Dalam acara public expose tersebut, BCA menyampaikan hasil kinerja positif pada semester I 2016. "Di tengah perlambatan ekonomi Indonesia, kami menerapkan pendekatan yang berhati-hati dalam penyaluran kredit serta melakukan pengawasan secara konsisten terhadap portofolio kredit guna meminimalkan peningkatan kredit bermasalah. Selanjutnya, keunggulan di bidang perbankan transaksi memberikan fleksibilitas bagi BCA dalam mengelola suku bunga dana pihak ketiga," ujar Eugene K. Galbraith
Outstanding portofolio kredit tercatat sebesar Rp 387,0 triliun pada akhir Juni 2016, naik 11,5% YoY, didorong oleh penyaluran kredit korporasi yang tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp 135,4 triliun. Kredit komersial dan Usaha Kecil & Menengah (UKM) meningkat 6,5% YoY mencapai Rp 146,5 triliun, sementara kredit konsumer naik 9,1% YoY menjadi Rp 105,2 triliun didukung oleh produk pinjaman yang kompetitif. Portofolio kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor masing-masing naik 8,5% YoY menjadi Rp 61,7 triliun dan 11,4% YoY menjadi Rp 34,0 triliun. Outstanding kartu kredit mencapai Rp 9,5 triliun, meningkat 5,5% YoY.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, rasio kredit bermasalah (NPL) BCA meningkat menjadi 1,4% pada akhir Juni 2016, dibandingkan 0,7% pada akhir Juni 2015. Meskipun demikian, rasio NPL tersebut masih dalam tingkat risiko yang dapat ditoleransi. Pada semester I 2016 BCA membentuk tambahan biaya cadangan sebesar Rp 2,0 triliun untuk mempertahankan kecukupan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan. Per Juni 2016, rasio cadangan terhadap total kredit bermasalah tercatat sebesar 193,0%.
BCA secara proaktif mempertahankan posisi likuiditas dan basis permodalan yang solid. Pada akhir Juni 2016, rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) tercatat sebesar 77,9%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,3%.
![]() |
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga meningkat 7,8% YoY menjadi Rp 490,6 triliun pada akhir Juni 2016, ditopang oleh pertumbuhan rekening giro dan tabungan (CASA). Dana CASA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp 381,3 triliun, berkontribusi sebesar 77,7% terhadap total dana pihak ketiga BCA pada akhir Juni 2016. Dana tabungan tumbuh sebesar 12,6% YoY menjadi Rp 260,9 triliun, sedangkan dana giro naik sebesar 5,4% YoY menjadi Rp 120,4 triliun. Dana deposito relatif stabil sebesar Rp 109,3 triliun.
Kinerja bisnis yang positif berhasil mendukung pertumbuhan laba pada semester I 2016. Pada periode tersebut laba bersih BCA tercatat Rp 9,6 triliun, meningkat 12,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian kinerja BCA yang solid mendukung BCA masuk dalam 2.000 perusahaan terbesar dunia berdasarkan omzet, laba, asset, dan kapitalisasi pasar versi Majalah Forbes.
"Memasuki semester II 2016, kami melihat berbagai dinamika yang positif telah mendorong perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Program tax amnesty yang mulai berjalan diharapkan akan memberi pengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Guna menyukseskan program tersebut, sebagai salah satu bank gateway, selain menerima pembayaran tebusan tax amnesty, BCA juga secara aktif menyelengarakan program sosialisasi kepada para nasabah maupun menyediakan produk-produk perbankan yang dapat dijadikan sebagai sarana investasi atas dana repatriasi asset," jelas Eugene.
Manajemen BCA mulai minggu depan akan melakukan safari (keliling Indonesia) untuk melakukan sosialisasi tax amnesty. Rencananya mulai minggu depan, akan dilakukan sosialisasi tata cara untuk mengikuti program tax amnesty dan seputar manfaat yang diperoleh masyarakat jika mengikuti program tax amnesty.
"BCA akan didukung dua perusahaan akuntan publik, selanjutnya akan ada safari keliling kota-kota di Indonesia soal program taxamnesty," tutup Eugene di Bursa Efek Indonesia (BEI).
BCA Senantiasa Di Sisi Anda (sfq/sfq)












































