA).

"Hal ini merupakan inisiatif pertama di Indonesia yang belum pernah dilakukan oleh kampus manapun. Dimana kami membangun dan menciptakan program studi yang diperlukan di dunia keuangan di Indonesia," tukas Bambang.

Selain itu, Sampoerna University juga menjalin kerjasama dengan Oregon State University dalam hal pengembangan kurikulum bisnis. Sampoerna University mengadopsi kurikulum dari Oregon State University guna mendapatkan kualitas lulusan bisnis yang mampu berkompetisi secara global.

Faculty of Business
Sampoerna University merupakan kampus yang tepat bagi mereka yang ingin berkarir baik sebagai entepreneur ataupun profesi di bidang keuangan lainnya. Dimana para mahasiswa diberikan program kurikulum ajar berupa konsentrasi jurusan perbankan dan usaha dengan materi ajar yang unik dan spesifik serta dapat langsung diterapkan di dunia kerja dan mampu menghasilkan profesional perbankan dan wirausahawan yang handal. (adv/adv)

Berita Terkait