Perlambatan Ekonomi Bisa Diatasi dengan Peningkatan Kualitas SDM

BCA Indonesia Knowledge Forum 2015

Perlambatan Ekonomi Bisa Diatasi dengan Peningkatan Kualitas SDM

advetorial - detikNews
Senin, 19 Okt 2015 00:00 WIB
Perlambatan Ekonomi Bisa Diatasi dengan Peningkatan Kualitas SDM
Jakarta -

McKinsey Global Institute sempat memproyeksikan bahwa di tahun 2030 Indonesia dapat bertumbuh menjadi negara terbesar ketujuh di dunia. Namun, melihat kondisi perekonomian Indonesia saat ini, banyak yang menjadi ragu akan validitas proyeksi tersebut.

Perekonomian tanah air saat ini memang tengah terlempar ke posisi yang cukup rendah. Perlambatan terjadi di beberapa sektor penting seperti komoditas, rupiah melemah drastis terhadap dollar Amerika, nilai tukar melonjak menyentuh angka nyaris Rp 15.000,-. Masyarakat pun dirundung rasa pesimis.

Sebenarnya apa yang terjadi, dan bagaimana untuk selamat dari kondisi perlambatan ekonomi seperti saat ini? A. Prasetyantoko, ekonom yang juga adalah pengajar di Fakultasi Ekonomika dan Bisnis UNIKA Atma Jaya memaparkannya dalam acara Indonesia Knowledge Forum 2015.

"Ekonomi itu siklus, yang berarti lemah tidak selamanya lemah dan kuat tidak selamanya juga kuat. Pengaruhnya banyak, beberapa di antaranya kondisi ekonomi global, The Fed dalam hal suku bunga, harga komoditas yang turun hingga pengeluaran pemerintah. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah apakah kita sudah menyentuh bottom line atau titik terendah? Mungkin belum," ujarnya.

Namun ia mengatakan hingga tahun 2016 mendatang pelaku bisnis dan masyarakat Indonesia tampaknya masih harus berjaga-jaga. Dinamika ekonomi Indonesia akan sangat terpengaruh oleh perbaikan ekonomi makro Tiongkok yang akan mempengaruhi harga komoditas, perbaikan ekonomi global dan kenaikan suku bunga The Fed yang belum tahu kapan akan terjadi. Mengingat kondisi ekonomi saat ini lebih banyak krisis dibandingkan stabil. Sebagai bangsa tentunya kita harus tahu bagaimana cara menghadapinya.

Ia mengatakan ada dua dikotomi yang terjadi di Indonesia terkait dengan ekonomi yaitu bertumbuh atau stabil. Agenda pemerintah, menurutnya tentu akan mengutamakan pertumbuhan. Sementara Bank Indonesia, sebagai regulator dan badan independen akan menyarankan stabilitas dengan mempertahankan suku bunga. Dikotomi tersebut menimbulkan friksi antara kedua lembaga mengenai kebijakan mana yang harus diterapkan.

"Dalam kondisi ekonomi seperti saat ini kebijakan yang harus diambil tampaknya adalah yang berorientasi pada stabilitas. Baik pemerintah maupun pelaku usaha sepertinya harus menahan dulu keinginan untuk bertumbuh. Selain itu satu solusi lagi yang mungkin tidak pernah diangkat sebagai isu utama adalah human capital, atau daya saing SDM," ujarnya lagi.

Isu infrastruktur dan lain-lain sepertinya menenggelamkan masyarakat dan pemerintah sehingga peningkatan daya saing manusia Indonesia luput dari perhatian. Hal ini tentunya miris mengingat saat ini Indonesia berada di peringkat yang cukup rendah dari segi literasi, kemampuan berhitung dan ilmu eksakta.

Indonesia yang seharusnya dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand malah tertinggal oleh Vietnam dan Laos. Padahal dua negara tersebut baru saja mulai membangun. Fakta ini cukup mengherankan mengingat 20% APBN sebenarnya telah dialokasikan untuk sektor pendidikan.

"Human capital ini penting karena core dari setiap negara yang level perkembangannya tinggi adalah pada manusianya. Mentalitas dan kompetensi manusia Indonesia harus ditingkatkan. Selain itu kita butuh pemerintah yang hands-on, terjun langsung membenahi apa yang perlu dibenahi," tutupnya. (sfq/sfq)


Berita Terkait