Dalam rangka HUT BPJS Kesehatan yang ke-48, program baru bertajuk "BPJS Kesehatan Goes to School" diluncurkan. Seremoni pencanangan dan pelepasan "BPJS Kesehatan Goes to School" dilakukan Selasa (19/7) lalu di BPJS Kesehatan Cabang Soreang – Kabupaten Bandung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI – Anies Baswedan dan Direktur Utama BPJS Kesehatan – Fachmi Idris.
Turut menyaksikan, Bupati Kabupaten Bandung – Dadang Naser, Sekda Kabupaten Bandung – Sofian Nataprawira, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung – Juhana, Duta BPJS Kesehatan, Kepala SMPN 1 Margahayu – Wawan Sumantri, guru-guru dan murid-murid SMPN 1 Margahayu.
"BPJS Kesehatan Goes to School" akan dilaksanakan serentak di 13 wilayah kerja Divisi Regional pada 21 Juli 2016. Kegiatan ini menargetkan sejumlah pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah masing-masing. BPJS Kesehatan memilih periode usia SMP sebab itu merupakan masa yang paling rentan dan berisiko cukup besar bagi remaja untuk terpengaruh lingkungannya.
HUT BPJS Kesehatan sendiri jatuh pada tanggal 15 Juli dan setiap tahunnya BPJS Kesehatan rutin mengadakan bakti sosial di bidang kesehatan. Beda dengan tahun ini di mana BPJS Kesehatan masuk ke bidang pendidikan.
"Dewan pengawas, Direksi, Kepala Grup, dan Kepala Divisi Regional akan kembali ke sekolah-sekolah. Program "BPJS Kesehatan Goes to School" ini terinspirasi dari gerakan Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Pak Anies Baswedan," jelas Direktur Utama BPJS Kesehatan – Fachmi Idris.
Lebih lanjut Fachmi menjelaskan, tema besar program "BPJS Kesehatan Goes to School" adalah menanamkan budaya gotong royong sejak dini. Ini dikarenakan program Jaminan Kesehatan Nasional tidak akan berjalan lancar tanpa adanya gotong royong dari seluruh masyarakat.
![]() |
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI – Anies Baswedan pun menyambut positif tujuan program terbaru BPJS Kesehatan. "Gotong royong dan budaya hidup sehat itu hal mendasar. Di Indonesia banyak persoalan yang awalnya disebabkan oleh masalah kesehatan," ujar Anies.
"Saya mengapresiasi pilihan BPJS Kesehatan untuk mengunjungi SMP karena ruang untuk 'menjangkiti' mereka dengan virus kesadaran untuk hidup sehat masih sangat besar. Mudah-mudahan kehadiran teman-teman BPJS Kesehatan di SMP-SMP bisa menginspirasi para pelajar," tambah Anies.
BPJS Kesehatan memang ingin menanamkan budaya gotong royong dan gaya hidup sehat sejak dini lewat kegiatan ini. "BPJS Kesehatan Goes to School" akan mengedukasi anak sejak dini tentang pentingnya pola hidup sehat sejak dini.
Diharapkan dengan promosi pola hidup sehat sejak dini, para pelajar SMP dapat terhindar dari risiko tersebut. Apalagi, usia 10 – 19 tahun termasuk kategori usia terbanyak dari total jumlah penduduk Indonesia.
Pada proyeksi 2010 – 2035 pun, usia angkatan kerja di Indonesia sudah dimulai sejak 2012. Meningkatnya usia angkatan kerja (bonus demografi) harus diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan agar bisa terserap dalam pasar kerja yang kompeten.
Inilah salah satu alasan "BPJS Kesehatan Goes to School" diadakan. BPJS Kesehatan ingin mengoptimalkan potensi bonus demografi melalui sektor kesehatan.
"Tahun 2015, sebanyak Rp 16,9 triliun atau 29,67% dana jaminan kesehatan terserap untuk membiayai penyakit katastropik seperti sakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, dan sebagainya," jelas Fachmi.
![]() |
"Penyakit katastropik cenderung terjadi karena faktor perilaku hidup tidak sehat. Seperti merokok, kurang olahraga, makanan tidak sehat, dsb. Jika dibiarkan, hal ini akan membawa dampak kurang baik bagi kualitas kesehatan penduduk Indonesia maupun keberlangsungan program JKN - KIS," lanjut Fachmi.
Selain edukasi tentang pola hidup sehat sejak dini, kegiatan "BPJS Kesehatan Goes to School" juga diharapkan dapat membentuk serta meningkatkan rasa kepedulian, kerelaan membantu sesama dan gotong royong dalam diri para pelajar. Terutama dalam hal pelaksanaan program jaminan kesehatan di Indonesia.
"Mari kita bayangkan. Jika ada satu orang peserta JKN-KIS melakukan operasi jantung dengan biaya Rp 160 juta. Dengan iuran rata-rata Rp 51.000,- maka butuh 3.737 orang peserta JKN-KIS yang sehat dan membayar iuran. Kalau hanya peserta sakit saja yang membayar iuran dan tidak membayar iuran lagi ketika sudah sehat, dari mana kita bisa membayar biaya pelayanan kesehatan peserta lainnya yang membutuhkan?" jelas Fachmi.
Maka dari itu, peran generasi muda dalam mengawal keberlangsungan program JKN-KIS di Indonesia sangatlah besar. Diharapkan dengan menanamkan rasa kepedulian dan gotong royong dalam jiwa pelajar sejak dini, generasi muda dapat membantu mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.













































