Mengapa Industri Perbankan Di Era Digital Harus Bergerak Cepat?

Mengapa Industri Perbankan Di Era Digital Harus Bergerak Cepat?

Advertorial - detikNews
Senin, 15 Agu 2016 00:00 WIB
Mengapa Industri Perbankan Di Era Digital Harus Bergerak Cepat?
Jakarta -

Kini penetrasi internet semakin luas dan semakin mobile. Jika kita sejenak menapak tilas ke 10 tahun yang lalu, internet merupakan barang yang mahal dan eksklusif. Namun, kini internet menjadi sebuah barang yang digunakan hampir setiap orang. Mendapatkannya kini sudah mudah.

Menurut Digital, Social, and Mobile Report, pengguna aktif internet di Indonesia pada tahun 2016 meningkat 15% dari tahun 2015. WeAreSocial juga menyatakan bahwa sekitar 88,1 juta orang Indonesia menggunakan internet dari total populasi 259 juta jiwa. Kini orang banyak menghabiskan waktu mereka untuk menggunakan internet.

Perkembangan dunia digital yang sangat dinamis telah mengubah gaya hidup masyarakat pada umumnya. Generasi saat ini cenderung terhubung dengan sosial media sejak bangun tidur sampai dengan beristirahat. Muncul istilah C-Generation (Generasi C) dengan mengkonotasikan generasi yang senang terkoneksi (connected) dengan lingkungan sosialnya, senang berkomunikasi (communicate), dan senang dengan perubahan atau hal-hal yang baru (change).

Kehidupan generasi C tidak bisa dilepaskan dari personal komputer, telepon pintar, internet, dan media sosial. Perangkat tersebut telah menggeser kebiasaan-kebiasaan lama. Fenomena ini tentunya berimbas pada hampir semua industri. Tandanya, perusahaan harus melakukan sejumlah perubahan dan bertransformasi. Salah satu industri yang terkena dampaknya adalah industri perbankan.


BANK BRI Gandeng Komunitas untuk Mengembangkan Aplikasi Perbankan

Merespon fenomena tersebut, BANK BRI terus berinovasi mengembangkan solusi perbankan digital untuk masyarakat dari perkotaan sampai ke pelosokdemi mempermudah layanan keuangan. Maka dari itu, BANK BRI menggandeng komunitas digital dan pelaku usaha rintisan (startup) Indonesia dengan menggelar BRI Digital Challenge bersama Tech In Asia dan IBM.

Rangkaian pertama BRI Digital Challenge dilaksanakan pada Jumat (12/8) lalu dengan acara Digital ChallengeMeetup. Acara ini mewadahi para pelaku start up dan developer untuk mendapakan penjelasan tentang rangkaian kegiatan BRI Digital Challenge.

Program ini berlangsung selama tiga bulan sejak Agustus sampai Oktober 2016. Jika Anda tertarik, Anda bisa mengajukan solusi digital Anda dan mendaftar melalui bridigitalchallenge.id mulai tanggal 19 Agustus 2016 hingga awal September 2016.

Nantinya akan dilakukan seleksi untuk menentukan 121 solusi terpilih. Mengapa 121? Angka ini disesuaikan dengan usia BANK BRI yang tahun ini mencapai usia 121 tahun. Peserta yang terpilih akan mengikuti workshop sebelum acara puncak BRI Digital Challenge di bulan Oktober dan akanmemperebutkan total hadiah ratusan juta rupiah.

Program ini akan mengundang dewan juri yang berasal dari BANK BRI, IBM, dan para praktisi digital. Para peserta BRI Digital Challenge juga akan didukung dengan platform IBM Bluemix (Digital Innovation Platform). Platform ini akan semakin memudahkan peserta untuk bisa bebas berkreasi dalam membuat aplikasi.


Aplikasi Perbankan untuk UMKM dan Inklusi Keuangan

Para pelaku startup berbasis teknologi juga akan diberikan berbagai tantangan oleh BANK BRI, Tech in Asia, dan IBM. Tantangan pertama bagi para pelaku startup berbasis teknologi adalah mencari solusi untuk pembangunan UMKM di Indonesia. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang jumlahnya mencapai 56,53 juta usaha mewakili 99.99% dari total usaha (usaha Korporasi/Besar hanya 0.01%)namun kontribusi UMKM pada produk domestik bruto (PDB) hanya menyumbang35.81% dari PDB, padahal UMKM menyerap 97.16% dari tenaga kerja di Indonesia.

Permasalahan yang kemudian dihadapi antara lain adalah akses permodalan, akses informasi untuk jaringan pemasaran produk dan jasa yang dihasilkan serta akses untuk bahan atau material mentah yang digunakan dalam proses produksi, akses informasi untuk meningkatkan kemampuan, kompetensi, dan pengetahuan para pelaku UMKM dalam berbisnis. Belum lagi pengintegrasian bisnis dari hulu ke hilir (value chain) yang melibatkan mulai dari korporasi besar, usaha menengah, dan kecil hingga ke usaha mikro.

Peserta juga mendapat tantangan untuk mengembangkan teknologi yang membuka peluang terwujudnya cashless society. Melalui penggunaan uang elektronik dan layanan online banking diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi, mengurangi jumlah uang fisik yang beredar, maupun menawarkan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan. Nantinya, solusi atas hal-hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses bisnis dan iklim usaha yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

(adv/adv)
Berita Terkait