"Bermula karena ayah saya mengalami musibah, sakit kanker paru-paru, beliau harus dirawat di Tiongkok. Sebulan di sini, sebulan di sana, bolak balik terus," ujarnya. Kondisi tersebut berlangsung selama dua tahun.
Dua tahun kemudian, sang ayah meninggal dan Yusuf resmi menjadi penerus bisnis ditemani sang ibu. "Tapi pada 2013, ibu juga sudah tiada," katanya. Yusuf pun harus membiasakan diri untuk mandiri dengan pekerjaan ini.
Dari tiga bersaudara, Yusuf adalah anak paling kecil dan mendapat kepercayaan orang tua meneruskan bisnis. "Kakak pertama memiliki karier sendiri karena pendidikannya lumayan tinggi, anak kedua menjadi ibu rumah tangga, dan saya dengan pendidikan D3 pemasaran," ujarnya.
Berbekal ilmu pemasaran dari kuliah dan pengalaman semasa kecil melihat ayahnya berbisnis, Yusuf melanjutkan bisnis meski awalnya merasa ini adalah beban. Tekat untuk tidak menyia-nyiakan amanah, Yusuf ingin bisnis ini terus berkembang lebih baik.
Yusuf berhasil mengembangkan bisnis, dari 2010 hingga 2015, ia bisa berhasil menambah 30 unit armada angkutan. Hingga saat ini, Yusuf juga masih terjun langsung ke lapangan untuk mencari konsumen."Perusahaan ini punya banyak pengalaman, jadi orang sudah tak ragu lagi," katanya. Tender baru pun berdatangan seperti mendapatkan kemudahan rezeki untuk menjalankan perusahaan ini.
Meski demikian, Yusuf juga pernah kena tipu pada 2008 atau kejadian sopir yang kecelakaan. Namun, ia terus bangkit. Yusuf tak ingin berhenti, ia terus melakukan inovasi dengan memperbanyak jenis mobil untuk memperluas konsumen, mulai dari tronton, colt diesel, trailer, dan sebagainya. "Sebuah perusahaan bisa berjalan baik bila arus kasnya baik pula. Konsep bisnis ini selalu saya ingat agar tidak keteteran mengelola perusahaan," katanya.
(Berlanjut ke bagian kedua)
Sumber : smart-money.co (adv/adv)











































