Visi Dexa Medica dan Arwana Citramulia Untuk Berkontribusi Bagi Negara

Indonesia Knowledge Forum 2015

Visi Dexa Medica dan Arwana Citramulia Untuk Berkontribusi Bagi Negara

advetorial - detikNews
Senin, 19 Okt 2015 00:00 WIB
Visi Dexa Medica dan Arwana Citramulia Untuk Berkontribusi Bagi Negara
Jakarta - Jika bertanya, seperti apa usaha yang baik? Tentunya kebanyakan orang menjawab, usaha yang memberi profit tinggi. Tetapi berbeda dengan Ferry Soetikno dan Tandean Rustandy. Dua pengusaha yang memimpin perusahaan berskala multinasional, Dexa Medica dan PT. Arwana Citra Mulia.

Keduanya bergerak di bidang industri yang berbeda tetapi punya kesamaan nilai yang dianut dalam menjalankan usahanya. Mereka tidak ingin sekedar mengenyangkan perut pribadi tetapi ingin usaha yang dijalankannya memberi makna bagi setiap anggota masyarakat dan berkontribusi bagi negeri. Nilai inilah yang mendasari setiap keputusan usaha, inovasi yang mereka lakukan dan produk-produk yang diciptakan.

"Saya rasa membangun usaha itu perlu core bisnis yang jelas dan visi yang baik. Dexa Medica berawal dari visi ayah saya, Rudy Soetikno, yang adalah seorang prajurit, sekaligus apoteker. Bukan profit tapi bagaimana cara supaya orang-orang di Palembang di mana saat itu ia bertugas, dapat memperoleh suplai obat yang cukup," ujar Ferry Soetikno pada sesi plenary di hari pertama pelaksanaan Indonesia Knowledge Forum 2015.

Rudy pada tahun 1969 kemudian melakukan sebuah terobosan bersama teman-temannya. Memanfaatkan teknologi sederhana yang saat itu belum banyak dipakai, ia membuat tablet obat sederhana. Inilah yang menjadi tonggak perkembangan Dexa Medica yang kini berhasil mengembangkan produksi obat-obatan berkualitas tinggi dengan teknologi mumpuni.

"Nilai yang kita pegang sampai saat ini masih sama yaitu berorientasi pada pasien. Kita ingin tiga hal tercapai. Obat mudah dijangkau, ketersediaannya cukup dan satu lagi terjangkau dari segi harga bagi masyarakat Indonesia. Dengan begitu, kita memberi kontribusi secara ekonomi, sosial dan teknologi," lanjutnya.

Kini Dexa Medica telah memiliki pabrik-pabrik berkapasitas besar yang hasil produksinya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga banyak negara di dunia. Dexa Medica juga telah memiliki pusat riset sendiri untuk menopang produksi obat-obatannya. Beruntung pasar farmasi di Indonesia begitu subur sehingga Dexa Medica ikut terdorong maju.

"Pasar farmasi terbesar di Asia adalah Indonesia. Banyak perusahaan farmasi dari luar yang mau masuk ke Indonesia. Daya saing sebagai pemain lokal tentu harus tinggi. Karena itu tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita memiliki SDM yang berkualitas untuk terus menciptakan inovasi. Produk obat kita harus efektif, aman, terjangkau, dan distribusinya merata," terang generasi penerus Dexa Medica ini.

Sejumlah terobosan yang sudah dilakukan Dexa Medica antara lain adalah obat-obatan berbasis phytopharmacy (berbahan alami) seperti Stimuno, OGB Dexa, yaitu manufaktur obat berharga terjangkau yang menjadi partner BPJS Kesehatan, dan pabrik obat kanker lokal pertama yang baru saja dibuka 2014 lalu.

"Semua obat adalah hasil penelitian sendiri, ada pusat riset yang kita punya. Kekayaan intelektual ini sangat berharga dan visi yang kita miliki juga harus dijaga. Caranya adalah dengan menjadikan visi dan value yang dibangun di awal sebagai budaya," pungkas Ferry.

Visi yang hampir senada juga disampaikan oleh Tandean Rustandy sebagai founder dan pemimpin PT. Arwana Citra Mulia. Perusahaan manufaktur keramik berkualitas, ramah lingkungan dan berharga terjangkau.

"Jangan bangga jika berhasil membangun usaha untuk kenyamanan pribadi, apalagi jika mengambil kesempatan dari celah-celah legal di Indonesia. Kita bangun usaha fundamentalnya harus baik. Budi pekerti tidak boleh dilepaskan," ujarnya.

Ingin berkontribusi kepada negara, PT. Arwana Citra Mulia sengaja membangun pabrik-pabriknya di daerah-daerah yang belum terjamah dan menyerap 99% tenaga lokal. Tujuannya untuk menggairahkan perekonomian mikro. Selain itu untuk mengubah mentalitas dan meningkatkan daya saing masyarakat sekitar.

Sejumlah CSR juga dilakukan untuk memperbaiki dan memberdayakan masyarakat di wilayah terpencil untuk memelihara sarana-sarana publik yang mereka punya. "Apa yang orang asing bisa lakukan untuk negara kita? Harus kita sendiri yang bergerak, mengubah pola pikir dan bangga akan negeri sendiri. Dengan begitu kita tidak akan terjajah," ujarnya.

Good corporate governance juga terus diterapkan dengan proses-proses produksi inovatif yang ramah lingkungan. Agar distribusi merata dan harga lebih murah, pabrik dibuat tersebar di wilayah strategis agar transportasi hasil produksi tidak sulit.

Sebagai penutup hari pertama IKF 2015, Deddi Tedjakumara, Executive Learning Institute Universitas Prasetya Mulya menyoroti dua hal penting dari seluruh pembicara yang hadir saat itu. Pertama adalah bagaimana setiap pengusaha yang hadir berhasil menciptakan prospek usaha dan kedua bagaimana mereka menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam setiap hal yang dilakukan.

"Prospek adalah peluang dikali dengan kualitas atau kemampuan sumber daya manusia untuk mengambilnya. Mengapa dikali? Karena dalam perkalian jika salah satunya nol maka semua akan jadi nol. Orang luar bilang peluang Indonesia sangat besar, tapi apa artinya jika kompetensinya belum ada. Peluangnya dimanfaatkan orang lain," ujarnya.

Ia mengatakan karena itulah sangat penting untuk mendidik bangsa, dalam artian bukan sekolah tetapi memberi arahan, mengenai semangat seperti apa dan sikap seperti apa yang harus dimiliki. Ciri orang Indonesia, cara berpikir orang Indonesia belum jelas saat ini. Ini bukan pekerjaan mudah dan bukan tugas pemerintah saja tetapi semua. Apa yang dilakukan pengusaha-pengusaha yang hadir saat itu sudah cukup baik.

"Satu hal yang menarik di sini adalah bagaimana semua pembicara, meski tidak secara jelas menegaskan bahwa mereka bangga memiliki usaha yang bermakna. Mereka tidak bicara profit atau berapa jumlah pabrik, tapi apa yang bisa mereka lakukan untuk bangsa. Tidak materialistic saja tapi nilai-nilai budi yang lain dihidupkan," pungkasnya. (sfq/sfq)



Berita Terkait