Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Srie Agustina mengakui, permintaan tertinggi produk minuman memang terjadi saat Ramadan dan Lebaran.
Srie juga mengaku, hasil diskusinya dengan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) menunjukkan bahwa para pelaku di industri tersebut sudah melakukan antisipasi stok sejak dua bulan lalu.
Menurut Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman, permintaan minuman saat Ramadan dan Lebaran biasanya tumbuh 30% dibanding bulan biasa. Karenanya, produsen makanan dan minuman juga meningkatkan produksi hingga 30%.
Adhi menilai, kenaikan daya beli saat Ramadan dan Lebaran menjadi kesempatan bagi produsen mendapat laba. Berdasar data Kementerian Perindustrian, industri makanan dan minuman menunjukkan kinerja positif di tiga bulan pertama 2016 yang tercatat tumbuh 7,55%.
Di periode yang sama pada tahun lalu, pertumbuhan hanya di titik 7,54%. Menariknya, kinerja industri ini melampaui pertumbuhan industri non migas di kuartal I 2016 yang hanya tumbuh 4,46%. Di sisi ekspor, kinerja industri ini juga positif.
Buktinya, kontribusi nilai ekspor produk makanan dan minuman yang mencapai US$5,6 miliar di 2015, kini di triwulan I-2016 sudah menembus US$2,37 miliar.
BCA Senantiasa di Sisi Anda
Source : smart-money.co (sfq/sfq)











































