Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang telah melakukan inovasi dalam reformasi birokrasi karena adanya tuntutan dalam pelayanan publik yang berkualitas. Inovasi tersebut adalah program Coaching dan Mentoring yang bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas dan kompetensi aparat di Pemkot Tangerang. Langkah ini dilakukan setelah dilaksanakannya desentralisasi pelayanan publik yang bertujuan untuk lebih mengefektifkan pelayanan publik di Kota Tangerang.
Wali Kota Arief R. Wismansyah pada Diklat Coaching dan Mentoring di lingkup Pemkot Tangerang yang dilaksanakan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bisnis dan Pariwisata Sawangan Depok, Rabu lalu (18/05) menyampaikan bahwa program Coaching dan Mentoring tersebut selain bertujuan meningkatkan kapabilitas dan kompetensi aparatur, juga untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kota Tangerang.
"Tujuannya untuk pengembangan SDM aparatur Kota Tangerang, kalau Coaching lebih ke attitude sedangkan Mentoring lebih kepada teknik. Penerapan metode ini bukan karena pegawai Kota Tangerang belum berkompeten, akan tetapi ini lebih kepada pengembangan. Kota Tangerang ingin SDM aparaturnya dinamis dan responsif," ujarnya.
Dengan metode Coaching dan Mentoring Pemkot, BKPP tidak perlu mengadakan Diklat kepada semua pegawai, namun cukup perwakilan dari suatu unit kerja. Nantinya, perwakilan unit kerja tersebut membimbing dan mengarahkan staf-staf yang lain untuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing."Jadinya, nanti seorang eksekutif (atasan) punya kewajiban untuk mengembangkan potensi bawahannya," tukasnya.
Arief juga menambahkan bahwa penerapan metode tersebut didasari oleh adanya anggapan bahwa beberapa unit kerja di lingkup Pemkot Tangerang kekurangan pegawai. "Pada kenyataannya bukan kurang secara kuantitas, namun lebih pada kekurangan dari sisi ketrampilan untuk bidang tertentu. Contoh di suatu bidang itu punya beberapa pegawai, namun tidak ada yang punya ketrampilan untuk ngonsep surat, contoh gampangnya seperti itu. Maka lewat metode ini, atasan diharapkan bisa mendorong dan membimbing sampai orang tersebut bisa menguasainya," papar Arief.
Untuk menerapkan metode tersebut, Arief mengungkapkan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan Swiss-German University dan juga salah satu BUMN, yaitu PT. Abipraya. Selain itu, untuk menerapkan konsep tersebut, BKPP sedang melatih 40 orang aparat yang terdiri dari Esselon IV yang berpotensi di masing-masing unit kerja pada tanggal 16 hingga 19 Mei lalu di Depok.
"Kita ingin dengan adanya pola baru tersebut muncul pemimpin-pemimpin yang inovatif di unit-unit kerja yang ada, mengingat semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh pemerintah terutama dalam pelayanan publik. Metode ini bisa membentuk pemimpin yang memiliki kemampuan memobilisasi stakeholder baik internal maupun eksternal," tutup Arief. (adv/adv)










































