Indonesia adalah negara yang sangat beragam baik dari suku, budaya, adat istiadat hingga agama. Beruntung negeri ini dibekali dengan sebuah ideologi dasar yang menyatukan semua perbedaan dalam kesatuan yaitu Pancasila. Namun apakah penerapan kebhinekaan dalam Pancasila sudah baik? Mudah saja mengukurnya. Coba perhatikan saja seberapa besar kekerasan yang dimulai dari isu perbedaan terjadi di Indonesia.
"Kenyataannya di Indonesia mudah sekali mengekspresikan kebencian. Intoleransi terhadap perbedaan agama jadi tren dan dengan mudah berubah menjadi radikalisme," ungkap Yenny Wahid, putri mantan presiden RI ke-4, KH. Abdurahman Wahid yang juga Direktur Wahid Institute pada Kamis (8/10) lalu hadir sebagai pembicara dalam Indonesia Knowledge Forum 2015.
Tetapi menurut riset di berbagai negara, kekerasan yang ditimbulkan oleh perbedaan agama sudah menjadi momok di seluruh dunia. Ketidak selarasan dan intoleransi tersebut jika diadopsi oleh bangsa Indonesia, menurut Yenny, akan menjadi penghambat perkembangan dan kemajuan negara.
Karena itu, tokoh wanita yang dinobatkan sebagai Global Young Leader oleh Forum Ekonomi Dunia ini terus memperjuangkan perdamaian melalui The Wahid Institute. Sebuah lembaga untuk mewujudkan prinsip dan cita-cita sang ayah yang sangat menjunjung tinggi pluralisme, multikulturalisme dan toleransi.
Secara aktif, Yenny bersama The Wahid Institute menggelar kegiatan di lingkungan aktivis muslim progresif, seperti dialog antar umat beragama. Selain itu, mendorong terjadinya komunikasi harmonis antar tokoh agama dan politik dunia.
Di dalam negeri, The Wahid Institute juga menjadi penggerak kaum wanita untuk menjadi agen perdamaian di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Langkah nyatanya adalah sosialisasi perdamaian untuk kaum wanita yang dilakukan tahun 2014 lalu, bertepatan dengan peringatan International Day of Peace. Agnes Monica digandeng The Wahid Institute sebagai duta perdamaian.
"Kita harus membangun koherensi atau keselarasan satu sama lain untuk membangun. Caranya dengan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan diri," ucap Yenny.
Keberagaman di Indonesia harus dipahami sebagai sebuah kekayaan dan sebagai sebuah identitas. Indonesia pada dasarnya memang adalah negara yang plural. Untuk itu, terkait dengan radikalitas agama, ia berharap seluruh anggota masyarakat dapat kembali ke identitas kebhinekaan Indonesia. Beragama dengan mengedepankan kultur Indonesia.
Salah satu contoh beragama dengan mengedepankan budaya lokal adalah tradisi-tradisi terkait dengan hari raya keagamaan yang hingga saat ini masih bertahan. Misalnya saja seperti tradisi gadong pela di Ambon, halal bihalal, sekaten dan masih banyak lagi. "Perlu peran pemerintah baik di pusat maupun daerah, untuk mendorong keberlangsungan tradisi ini. Jika tidak, toleransi antar agama dan suku akan benar-benar hilang dari Indonesia," tutupnya.(sfq/sfq)











































