Bloomberg melaporkan, pada bulan ini BCA memiliki kapitalisasi pasar mencapai 24,5 miliar dolar AS. Angka ini merupakan yang tertinggi di kawasan. Sebaliknya, DBS asal Singapura hanya memiliki kapitalisasi 24 miliar dollar AS.
BCA memang terus mencatatkan kenaikan saham pada tahun ini. Jika melirik pergerakan sahamnya, bank dengan kode BBCA ini mencatatkan grafik yang relatif stabil dibandingkan DBS.
Kinerja saham bank yang berbasis di Jakarta itu berbeda dari DBS yang sahamnya justru tertekan dalam. Pada penutupan Jumat (12/2), saham DBS turun ke level 13,03 dolar Singapura per sahamnya. Mengantarkan DBS ke posisi terendah sejak 8 Juni 2012 saat posisinya masih berada di level 13,05 dolar Singapura per lembar.
Turunnya saham DBS ini membuat kapitalisasi pasarnya anjlok hingga 37,8% sejak Agustus 2015, yaitu sebesar 40.571,7 juta dolar Singapura atau sekitar 34 miliar dollar AS. Pada periode yang sama, kapitalisasi saham BBCA justru menunjukkan tren peningkatan sebesar 18,6% hingga Rp 302.640,2 miliar.
Meningkatnya kapitalisasi pasar saham BCA ini cukup menggembirakan. Pasalnya, pada 2014 BCA masih menduduki peringkat lima setelah DBS Singapura, Maybank Malaysia, OCBC Singapura dan UOB Singapura.
Kapitalisasi saham BCA pada awal 2014 baru mencapai 22 miliar dolar AS. Sementara, nilai kapitalisasi DBS mencapai 32,2 miliar dolar AS, Maybank 26,2 miliar dolar AS, OCBC 26,1 miliar dolar AS dan UOB sebanyak 26 miliar dolar AS.
Meningkatnya kapitalisasi saham bank di Indonesia tak lepas dari masuknya dana asing ke pasar modal Indonesia. Maklum, saat ini komposisi investor lokal masih jauh tertinggal dibandingkan investor asing. Dari sekitar 500.000 investor di pasar modal, 63% didominasi asing sedangkan 37%berasal dari investor lokal.
Sejak awal tahun hingga 11 Februari, nilai beli bersih (net buy) investor asing di pasar saham mencapai Rp 1,52 triliun. Di sepanjang tahun ini, dana asing diprediksi akan terus mengalir ke pasar modal Indonesia.
Padahal, di awal Januari asing sempat menjauhi pasar saham domestik. Mereka kembali belanja saham di Bursa Efek Indonesia karena Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang bagus. Tak hanya itu, kondisi ekonomi global yang masih belum membaik membawa invetor asing memasuki emerging market.
Siap Bersaing
Presiden Direktur BCA - Jahja Setiaatmadja mengatakan, saham BCA memang bergerak cukup stabil di kala DBS membukukan penurunan. Jahja pun yakin BCA siap menghadapi persaingan dengan bank asing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada sektor perbankan yang mulai berlaku 2020 mendatang.
BCA tidak berencana untuk berhenti sampai pada prestasi itu saja. Saat ini, BCA sedang mempertimbangkan bisnis perpanjangan tangan kredit atau channeling. Dengan skema ini, BCA mengusulkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui mitra, semisal Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Ketertarikan untuk menyalurkan KUR sejalan dengan kondisi likuiditas BCA yang berlimpah. Skema yang ditawarkan untuk kredit berbunga sebesar 9%. BCA memang masih minim pengalaman di segmen kredit mikro. Maklum, tahun ini adalah pertama kali BCA menyalurkan KUR.
"Kami belum ada infrastruktur. Jadi kalau boleh, kami salurkan KUR dalam bentuk channeling. Yang penting buat kami, hasilnya ada," kata Jahja. Tidak hanya itu, bank yang berdiri sejak 1957 ini juga akan menggelar rencana pertumbuhan anorganik di tahun 2016.
BCA mengagendakan untuk mengakuisisi bank skala kecil yang masuk kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I. Rencana akuisisi tersebut sebenarnya telah tertuang sejak tahun 2015, namun tertunda karena kondisi perlambatan ekonomi. "Kami masih menyiapkan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk rencana tersebut," kata Jahja.
Selain pertumbuhan anorganik, perusahaan membidik pertumbuhan kredit secara konservatif sebesar 10% di tahun 2016 dan secara agresif sebanyak 15%. Sekedar informasi, tahun lalu BCA berhasil membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12%. (ad/ad)











































