Kafe BCA, Tempat Wiraswasta Muda Berbagi Inspirasi

Kafe BCA, Tempat Wiraswasta Muda Berbagi Inspirasi

Advertorial - detikNews
Senin, 25 Jan 2016 00:00 WIB
Kafe BCA, Tempat Wiraswasta Muda Berbagi Inspirasi
Foto: adv
Jakarta - Ingin merangkul wiraswastawan muda Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menggelar ajang talkshow Kafe BCA untuk pertama kalinya. Digelar Rabu (13/1) lalu, Kafe BCA kali ini mengangkat tema "Potensi dan Tantangan Generasi Muda sebagai Pelaku Usaha". Ada empat narasumber yang dihadirkan siang itu.

Mereka adalah Yenny Wahid, Yasa Paramita Singgih, Elihu Nugroho dan Yudan Hermawan. Masing-masing memiliki kisah yang luar biasa inspiratif. Presiden Direktur BCA – Jahja Setiaatmadja hadir siang itu untuk membuka acara, didampingi oleh Sekretaris Perusahaan BCA – Inge Setiawati.

Pemberdayaan Akar Rumput a la The Wahid Institute

Yenny Wahid yang merupakan Direktur The Wahid Institute itu berbagi cerita tentang program Pemberdayaan Akar Rumput. Menurut Yenny, salah satu penyebab tingginya tingkat kekerasan dan gesekan antarsuku di beberapa daerah di Indonesia adalah masalah ekonomi.

Maka dari itu, masyarakat akar rumput dibimbing agar dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga. The Wahid Institute memberikan bimbingan tentang pengelolaan uang yang benar, workshop keterampilan dan pendampingan dalam membuka usaha. Untuk kebutuhan permodalan, masyarakat bisa memperoleh pinjaman di koperasi.

Memulai Bisnis Sejak Usia 15 Tahun

Sementara Yasa Paramita Singgih menginspirasi seluruh peserta Kafe BCA dengan kisahnya yang merintis usaha sejak masih berusia 15 tahun. Awalnya Yasa mulai ingin berbisnis karena sang ayah yang sakit jantung namun enggan dioperasi karena memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya.

Lalu pria kelahiran tahun 1995 ini memutar otak agar bisa membantu orangtua. Dia membeli pakaian di Tanah Abang untuk dijual lagi secara online. Dari yang tadinya hanya sebulan sekali ke Tanah Abang, jadi seminggu tiga kali. Untung yang diperoleh, diputar lagi terus menerus.

Hingga dia memutuskan membuat brand sendiri yaitu Men's Republic yang omzetnya melampaui Rp 100 juta per bulan. Sekarang dia bisa membiayai kuliahnya sendiri dan bisa memberikan 'uang jajan' ke orangtua. "Bagi saya untuk mulai usaha butuh dua hal. Untuk memulai, butuh keberanian. Untuk mengembangkannya, kita butuh keilmuan," ujar Yasa.

Valo, Cuci Mobil Tanpa Air dan Pemberdayaan Karang Taruna Desa Pindul

Kisah lain yang tak kalah inspiratif datang dari Elihu Nugroho – COO Valo Waterless Car Care. Bersama dua temannya, Elihu ini menghadirkan jasa cuci mobil tanpa air untuk pertama kalinya di Indonesia. Sehingga cuci mobil bisa dilakukan di mana saja. Dengan metode seperti ini, Valo tidak hanya unik dan memiliki nilai tambah, namun juga membantu menghemat konsumsi air bersih.

Sementara itu, kisah Yudan Hermawan agak berbeda. Pria kelahiran tahun 1989 ini merupakan Ketua Karang Taruna Goa Pindul (Desa Wisata Binaan BCA). Dengan bantuan BCA, Yudan berhasil mengubah Goa Pindul yang tadinya sepi jadi obyek wisata yang luar biasa populer.

Yudan juga berhasil menggerakkan pemuda-pemuda setempat yang dulunya menganggur, sekarang hampir semuanya kerja. Tentunya banyak tantangan dihadapi pria kelahiran asli Gunungkidul itu. Warga setempat yang dulu mayoritas bekerja sebagai petani, sekarang harus melayani wisatawan dengan ramah.

Usai mendengarkan sharing inspiratif dari para narasumber, peserta Kafe BCA dari kalangan mahasiswa tampak antusias melontarkan pertanyaan. Belasan mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia diundang untuk hadir siang itu sebagai peserta Kafe BCA perdana. (adv/adv)

Berita Terkait