Dalam Ponsel Pintar Kalian, Ada Derita Anak-anak Kongo

Dalam Ponsel Pintar Kalian, Ada Derita Anak-anak Kongo

Advertorial - detikNews
Senin, 01 Feb 2016 00:00 WIB
Dalam Ponsel Pintar Kalian, Ada Derita Anak-anak Kongo
Jakarta -

Kobalt merupakan salah satu bahan untuk membuat ponsel pintar. Hasil tambang tersebut salah satunya berasal dari tambang di Republik Demokratis Kongo. Namun, ada fakta menyeramkan dari tambang ini. Lebih dari 40 ribu anak Kongo harus berpeluh memikul beratnya kobalt tiap hari selama 12 jam penuh dengan upah maksimal US$2 (Rp 27 ribu).

Hal tersebut terungkap setelah 87 penambang dari lima tambang kobalt di Kongo diwawancara Amnesty International dan tim peneliti Afrewatch. Sebanyak 18 pedagang kobalt juga menjadi narasumber dalam wawancara tersebut.

"Saya bisa bekerja 24 jam penuh, datang pagi pulang keesekon pagi. Ibu angkat saya ingin saya sekolah namun ayah angkat saya memaksa saya bekerja," kata Paul, salah satu penambang berusia 14 tahun kepada Amnesty USA.

Paul mengaku sudah bekerja selama dua tahun dan ia rutin sakit karena beban kerja tak manusiawi. Ironisnya, eksploitasi anak semacam ini bukan lagi hal aneh di Kongo, terutama di industri tambang kobalt.

Kobalt sendiri merupakan bahan untuk baterai ponsel pintar. Afrika Tengah dikenal sebagai produsen kobalt terbesar dunia. Apple, Samsung, dan Microsoft merupakan nama perusahaan yang menggunakan baterai lithium dari kobalt hasil eksploitasi anak-anak di Kongo.

Beberapa perusahaan lain yang menggunakan kobalt dari Kongo adalah Huayou Cobalt yang merupakan salah satu pedagang kobalt terbesar pemasok komponen baterai litium, selain Ningbo Shanshan dan Tianjin Bamo dari Tiongkok serta L&F Materials dari Korea Selatan

Pada 2013, ketiga perusahaan itu membeli lebih dari US$90 juta (Rp 1,2 triliun) kobalt dari Huayou. Meski demikian, kesejahteraan para penambang kobalt tetap tak terjamin.

Keuntungan akhir yang mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun tak bisa dibandingkan dengan upah anak-anak penambang di Kongo. Setahun saja, maksimal mereka hanya mendapat US$712 (Rp 9,9 juta). "Industri tambang merupakan tempat kerja terburuk bagi anak-anak mengingat bahaya kesehatan dan keamanan yang timbul," kata tim peneliti dari Amnesty International Mark Dummet.

Setidaknya saat ini ada 16 perusahaan teknologi yang menggunakan kobalt dari Kongo, termasuk Ahong, Apple, BYD, Daimler, Dell, HP, Huawei, Inventec, Lenovo, LG, Microsoft, Samsung, Sony, Vodafone, Volkswagen dan ZTE. Lewat jalur diplomasi, Amnesty International dan Afrewatch meminta pemerintah menetapkan regulasi yang mengikat. Mulai dari jajaran industri tambang, pemasok, hingga pabrikan ponsel pintar.

Source: smart-money.co

(adv/adv)
Berita Terkait