Kisah yang Tersisa dari Perjalanan Mengejar Gerhana Matahari Total

Kisah yang Tersisa dari Perjalanan Mengejar Gerhana Matahari Total

Advertorial - detikNews
Senin, 14 Mar 2016 00:00 WIB
Kisah yang Tersisa dari Perjalanan Mengejar Gerhana Matahari Total
Foto: adv
Jakarta - Gerhana matahari total terakhir melintasi Indonesia pada tahun 1983. Tahun ini, fenomena langka ini kembali hadir di Indonesia. Ada perbedaan yang sangat nyata antara gerhana matahari total 33 tahun yang lalu dengan saat ini. Dulu masyarakat tidak menyambutnya dengan penuh sukacita, malah memilih diam di rumah, menutup pintu dan jendela serta ogah memandang langit.  Kini masyarakat malah hanyut dalam euphoria untuk melihat momen langka tersebut.

Mungkin ini dikarenakan oleh semakin majunya pengetahuan dan semakin jelasnya informasi soal gerhana matahari total. Masyarakat begitu bersemangat untuk melihat bagaimana bulan menutup matahari dengan sempurna menyisakan korona yang indah dengan mata sendiri.

Banyak juga yang 'memburu' gerhana matahari total ke lokasi-lokasi yang disebutkan oleh BMKG sebagai titik pantau terbaiknya. Ada yang pergi ke Belitung, Palembang, Palu, hingga ke Ternate. Seperti yang dilakukan oleh Laskar Gerhana yang dikirim oleh detikcom dan Kementrian Pariwisata.

Laskar Gerhana rela menempuh jarak jauh untuk melihat sendiri fenomena gerhana matahari total dari dua titik pemantauan yaitu Belitung dan Ternate. Mereka sekaligus mengeksplorasi keindahan alam dan atraksi wisata di sana. Perjalanan tersebut menyisakan sepenggal kisah yang sangat menarik.

Tim Laskar Gerhana Belitung berkesempatan melihat gerhana matahari total dari tengahlautan. Mereka memperoleh fasilitas kapal Bakamla. Bersyukur hari itu Belitung cerah. Meski sesekali tertutup awan, puncak gerhana matahari total tetap terlihat sempurna. "Keren. Soalnya kita melihatnya dari tengah laut. Pastinya beda dengan melihat dari daratan. Pas teman saya update di darat masih gelap. Beruntung sekali bisa ikut jadi Laskar Gerhana," ujar Inayati Nur, salah satu anggota Laskar Gerhana.

Usai menyaksikan gerhana matahari total, para Laskar Gerhana pun tidak mau menyia-nyiakan waktu yang tersisa di Belitung. Mereka mengisinya dengan mengeksplorasi keindahan negeri Laskar Pelangi tersebut.

Laskar Gerhana memilih singgah di Pulau Lengkuas, melakukan island hopping, dan melihat keindahan alam bawah laut Belitung dengan ber-snorkeling. Mereka yang tidak suka snorkeling, memilih mengabadikan keindahan pantai-pantai di Belitung dengan peralatan yang mereka bawa. Mulai dari kamera SLR, kamera saku, hingga smartphone.

"Dengan cuaca cerah seperti ini fokus saya adalah motret. Jadi bakal keliling sekitar sini," ujar Nurul Huda, Laskar Gerhana asal Surabaya. Selain wisatawan lokal, wisatawan mancanegara ternyata juga begitu menggemari Belitung. Usai menyaksikan gerhana matahari total, para wisatawan mancanegara juga memadati pantai-pantai di Belitung. Baik untuk berjemur ataupun sekedar memadati keindahan pantai-pantai yang masih asri di sana.

Cerita berbeda datang dari para Laskar Gerhana di Ternate. Gerhana matahari total dimulai di ternate pada pukul 09.51 WIT. Seperti Laskar Gerhana di Belitung, mereka juga mengamatinya dari tengah laut menggunakan kapal KN Gajah Laut dan KN Kuda Laut dari Bakamla. Mereka mengamati bersama dengan para peneliti dari LAPAN.

Sensasinya benar-benar membuat bergidik. Ketika matahari mulai tertutup sempurna oleh bulan, langit mendadak gelap seperti sore hari. Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Tak lama muncul penampakan dua bintang yaitu Venus dan Merkurius di langit yang saat itu cerah tidak berawan.

Gerhana matahari total merupakan sebuah fenomena di mana bumi, bulan, dan matahri bertemu dalam satu garis orbit sejajar. Kejadian ini hanya terjadi 350 tahun sekali. Rasa takut bercampur kagum dirasakan setiap Laskar Gerhana. Saat menyaksikannya ucapan syukur pun tidak berhenti terlontar. "Allahuakbar! Masya Allah! Keren banget! Gila bagusbanget!," kata merekabersahut-sahutan.

Mengingat gerhana matahari total hanya berlangsung sebentar dan baru bisa ditemui lagi beberapa puluh tahun yang akan datang, mereka pun langsung sibuk mengabadikan momen tersebut. Tidak hanya para Laskar Gerhana, kru-kru kapal pun ikut memotret fenomena langka ini.

"Merinding,kan baru pertama kali lihat gerhana matahari. Soalnya dulu pernah dipesan orang tua kalau gerhana matahari nggak boleh tidur, di bangun-bangunin, ternak dikeluarkan dari kandang," ujar salah satukru Kapal Gajah Laut, Serda Mesin Khabib yang berasal dari Mojokerto.

Usai sudah semarak menyambut gerhana matahari total di Indonesia. Fenomena ini mungkin baru akan menyapa Indonesia lagi 33 tahun yang akan datang. Entah bagaimana euphoria masyarakat saat itu.  (adv/adv)

Berita Terkait